artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MANIFESTO DI-EWE (kepeleset lidah maksud sebenarnya DIY) #1


By on 26.10.13

I. Prologue

“He who fights with monsters might take care lest he thereby become a monster. And if you gaze for long into an abyss, the abyss gazes also into you.” Mereka yang bertarung melawan monster, sebaiknya berhati-hati karena ia, seseorang itu, berpotensi menjadi monster yang sama seperti yang ia lawan. Dan jika engkau menatap jauh ke sebuah jurang, maka sesungguhnya jurang itu juga ikut menatap kepadamu. Memperhatikan dirimu.” - Friedrich Wilhelm Nietzsche

Yuk ah capcuzzz.. (*harus di baca sepenuh hati dengan kelingking nge-trail lambang pergaulan). Saya mulai saja paparan ini dengan satu kutipan dari opa paling gelisah yang pernah saya kenal (ini kenal, tau dari buku ya cyin, bukan kenal akrab yang gemanaa gitchu). Opa galau ini, dengan bangsat menularkan kegelisahannya kepada saya dan mungkin banyak dari kita. Seberapa parah dia menulari saya dengan kegelisahan, sampai-sampai membuat saya berfikir bahwa mungkin seharusnya hari lahir si opa ini perlu ditasbihkan menjadi hari “galau internasional”. Hari dimana setiap kita sibuk gelisah. Gelisah apa saja. Bebas, yang penting gelisah. Gelisah soal tujuan hidup, gelisah soal tingkat kecerdasan romansa yang berkorelasi dengan status jomblo menahun. Gelisah lihat persediaan susu anak yang tinggal secuil, gelisah karena tukang jual ciu langganan sedang mudik atau gelisah besok mau beli “terusan branded” merk apa lagi. BEBAS lah, yang penting galau dan atau gelisah saja. Pokoknya pada hari itu semua orang wajib galau. Bicara soal galau, jadilah saya mulai menulis tentang Obscene Extreme Asia kemarin.

Menurut saya, terlepas dari ramainya pro-kontra yang mewarnai pelaksanaan obscene extreme kemarin. Mulai dari keterlibatan 711, hujan deras yang mengguyur areal venue, lalu moshpit penuh lumpur yang luar biasa, okupasi panggung oleh kontra-sosial, Di-EWE versi mike marjinal, insiden pemukulan curbie dan banyak lainnya. Membuat saya sekejap tersadar bahwa ternyata scene ini sudah lama memang kurang GREGET *muka MadDog-The Raid zoom in, sambil gigit cireng. Terasa betul, sudah lama sekali scene ini tidak di “tarik-ulur” perhatian dan emosinya oleh suatu momentum se-HIP obscene ini. Bagaikan jomblo bertahun-tahun dan lalu bertemu sang dewi pujaan hati. Rontok semua vroh rasanya sel-sel mati di tubuh kita ini. Tentunya bukan gugur sebelum berkembang, melainkan rontok untuk tumbuh kembali menjadi sel-sel romantis dengan kualitas gombalan yang lebih dahsyat dari sebelumnya. “Apa yang tidak membunuhmu akan membuat mu lebih gombal dari sebelumnya..” begitu kata opa. Dan semua pihak (orang lama, orang baru, punk lama, punk baru, punk elite, punk cokelat, hingga newbie-newbie ciklet bercelana gemes seperti saya ini) terlihat bersemangat ikut ambil bagian dalam pro-kontra obscene. Semua ide tumpah ruah, semua kegelisah riuh-redam dalam tunggang-langgang pembahasan menyoal obscene extreme. Suka atau tidak, inilah untuk pertama kalinya saya sebagai pelaku di scene merasakan lagi substansi semacam desah gairah atau dengan bahasa yang lebih porno “gelinjang“ dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di scene busuk yang sepakat sama-sama kita cintai ini. Ternyata scene ini memang masih hidup mas bro, menggeliat kuat, dinamis dan festive serta tentunya yang paling utama masih tetap GOMBAL. Ya..scene ini masih tetap berhasil menggombali saya untuk PERCAYA lagi.

Seperti kata kakak Tyler Durden yang saya temui tengah asik nyeruput slurpee di salah satu gerai waralaba kebanggan anak indonesia. Dia bilang “Stop the excessive shopping and masturbation. Quit your job. Start a fight. Prove you're alive.” Berhenti larut dalam penghamburan dan masturbasi, keluar dari repetisi dan lalu terjun bebas kedalam chaos, buktikan bahwa kamu masih hidup, buktikan bahwa kamu masih pantas hidup!! Dan dengan segala pergulatan, pertentangan dan pergolakan yang muncul.. Scene ini telah membuktikan kepada saya bahwa dia sesungguhnya memang masih hidup. Very much alive and kickin..

Hmm..lalu apa sih cyin yang sesungguhnya membuat peristiwa obscene extreme kemarin menjadi begitu berbeda? Berfikir mengenai hal itu, membuat saya sibuk menangkap semua ide yang seperti serangkaian huruf tak beraturan yang muncul dari ritual di ouija board (baca : papan arwah). Canggung dan terbata-bata seperti cenayang amatir di film Insidious 2, yang menurut seorang teman tidak ada seram-seramnya dibandingkan dengan jatuh-bangun kisah cintanya, saya mencoba merangkai satu demi satu makna yang tersirat dibalik kepingan teka-teki yang terserak diantara becek genangan lumpur pasca moshpit di ragunan malam itu..

Kontemplasi pinggir kasur yang melibatkan selinting ganja puntung sisa semalam ini akhirnya berhujung pada suatu konklusi yang sebetulnya sudah sedemikian familiar dengan keseharian saya. Seperti adegan flashback di film-film yang punya twisted ending, saya dibuat ingat lagi bagaimana caranya menyusun kepingan teka-teki yang sebelumnya terlihat begitu rumit, mungkin, kalau boleh saya pinjam kata-kata steve jobs, connecting the dots. Semua kejadian di obscene extreme kemarin, sesungguhnya berakhir pada satu muara yang sama dan mungkin juga disebabkan oleh satu sebab yang sama pula. Yakni : bagaimana prinsip-prinsip (Do It Your Self) dengan segala eksesnya yang bagi sebagian masih dipegang teguh, kemudian berbenturan dengan realitas dimana prinsip-prinsip terkait DIY termanifes hanya sebatas simbol-simbol yang diserap untuk semata menjadi bagian dari scene saja. tidak benar-benar dilakukan. Sebatas menitipkan semacam eksistensi diri pada resistensi dalam semangat DIY. Hanya simulasi prinsip-prinsip DIY yang tidak menggambarkan sama sekali kesejatian DIY itu sendiri *cailaah..

(brrrrr*ceritanya suara desir ombak terbentur bibir pantai) wah wah, tidak terasa kita sudah sampai di ujung dermaga.. Sebelum menyebrang, di titik ini saya tidak akan pernah bosan untuk mengingatkan teman-teman untuk segera berhenti membaca apabila kalian merasa siapa saya, seberapa tenar band dimana saya tergabung sebagai personil didalamnya, seberapa “WAH” kolektif tempat dimana saya terkait didalamnya, seberapa penting saya di lingkungan scene, atau seberapa-seberapa lainnya kemudian berafiliasi dengan kualitas tulisan dan atau isi pesan yang ingin saya sampaikan. Jika menurut kamu, semua hal diatas harus berkorelasi, mungkin kamu *serius deh, harus segera berhenti membaca sekarang. Dan jika kamu pada akhirnya memutuskan untuk menyeberang dan membakar dermaga beserta pulau tempat dermaga itu menempel. Tentunya, saat suasana di seberang sana tidak begitu membuat kamu nyaman.. ah, paling tidak, inikan pilihan yang tadi kamu tentukan sendiri.. Dan toh,masih akan ada perahu untuk kembali terombang-ambing, dan dermaga dan pulau dan semua didalamnya untuk kembali dibakar. Hahayy *apa seeh.

II. D.I.Y yang seperti apa? Masih perlu?

Nah, sebelum masuk lebih dalam pada pembahasan sok tahu soal Di-ewe..*eh, slip of the tounge (baca : keseleo lidah), maksud saya DIY bro..hehe. Mungkin lebih dulu kita kulik soal apa sih sebenarnya definisi DIY yang saya maksud dalam artikel ini. Semacam monster pokemon jenis apakah DIY itu?? Well, ini secara serampangan versi saya dibawah pengaruh alcohol level Dough stamhope, saya coba terjemahkan DIY atau Do It Your Self dalam termin ini menjadi :

“segala bentuk sikap, usaha dan semangat untuk menolak/meniadakan ketergantungan kita sebagai pribadi yang merupakan bagian dari scene ini terhadap apapun terkait korporasi, karena sebuah kesadaran bahwa apapun yang terkait dengan korporasi akan memunculkan sebuah devosi terhadap keuntungan maksimal, penghisapan, penindasan serta orientasi kepada hanya profit dan business interest yang abadi”

Dari definisi diatas, tentu DIY yang saya maksud bukanlah melulu sekaku menanam wortel diladang dan berburu rusa di alam bebas untuk bahan hidangan makan malam. Atau menyemai kapas dan berproses dari hulu ke hilir untuk memproduksi pakaianmu sendiri. Bukan yang semacam itu.

DIY itu juga tidak melulu terkait dengan simbol-simbol yang ada di scene ini saja lho. DIY juga bukan soal melakukan semuanya sendiri. DIY, bukan hanya soal membuat zine sendiri, membuat record label sendiri atau membuat merchandise sendiri. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kamu membedakan diri dengan para penindas. Kalau misalnya dari awal kamu ingin ber-DIY dengan membuat record label sendiri, bikin usaha sablon sendiri, atau mengelola distribution store yang isinya merch dari band teman-teman kamu sendiri, kemudian usaha kamu maju pesat, dan setelahnya kamu berubah menjadi ber-orientasi hanya profit, kamu menjadi rakus, kamu lupa esensi dasar yang dahulu menggerak-kan kamu untuk "melakukan sendiri" itu apa. Kamu lupa kenapa dulu kamu memilih untuk tidak bergantung pada suatu sistem yang menurut kamu penuh dengan ketidak-adilan dan eksploitasi. Yang kamu tau, sekarang usaha-mu maju pesat dan semahal apapun harga yang kamu tetapkan untuk rilisan yang dilempar ke pasar scene ini, pasti laku terjual. Dan ketika saat itu tiba, DIY-nya kamu akan dengan sendirinya kehilangan makna-nya. karena apa? karena kamu, telah memiliki ciri-ciri yang sama dengan subject penindas yang jelas bertentangan dengan prinsip dasar DIY. Kamu sudah bertransformasi menjadi borjuis kecil yang menggeruk keuntungan di scene. 

Kamu hanya memanfaatkan pasar yang seolah tidak tersentuh oleh pemasar besar, kamu hanya membuka pasar baru, segmentasi baru, positioning product baru. Kamu melihat scene ini sebagai peluang untuk memperoleh keuntungan, kamu mengkomodifikasi simbol-simbol dalam scene ini menjadi barang jualan kamu. Dari situ saja sudah jelas sekali, luntur DIY nya. DIY itu bukan hanya soal melakukan sendiri, tapi lebih dalam, memaknai mengapa harus "melakukan sendiri". Pesan apa sih yang sebenarnya ingin disampaikan dengan melakukan sendiri? Pesan perlawanan kah? Melawan siapa? Dan jika kamu sudah melakukan sendiri, tapi esensi kenapa kamu melawan-nya tidak ada, atau kamu sudah melakukan sendiri tapi kamu sama saja dengan sesuatu yang ingin kamu lawan. Buat apa repot-repot lagi ber-DIY bro?

Jangan sampai DIY-nya kamu itu dimotori oleh uang hasil menghisap teman-teman mu sendiri di scene. Scene ini jelas bukan untuk cari uang bro. Dari awal juga kamu sudah tau konsekuensi-nya masuk ke scene ini ya memang seperti itu. Oleh karena itu kamu harusnya sadar bahwa kamu harus kerja lebih keras di luar scene untuk membuat scene ini tetap steril dari apapun terkait korporasi (entah itu cara-cara korporasi dalam bentuk paling laten, atau bentuk paling fisik dari korporasi itu sendiri). kamu harusnya bisa membiayai DIY-mu sendiri. Buat basis ekonomi kolektif yang solid, dagang kuliner, koordinir areal parkir, hingga buat usaha simpan pinjam untuk sesama kawan di scene, atau segala bentuk kerja apapun yang mungkin dilakukan, asal jangan menghisap dari scene ini. Please banget jangan di scene ini.. Scene ini adalah rumah buat saya dan yang lain bro. Kamu boleh buang sampah dimana-pun kamu mau, asal jangan di rumah kami. 

Dari definisi diatas jelas, bahwa memilih untuk ber-DIY tentunya harus disertai dengan sebuah kesadaran penuh bahwa apapun yang terkait dengan korporasi pasti selalu saja berhujung dengan pengerukan profit yang maksimal, pokoknya apa-apa musti terkait dengan sebuah devosi (*devosi : suatu sikap bakti, pemujaan, menghamba kepada) terhadap keuntungan maksimal dan bersumbangsih terhadap kepentingan bisnis yang abadi. Semuanya harus bisa menjual, semuanya harus bisa dijual dan jika ingin kelihatan menjual, semua tentu harus bisa di-branding. Semua bentuk kerjasama, semua tawaran untuk berkolaborasi, segala macam bantuan pembiayaan, mau itu bentuknya fresh money atau bagi hasil penjualan tiket adalah sama saja. Semuanya tak lebih merupakan bagian dari strategi pemasaran ter-integrasi yang bertujuan untuk meningkatkan awareness (*awareness : pengetahuan mengenai) produk-produk jualan mereka, setelah awareness dari brand mereka tertanam dalam benak khalayak. Tentunya hal yang diharapkan berikutnya tak lain adalah dampaknya pada penjualan produk-produk mereka.

Dan lagipula semua uang yang dikeluarkan untuk “seolah” mensupport kegiatan di scene kita tidak lebih merupakan budget promosi yang memang “wajib” dihabiskan untuk mem-boost up (baca : mengangkat, mendorong) awareness dari brand mereka dikalangan public spesifik, dalam hal ini adalah remaja dengan kharakteristik khusus (yang tak lain adalah kita-kita di scene ini). Dan pilihan untuk menghabiskannya di dalam scene extreme musik adalah juga merupakan strategi yang didasari pada pertimbangan-pertimbangan pasar sesuai dengan segmentasi yang ingin digapai. Semua bentuk dukungan yang mereka berikan adalah bukan didasari pada keinginan untuk tulus mensupport scene ini. Mereka dengan halus sekali mengafiliasi produk-produk mereka pada simbol-simbol yang lekat dengan scene ini. Mereka dengan cermat memilih siapa diantara kita yang begitu menonjol dan berpengaruh, memilih diantara kita yang dianggap mampu mewakili simbol-simbol yang ada di scene ini untuk kemudian di kemas sehingga lebih layak diabsorb (baca : diserap) pasar.

Mereka mengkomodifikasi nilai-nilai baik dalam scene ini menjadi sebatas transaksi jual beli merchandise dan kasak-kusuk soal fee manggung. Mereka membujuk rayu kita untuk menjadi juru kampanye dari produk-produk jualan mereka, perpanjangan tangan untuk lebih dalam lagi merogoh masuk ke lubang pantat scene ini. Karena tidak ada yang lebih mengenal lubang pantat scene ini, selain kita. Mereka mentransformasi kita menjadi mesin-mesin pemasar, membaptis kita dengan tugas-tugas para influencer dan brand ambassador untuk dipenghujung program bertukar dengan predikat - predikat semakna Rising Star, Indie moguls, Young and Famous, Cutting Edgers atau apapun yang kamu inginkan.

Saya sudah lihat bagaimana para ceo, para pemasar ulung berjubah musang dengan erat segenggam kitab berisi jutaan trik psikologi, Para juru selamat dan messiah perangkat survey, para penginjil kultus merek dan craftmenship yang gentayangan seperti seven-eleven ini memberikan kita sejumput ilusi rasa nyaman dan perasaan akan penerimaan yang kental seperti duduk di sofa ruang tengah bersama keluarga. Mereka masuk, menghunus tepat dijantung titik terapuh dan fundamental dari diri kita. Mereka menyusupi kegelisahan kita. Mereka mengkomodifikasi keresahan kita. Memanipulasi kekhawatiran dan rasa takut. Mereka membasuh tangis dan kegalauan kita dengan ilusi ketenangan selevel senandung nina bobo ibu muda di penghujung malam yang syahdu. Mereka berbisik di telinga kita penuh bujuk rayu seperti desahan mesra seorang kekasih.

Saya sudah lihat bagaimana mereka menipu kita. Saya sudah lihat bagaimana kita dikomodifikasi dalam masturbasi mencumbu merek dagang dalam stensil berjudul wahana konsumerisme. Saya sudah lihat bagaimana mesin hasrat milik korporasi memberi makna pada sekumpulan jiwa-jiwa resah dalam kemasan cepat saji. Saya sudah lihat bagaimana negara ini diperintah oleh kemitraan korporasi raksasa, dimana elite pemilik perusahaan berkolaborasi dengan pejabat pemerintah merumuskan kebijakan-kebijakan yang tak pernah berpihak pada kepentingan rakyat.

Saya sudah melihat bagaimana para predator ekonomi ini memangsa yang lemah, saya sudah lihat bagaimana mereka bersiasat menyiapkan perangkap untuk mangsa-mangsa yang kurang beruntung. Hewan buas yang mencabik keluar satu persatu tulang rusuk siapapun yang menjadi mangsanya, menguliti seluruh tubuh mereka, sambil perlahan mengudap cuil-demi cuil daging yang tersisa dibalik kulit penuh luka sementara sang mangsa mengeliat merasakan tiap jengkal kesakitan yang menghampirinya dalam detik demi detik yang begitu lambat. Hingga hal terakhir yang kamu lihat adalah pantulan wajah takutmu yang meronta dalam kilau taring yang menyeringai dibalik rancu puluhan doa yang tidak pernah luput kau panjatkan. Detik demi detik. Lebih khusyuk dari doa ter-khusyuk yang pernah kamu panjatkan. Kamu berdoa agar tuhan segera mencabut nyawamu, menghapus semua perih dan kesakitan yang mengoyak jiwamu saat itu. Dan sisa bangkai pun adalah juga hidangan bagi burung-burung nazar mortgage loan yang sejak tadi dengan sabar menunggu giliran mereka untuk bersantap.

Tidak ada persahabatan, tidak ada pertemanan, tidak ada kejujuran dan loyalitas bila itu terkait dengan kepentingan bisnis dan profit. Tidak ada yang tulus mas bro. Jadi lain kali, kalau ada yang tanya : kenapa sih mas bro, kamu kok masih memilih untuk tetap ber-DIY? Jawabannya jelas adalah : Karena saya tidak ingin menjadi bagian dari bentuk penindasan yang selama ini saya lawan sendiri. Semudah itu.

Logikanya sangat sederhana : Jika kamu memilih berada di scene ini. Kamu seharusnya sadar total bahwa esensi dan semangat yang menggerakan dinamika scene ini adalah sesuatu yang sesungguhnya bertentangan dengan segala sesuatu terkait esensi dasar yang menggerakan industri mainstream dan korporasi kapitalis. Scene ini tercipta memang untuk menjadi sebuah oposisi dari korporasi kapitalis. Scene ini tercipta untuk berlawanan dengan mereka. Jadi jika kamu mengaku bagian dari scene ini, tapi tetap saja berangkulan mesra dengan korporasi atau menggunakan cara-cara dan pola penetapan harga yang sama busuknya dengan apa yang berlaku di industri mainstream. Maka secara otomatis, kamu sudah tidak lagi berada didalam domain scene ini. Ini mendasar sekali. Yang membedakan kita dengan mereka itu bukan cuma karena kita pakai jaket spike buluk dan celana rombeng yang banyak patchesnya dan mereka memakai dasi atau aksesoris-aksesoris branded dengan harga mahal. Yang membedakan kita dengan mereka adalah jelas dilihat dari esensi yang menggerakan kehendak kita untuk memilih mengapa kita ingin menjadi bagian dari scene ini. Jadi, kelihatan sibuk meng-agitasi teman-teman di scene tapi disisi lain memiliki record label berisi band-band yang menjual rilisan dengan harga mencekik adalah juga sebuah omong-kosong..

Pesannya jelas, meskipun kamu nge-dressnya total banget, gembelnya - gembel banget , militannya - militan banget tetapi menjual merchandise dengan harga begitu mahal dengan tujuan mengeruk keuntungan maksimal dari teman-teman lain di scene, ya kamu adalah sama saja dengan mereka-mereka yang ada di dalam korporasi dan industri kapitalis itu. Jadi kenapa musti repot-repot lagi melawan bro, bergabung saja dengan mereka, kalian toh sudah di domain yang sama. Menjadi jinak terhadap korporasi hanya akan menghilangkan label ancaman yang melekat pada scene ini, sama seperti menghilangkan bisa (racun) pada cobra. (baca Beberapa Alasan Amatir Mengapa Scene Harusnya Bersebrangan Dengan Apapun Yang Terkait Dengan Korporasi)

Nah, berbekal informasi tersebut, saya kemudian memilih untuk tidak dikait-kaitkan dengan mereka (baca : korporasi dan media kapitalis). Saya memilih tidak menjadi bagian dari rencana-rencana mereka untuk memanfaatkan teman-teman saya di scene ini demi memperoleh keuntungan-keuntungan yang sifatnya pribadi. Saya tidak ingin bersumbangsih dalam kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan. “Dan buat saya, disatu sisi memilih berangkulan mesra dengan para penindas sementara disisi yang lain sibuk meng-agitasi teman-teman di scene untuk berontak melawan subject (penindas) yang sama adalah tentu suatu bentuk pengkhianatan terbesar. Sebuah kebodohan yang sudah sedemikian bodohnya sehingga nilai-nilai yang begitu dipercayai sebagai suatu kebenaran tak lain adalah kebodohan itu sendiri. Sebuah blunder dalam bentuknya yang paling fatal" 

III. Dunning-Kruger Effect.

Mengapa saya katakan sebuah blunder dalam bentuknya yang paling fatal. Ya karena memang yang terjadi di scene hari ini adalah sesuatu yang sudah sedemikian rancu, sedemikian abu-abu, sedemikian minim dalam pembeda sehingga membuat masing-masing domain begitu sulit untuk di-identifikasi. Sebuah kesalahan atau “kesengajaan untuk salah” dalam menterjemahkan nilai-nilai yang benar, sehingga saat “salah” yang sudah sedemikian berulang ini bercampur dengan toleransi dan pembiaran, yang terjadi tentu adalah sebuah “blunder” luar biasa. Dimana kepalsuan akan bercampur dengan keaslian, tanda akan melebur dengan realitas dan sebagaimana dusta akan bersenyawa dengan kebenaran. Banyak dari kita kemudian menerimanya sebagai sebuah realitas yang sebenar-benarnya realitas. Blunder yang diserap menjadi suatu nilai yang mengandung kebenaran.

Pertanyaannya sekarang, lalu mengapa menjadi sangat sulit untuk dibedakan? Mengapa informasi tentang nilai yang benar tidak terdistribusi dengan baik? Mengapa perangkat nilai yang seharusnya mampu berdiri sebagai pembeda ini seperti tidak mampu menjalankan fungsinya bagi teman-teman di scene? Beberapa waktu lalu, saya menemukan artikel tentang sebuah studi yang dilakukan oleh David Dunning and Justin Kruger dari Cornell University terkait mis-kalibrasi (baca : ketidak-mampuan menemukan ukuran yang berfungsi sebagai pembeda) dalam menilai kompetensi. Studi ini saya rasa bisa sedikit banyak memberikan gambaran terkait apa sih yang menyebabkan informasi tentang nilai kemudian tidak terdistribusi dengan baik.

“People who are incompetent (bad at something) tend not to realize they are incompetent. In fact, they often believe they’re better or smarter than they really are.”

Orang-orang yang inkompeten cenderung tidak menyadari inkompetensi mereka. Mereka bahkan seringkali merasa lebih superior daripada orang lain. Mereka sangat tertutup dengan berbagai informasi yang masuk. Bahkan tak jarang menolak mentah-mentah informasi tersebut. Ada semacam lapisan inkompetensi yang sedemikian menebal, sehingga bahkan mereka sendiri tidak mampu menemukan variable untuk mengukur inkompetensi mereka. Mereka selalu percaya pada apa yang mereka pikirkan adalah sebuah kebenaran yang paling benar. Mohon maaf, secara kasar. Kebodohan yang sedemikian parah dan menebal, membuat mereka bahkan tidak mampu menemukan variable untuk mengetahui bahwa mereka sebenarnya bodoh. Nilai-nilai yang mereka anggap sebagai suatu kebenaran sebetulnya adalah juga nilai-nilai kebodohan itu sendiri.

Sementara disisi lain, “People with a high level of expertise tend to rate their competency lower. It might be because they assume others know as much as they do.”

Orang-orang yang cenderung lebih kompeten. Mungkin dalam konteks bahasan ini ,lebih memahami dan mengerti menyoal scene, justru cenderung menutup diri mereka dengan berbagai alasan. Hal ini disebabkan salah satunya, karena mereka merasa bahwa semua orang, memiliki kemampuan yang sama seperti mereka untuk mengakses informasi dan mempelajari berbagai hal. Mereka menjadi ragu untuk tampil di muka publik dan berbicara secara terbuka membahas hal terkait scene. Mereka menjadi semacam grogi dan rendah diri. Takut nanti dibilang sok tau, takut dibilang sombong, takut salah, dan berbagai alasan lain. Akhirnya informasi dengan kualitas baik yang mereka miliki tidak ter-distribusi dengan merata kepada teman-teman lain di scene. Penumpukan dan perputaran informasi hanya di kalangan mereka saja, akhirnya sedikit banyak membuat mereka menjadi kelihatan elitis. Faktor lain yang mungkin membuat mereka memilih untuk menarik diri atau enggan membagi informasi yang mereka miliki, adalah perasaan trauma dan kapok. Trauma mungkin saja muncul saat mereka (si kompeten) berusaha membagikan informasi yang mereka miliki kepada teman-teman lain di scene, dalam perjalanan, mereka kemudian bertemu dengan orang-orang yang inkompeten (dalam jumlah besar). Dapat dibayangkan yang terjadi setelahnya tentu adalah : Benturan. Dan benturan mengakibatkan trauma.

Buat mereka yang menjadi korban benturan, pesan moralnya tentu adalah : “Dalam kondisi masyarakat dimana efek dunning-kruger ini berada, jangan pernah meremehkan kekuatan dari kebodohan luar biasa yang diciptakan oleh orang-orang bodoh dalam jumlah yang besar” - George Carlin.

“One of the painful things about our time is that those who feel certainty are stupid, and those with any imagination and understanding are filled with doubt and indecision” Bertrand Russell (1951) - saya terjemahkan secara bebas, dengan grammar saya yang pas-pasan adalah sebagai berikut : Salah satu hal yang paling menyakitkan dari masa ini adalah orang-orang yang merasa yakin adalah mereka yang bodoh, dan sebaliknya orang-orang yang dipenuhi imajinasi dan pengertian mendalam tentang segala sesuatu adalah mereka yang diliputi dengan keragu-raguan.

IV. NATURE DARI KORPORASI ADALAH MENCARI KEUNTUNGAN (PROFIT ORIENTED)

Kita mungkin terjebak ditengah kondisi yang telah sedemikian carut-marut ini. Tersesat. Marah dan kecewa. Kita kehilangan pegangan. Saya mungkin sama seperti kamu, dan mungkin banyak teman yang lain, sedih sekali melihat banyak prototype di scene, yang dahulu mungkin turut membentuk saya dan perangkat nilai yang saya percayai saat ini (untuk tetap teguh mempraktekan etika DIY dan prinsip-prinsip anti korporasi) sekarang justru sibuk menari-berangkulan mesra dengan sesuatu yang dulu mereka lawan sendiri. Saat ini, mereka yang mengerti betul soal scene ini, kebanyakan malah menjadi ELITIS dan sisanya bertransformasi menjadi oportunis, tengkulak merchandiser dan parasit-parasit kecil yang rajin sekali menghisap di scene. Mereka mengangkat kepala tinggi-tinggi diantara teman-teman lain di scene, tetapi membungkuk seperti pesakit dihadapan korporasi dan media-media kapitalis.

Apa yang hingga saat ini kami jaga dan pegang teguh, buat sebagian lain mungkin hanya sebuah lelucon besar. Jangan-jangan, dari awal mereka memang tidak pernah menganggap hal ini sebagai sesuatu yang serius. Sikap anti korporasi dan media kapitalis, atau militansi yang menyelimuti prinsip-prinsip DIY yang bagi sebagian dipegang teguh, mungkin cuma sekedar gimmick buat sebagian lain. (*Gimmick : Pengalih, Umpan, biasanya sesuatu atau simbol-simbol yang dianggap menarik yang diserap dengan tujuan mendongkrak penjualan suatu produk).

Semuanya dirancang untuk sekedar memenuhi standar level militansi tertentu sehingga cukup keren untuk dilempar ke pasar. Berfokus hanya pada content dan kemasan, tapi minim sekali dalam esensi. Kosong dalam makna. Keniscayaan yang menggerakan terciptanya isi dan kemasan yang luar biasa ciamik itu seringkali datangnya hanya dari keinginan-keinginan agar “karya” yang nantinya membelah diri dalam bentuk rilisan dan merchandise, laku keras saat dilepas kepasaran. Mau nanti militansi yang kental dilekatkan pada content (baca : isi) karya itu akan sesuai dengan nilai-nilai yang melingkupi keseharian para penghasil karya, itu sih urusan paling belakangan. Yang penting MILITANSI harus terkesan stand-out (timbul diantara yang lain, di-embosed kalau perlu). BERONTAK DAN LAWAN harus ada di awal dengan huruf kapital. Urusan makna, esensi, serta kesesuaian dengan laku? Ah, kita diskusi kapan-kapan saja soal itu.

Militansi adalah gimmick. Semuanya nampak seperti positioning produk saja. Semua kadar dan measurement (ukuran) ala pemasar yang menyelinap dibalik rimbun semangat pemberontakan dan ilusi sebuah counter culture, cuma simbol yang dikonsum saja. Jargon-jargon melawan yang seringkali berdampingan dengan semangat anti korporasi dan media kapitalis diserap hanya kebentuk paling fisiknya saja. Sebuah simulasi dari militansi yang tidak menggambarkan sama sekali militansi itu sendiri. Kalau ingin dibilang punk misalnya, kawanan jadi berlomba-lomba meng”gembel-gembel”kan diri. Hatam sekali A sampai Z meniru simbol-simbol yang mudah ditiru dan menonjol, tetapi hilang dalam ESENSI. Takutnya, lari ke scene jangan-jangan cuma pembenaran untuk menjadi “wasted” saja. Pembenaran untuk menjadi malas dan bosan dengan yang biasa-biasa saja. Saat ini, scene jangan-jangan cuma hadir sebagai pilihan alternatif diantara : jujur konsum, setengah konsum, atau mau melawan tapi tetap konsum juga. Sama seperti memilih mau beli mentega merek Blueband atau second layernya seperti Forvita. Scene saat ini disimulasikan "mengancam" tetapi pada realitasnya mengancam hanya ke bentuknya yang paling fisik. Tidak ada “daya ancam” kecuali dalam bentuk penampilannya yang berada diluar kepantasan masyarakat normal pada umumnya. Spike jacket, jeans lusuh dengan banyak patches, tatto, potongan rambut yang tidak biasa. Sebegitu dominannya simbol-simbol ini di absorb tanpa turut melibatkan esensi, menyisakan satu-satunya ancaman dari scene kita hari ini hanya ada pada tatanan berpakaian atau dengan kata lain dandanan nya saja. Yang lain cuma letupan adrenalin ber-ekses kenakalan remaja dan atau kriminalitas akibat pengaruh alkohol. Lalu dimana mengancamnya?

Kalau sudah begini. Bukan korporasi yang sepenuhnya salah. Karena nature nya (insting dasarnya) korporasi memang adalah mencari peluang untuk sebesar-besarnya menghasilkan profit. Atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang, sekecil apapun peluang yang bisa mendatangkan profit pasti dikejar dan digarap. Dan ternyata militansi dan semangat pemberontakan kita ini laku dijual mas bro. Disadari atau tidak, ada PRICETAG di setiap jidat kita. Nah, kalau begitu jangan korporasinya yg kita minta jangan membidik scene ini sebagai komoditas jualan mereka, scene inilah yang harusnya imun (kebal) dari tipu daya dan bujuk rayu korporasi.

Bicara sedikit kasar, hari gini siapa ngga doyan duit mas bro? Belum lagi iming-iming terkenal dan segala kemudahan mengurus perizinan dan pembiayaan event. Saat desakan kebutuhan hidup mulai merangsek masuk ke ruang-ruang kepercayaan kamu, tinggal tunggu waktu kamu gadaikan semuanya demi mencukupi kebutuhan hidup kamu. Semua justifikasi dan pembenaran berlabel survive dan support melumat semua yang tersisa di ruang-ruang kepercayaan kamu.

Hal ini, hampir pasti membuat mereka yang dahulu rajin sekali melemparkan kritik-kritik pedas melawan korporasi dan media kapitalis, sekarang justru sibuk berangkulan mesra dengan hantu-hantu kapital yang dahulu mereka lawan sendiri. Mereka terdomestikasi. Keniscayaan seekor serigala, yang dibuat jinak sejinak kucing rumahan. Mengelu-elu simpati sambil bergelung ditapak kaki sang penindas, menunggu susu kadaluarsa dituang ke wadah makan yang telah bercampur dengan kotoran mereka sendiri. Memang scene ini yang memilih untuk tunduk dan membungkuk di depan korporasi. Memang scene ini yang memilih untuk kompromis. Dan itu di-amini secara lantang berjamaah oleh para apatis dan borjuis kecil pelaku scene plus tengkulak merchandiser. (*Apatis : acuh tak acuh, masa bodoh, cari aman, tidak perduli)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan