artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MENJADI PEREMPUAN PEMBANGKANG


By on 19.11.13

CATATAN DISKUSI NURANI PEREMPUAN TENTANG TUBUH-TUBUH DAN GLOBALISASI

Saat ini setidaknya di Kota Padang sa­ngat sulit kita mencari kepala perempuan yang bebas dari tusukan jarum atau untaian manik-manik dan segala ak­sesoris lainnya, terutama pada jam-jam kerja. Perempuan PNS, perempuan guru, perem­puan dosen, perempuan maha­siswa, perempuan dokter, perempuan politik, siswi sekolah rata-rata berdandan cenderung sama; Rambut di kucir tinggi lalu dibungkus dengan kain berbahan kaos yang diikat ketat. Belum cukup puas dengan tutup seperti itu, rambut dan kepala ditimbuni lagi dengan jilbab warna warni dan dipaku de­ngan peniti rumbai-rumbai, alasannya: Modis.

Tetapi dari mana mun­culnya keinginan tampil modis dengan jilbab ala India dan Timur Tengah setidaknya India/Timur Tengah yang mereka imajinasikaan itu?

Ini jelas tak ada hubu­ngannya langsung dengan perintah tuhan tetapi ini erat kaitannya dengan Perda ber­busana muslim yang ada di kota ini. Perda itu telah mengkondisikan tubuh perem­puan dalam pengawasan penguasa, un­tuk tampil seba­gai­mana yang dikehendaki; Berjilbab. Ketika tekanan ‘wajib jilbab’ muncul berba­rengan dengan keharusan untuk tampil modis yang gencar dikampanyekan media, maka muncullah bera­gam gaya orang dalam berjil­bab. Inilah yang dipandang sebagai bentuk kreatifitas. Tetapi sesungguhnya itu tak lain dari kreatifitas yang lahir dari kungkungan.

Bermula dari Perda-Perda yang dibuat oleh penguasa, kehidupan masyarakat kota Padang ini kemudian menjadi terkendalikan dalam sebuah sistem pengawasan (surveil­lance) global. Kita seolah-olah berada dalam sebuah penjara yang sipirnya adalah kita sendiri. Bayangkan saja, betapa menyedihkannya kondisi ter­sebut. Tiba-tiba saja kita merasa canggung jika anak-anak kita pergi ke sekolah tanpa jilbab, merasa bersalah ketika pergi ke kantor tidak membungkus kepala dengan jilbab tetapi tidak me­rasa terganggu ketika jilbab itu digantung selepas jam sekolah atau jam kerja dan meng­gantinya dengan pa­kaian mu­sim panas yang serba longgar dan terbuka jika ingin ke warung atau berbual dengan tetangga.

Memang hal ini tam­paknya sederhana dan seolah-olah bersesuaian dengan perintah agama, tetapi se­sungguhnya di balik itu ada sebuah jebakan yang telah disiapkaan oleh pemegang kekuasaan yang sangat sadar bahwa tubuh sesungguhnya adalah keku­atan. Karena itu wacana pengaturan tubuh baik tubuh sosial maupun tubuh individu sangat pen­ting. Tubuh perlu dikontrol dan diawasi serta didi­sip­linkan agar mudah ‘diken­dalikaan’. Itulah yang sedang dialami oleh manusia, dan sesungguhnya yang paling rentan dalam pengaruh peng­awasan ini adalah tubuh perempuan. Lalu siapa yang muncul sebagai hero (yang mengeruk keuntungan) diba­lik semua fenomena ini? Tentu saja pembuat pera­turan. Kondisi ini kemudian diklaim oleh penguasa seba­gai keberhasilan mereka mengatur masyarakat. Kepa­tuhan masyarakat menjadi modal untuk memperta­hankan kekuasaan.

Pembicaraan-pembica­raan di atas mengemuka dalam diskusi bertemakan tubuh perempuan dan globa­lisasi yang digelar LSM Nurani Perempuan (NP), Jumat (6/4) lalu. Dalam diskusi yang dihadiri oleh para aktivis pe­rempuan, aka­demisi dan bu­dayawan tersebut, Drs. Fadlillah.M.Si, dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unand Padang yang hadir sebagai pembicara mengajak perem­puan untuk membebaskan dirinya dari kungkungan keku­a­saan yang meng­hegemoni tubuh perempuan lewat penge­tahuan. “Diperlukan sebuah sistem pendidikan yang mem­bebaskan. Perlu ada sekolah untuk perempuan,” ujar Fa­dlil­lah dalan closing state­mentnya.

Tekanan yang tercipta dari sebuah sistem otoritas hannya bisa dibongkar dengan me­wacanakan hal baru yang mencerahkan. Perempuan harus diajak keluar dari lingkaran kekuasaan yang mengkonstruksi kehidupan mereka dan kemudian mem­bebaskan mereka dari tuhan-tuhan palsu yang berwujud pemerintah, senat dan perda-perda, demikian pendapat Dra. Ranny Emilia M.Phil, akademisi dari FISIP Unand. “Kerusakan masyarakat ini sudah sistemik. Kita harus melawannya dengan mende­konstruksi sistem yang ada. Membongkar kekeliruan berpi­kir pemerintah, akade­misi dan politikus yang tampil sebagai pemegang kekuasaan yang korup. Pe­rem­puan mesti mengambil peran dalam pro­ses dekons­truksi ini,” ujarnya antusias.

Rezki Khainidar dari Yaya­san Anak Indonesia berpen­dapat bahwa penguasaan terhadap tubuh sebenarnya tidak hanya terhadap perem­puan, tetapi juga terhadap anak-anak dan lelaki. “Pokok­nya disemua lini kehidupan kita telah dijajah oleh sistem kekuasaan besar. Bahkan untuk melahirkan anak saja yang merupakan proses sa­ngat alamiah, kita tidak punya kesanggupan lagi. Sega­lanya harus dengan keputusan dokter. Tuhan kita telah diambil alih. Rukun iman kita juga telah ber­tam­bah!” ujar dokter yang memutuskan jadi aktivis ini.

Melengkapi wacana yang berkembang dalam diskusi, Rusli Marzuki Saria menge­mukakan bahwa yang harus diupayakan adalah memuncul­kan sikap kritis perempuan. “Perempuan itu mestinya jadi pembangkang. Jangan menu­rut saja,” ujar penyair yang akrab dengan sapaan Papa ini. Dengan membangkang terhadap arus utama yang deras, maka perempuan bisa membebaskan dirinya. Tidak terbawa arus begitu saja. Hal inilah yang menurut Papa belum banyak muncul di Padang.

Menanggapi Papa, Jend­rius, kandidat doktor Univer­sitas Malaya berpendapat bahwa yang sangat perlu dibebaskan itu adalah perem­puan kelas menengah yang ada dalam sistem birokrasi pemerintahan, karena berda­sarkan penelitian, merekalah yang sangat rentan di penga­ruhi, karena mereka berada langsung di bawah naungan sistem sekaligus menjadi agen (aktor) dari sistem tersebut. Ini menunjukkan bahwa sis­temlah yang membuat perem­puan tak berdaya. Buktinya One-One pedagang sayur di Pasar Raya malah tidak terpengaruh oleh segala ma­cam model jilbab tersebut. Mereka, kaum perempuan yang dipan­dang kelas bawah itulah yang berani membangkang pada pemerintah juga terhadap sistem besar yang jauh lebih mapan. “Bahkan menceraikan suami yang tidak memberikan penghasilan, atau menikah sampai tiga-empat kali bagi mereka hal biasa. Coba, mana ada perempuan kelas mene­ngah yang seberani mereka?” tunjuk Jendrius yang bekerja sebagai peneliti dan dosen di FISIP Unand.

Diskusi dengan tema-tema pembebasan di atas memang menarik untuk diikuti sebagai dinamika sosial. Persoalannya adalah, bagaimana membawa ide-ide yang muncul saat diskusi ke dalam sebuah gerakan sosial yang mem­bumi. Di sinilah seringkali kelemahannya. Ide yang mun­cul menjadi impoten (layu) ketika dibenturkan dengan sistem yang sedang berjalan. Ada ‘kemalasan’ untuk berbu­at, ada rasa tidak berdaya ketika yang dituntut adalah kerja keras. Kalau sudah begini maka apa boleh buat.

Namun menurut saya, apa yang dilakukan oleh Nurani Perempuan, dengan menggelar diskusi seperti ini adalah sebuah kerja awal yang baik. Membuka ruang-ruang bagi publik (public space) untuk membicarakan masalah mere­ka, perempuan membicarakan tubuh mereka. Ruang publik penting sebagai tempat individu-individu merumuskan diri mereka sendiri, wujud dari perlawanan terhadap sistem dan kolonialisasi baru yang menjajah kehidupan.

Semoga saja LSM Nurani Perempuan dan LSM-LSM lainnya di kota ini mampu mengagendakan kegiatan diskusi-diskusi terbuka seperti ini secara rutin. Dan kita sebagai warga masyarakat jangan sampai melewatkan keberadaan ruang-ruaang diskusi tersebut. Inilah bentuk sederhana dari sekolah perempuan (Sakola Padusi) yang kita cita-citakan.


KA’BATI
(Penulis Novel Padusi dan Mahasiswa Sosiologi Pascasarjana Unand)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan