artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

JURNALISME SELERA RENDAH


By on 5.10.13

Saya masih merasa perlu menjadikan judul tersebut sebagai sebuah pertanyaan, bukan pernyataan karena berharap wajah pers Indonesia tidak seburuk seperti apa yang mungkin dipandang oleh sejumlah orang saat ini. Bahwa pers Indonesia adalah pers yang berwawasan tinggi yang menjalankan tugasnya dengan penuh kualitas dan mencerahkan masyarakat adalah harapan kita semua.

Tapi ketika membaca abstrak berjudul “The Faces of Indonesia Press From 1999-2011” di dalam Malaysian Journal of Communication, 27 (1) : 101-114, saya tertarik untuk membuka isi artikelnya secara penuh dan membandingkannya dengan apa yang saat ini dominan disajikan oleh media arus utama di Indonesia. Memang telaah tersebut mengambil ruang pembahasan wajah pers Indonesia antara tahun 1999-2011, tapi saat membacanya saya menemukan beberapa hal yang mungkin masih relevan digunakan sebagai kacamata untuk melihat seperti apa sebenarnya wajah pers Indonesia saat ini.

Sayangnya membaca uraian ilmiah yang ditulis oleh peneliti Indonesia bernama Erman Anom tersebut, kita harus menemukan istilah “Jurnalisme Selera Rendah” untuk mewakili wajah pers Indonesia pasca reformasi. Uraian itu juga memunculkan sebutan “Jurnalisme Plintiran” dan “Jurnalisme Talang Air” untuk menggambarkan fenonema yang marak menghiasai ruang pemberitaan pers Indonesia setelah era reformasi. Istilah-istilah tersebut bukanlah tanpa dasar. Jurnalisme Plintiran diberikan karena pers Indonesia dipandang terlampau mudah mengacak-acak batas antara opini dan fakta. Sementara Jurnalisme Talang Air bermakna bahwa pers Indonesia semenjak menemukan kebebasannya justru kerap melupakan tanggung jawabnya. Seperti talang air, pers Indonesia dianggap kebablasan karena gemar menuangkan informasi mentah dari sumbernya langsung ke halaman cetak atau layar televisinya tanpa memilah dan memperhatikan kondisi masyarakat maupun kepentingan bangsa dan negara. Apakah tepat atau tidak hal itu digunakan untuk merangkum wajah pers Indonesia mungkin boleh diperdebatkan. Tapi kita juga tak bisa menutup mata bahwa beberapa media massa di tanah air saat ini memang kerap mempraktikkan hal-hal seperti yang dijelaskan tersebut. Dan jika memang pers Indonesia saat ini sedang sakit, maka saya sepakat menggunakan istilah Jurnalisme Selera Rendah untuk menggambarkan masalah dalam wajah pers Indonesia saat ini.

Semenjak era kemerdekaan, kehidupan pers Indonesia mengalami 4 fase dengan wajahnya masing-masing mulai dari pers era nasionalisme, era Soekarno, Era Seoharto (1966-1998) hingga era Reformasi. Ketika era Soeharto berkuasa pers seperti anak yang dipelihara dan diatur untuk selalu menjadi anak manis yang penurut. Tak boleh berteriak kecuali menyapa dengan penuh hormat. Rezim Soeharto tumbang, pers pun menemukan kebebasannya. Sayangnya di saat mendapatkan kebebasannya, pers seolah ingin dilahirkan tanpa batasan-batasan yang menjaga langkah mereka. Akhirnya di saat mendapatkan kebebasannya, pers Indonesia mendapati permasalahan pada wajahnya seperti saat ini.

Jurnalisme Selera Rendah, boleh jadi memang bisa menggambarkan wajah pers Indonesia saat ini. Jurnalisme Selera Rendah gemar mengolah konflik, gosip dan segenap sensasi lainnya menjadi berita yang “asal laku dijual”, “asal banyak ditonton” atau “asal banyak dibaca”. Atas nama kebebasan, jurnalisme selera rendah menjadi tidak peka terhadap tanggung jawab, etika, kepatutan dan dampak negatif yang mungkin ditimbulkan dari produk yang dihasilkannya.

Dalam jurnal tersebut juga diungkap 4 penyimpangan yang kerap dilakukan pers Indonesia dan menjadi masalah utama pemberitaan pers Indonesia saat ini yaitu :

- Pers Indonesia sering menampilkan judul yang tidak sesuai dengan isi beritanya. Praktik semacam ini seringkali disengaja untuk menarik perhatian sekaligus mengundang emosi. Dengan judul-judul yang provokatif, pers Indonesia kerap menyajikan sebuah prasangka agar tampak seperti fakta.

- Atas nama obyektifitas dan kerahasiaan, pers Indonesia kerap berdalih “sumber informasi yang tak mau disebut namanya” untuk menutupi keadaan yang sebenarnya yakni sumber berita yang hanya “konon kabarnya”.

- Dominasi mayoritas membuat pers Indonesia susah merapikan wajahnya karena terlalu disesaki pendapat dari kalangan elit saja atau sekelompok golongan, tokoh dan pengusaha.

- Pers Indonesia dihadapkan pada masalah untuk membersihkan dirinya dari penyakit parah yang mulai dianggap lumrah. Banyak media massa di Indonesia gemar menyajikan laporan yang seolah-olah investigasi atau telaah padahal hanya isu tanpa interpretasi obyektif dan komprehensif.

Pers harus berbesar hati untuk melangkah bersama-sama dengan kawalan dan tanggung jawab yang menyertainya. Kebiasaan banyak media massa di Indonesia yang mengolah isu dan mengemasnya seolah-olah hasil “investigasi” dan hanya melengkapinya dengan rumor-rumor baru telah membuat mereka menjadi tidak bertanggung jawab. Ironisnya jarang ada media massa yang dengan penuh kerelaan mengakui kesalahannya. Hal yang kontras terjadi di beberapa negara maju.

Pers Indonesia perlu belajar untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada masyarakat seperti halnya Newsweek mengakui kekeliruannya karena memberitakan sesuatu yang terbukti salah terkait pelecehan Al Quran di Guantanamo. Jika di luar negeri yang masyarakatnya sudah jauh lebih terdidik, pers masih sanggup menjalankan perannya dengan berkualitas dan penuh tanggung jawab, maka di Indonesia yang sebagian masyarakatnya belum cukup terdidik, pers seharusnya mampu memainkan peran sebagai salah unsur pendidik masyarakat.

Sayangnya melihat apa yang disajikan oleh pers Indonesia saat ini, terutama beberapa media massa arus utama seperti TV dan membandingkannya dengan uraian dalam jurnal di atas, kita mungkin harus berbesar hati untuk menerima bahwa pers Indonesia belum sepenuhnya menampilkan kualitas yang profesional dan bertanggung jawab, apapun namanya entah Jurnalisme Talang Air atau Jurnalisme Selera Rendah, semoga tidak seburuk itu.

Judul aseli: Jurnalisme Selera Rendah, Beginikah Wajah Pers Indonesia Saat Ini?
Penulis: Hendra Wardhana

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan