artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

HOOLIGAN / HOOLIGANISME BUKAN MAINAN BUNG!!


By on 2.10.13

Sebuah tulisan dari Kompasiana yang lebih pantas sebuah uneg-uneg dari seorang Dwi. Namun uneg-uneg ini bukanlah uneg-uneg ngasal dan tanpa alasan yang mendasar. Disini Dwi ini coba menterjemahkan tentang apa itu Hooliganisme yang kemudian dibenturkan oleh monotonnya supporter sepakbola kita di stadion yang cuma itu-itu aja gayanya dan lagunya (cuma diganti liriknya doang) serta trend dari segi fashion Hooligan saja. Nah untuk yang trend fashion ini Dwi ini kurang mencermati bahwa di Inggris (negeri asalnya Hooligan) dan di negara-negara yang supporter sepakbolanya worship kepada Hooliganisme, justru Hooligan ini menjadi barang dagangan yang laris, dan perlu diketahui juga, bahwa Hooligan itu menakutkan dan sangat dilarang, banyak sudah klub sepakbola terkena sanksi atau bahkan sampai bangkrut karena kelakuan Hooliganisme. Dan Hooligan itu bukanlah nama geng, di Inggris sendiri para Hooligan lebih menyebut diri mereka sebagai sebuah Firm bukan Hooligan. Kata Hooligan atau Hooliganisme adalah digunakan sebagai teror dan ancaman kepada musuh dari Firm mereka baik didalam stadion ataupun diluar stadion. Kalo kami pribadi disini, Hooligan di Indonesia bukanlah Inggris, tapi West Ham United. Loh kok?? Ya eyalaahhh ... secara di filem Green Street Hooligan kan jagoannya GSE (Green Street Elite) 'ceritanya' firm fanatiknya West Ham United (padahal kalo yang aselinya, bukan filem, itu adalah ICF atau Inter City Firm) ... Yah, jadilah Hooligan yang baik sesuai dengan yang di filem-filem Hooligan ya nak hehehe ... Hooligan di Indonesia hanya sebatas pelampiasan dari kecanduan filem-filem tentang Hooliganisme dan gak lebih, mereka berkhayal kalo mereka hidup di Inggris bahkan bendera merah putih dikamarpun pada akhirnya harus tersingkir oleh Union Jack atau St George Cross ... ah udahlah ... baca aja yuk tulisan dibawah hehe ...

Budaya Salah Kaprah Hooliganisme di Indonesia
oleh: Dwi Anugrah Mugia Utama

HOOLIGAN. Mungkin inilah sebuah kata yang saat ini sedang sangat populer dikalangan penikmat sepakbola Negeri ini. Nama Hooligan saat ini memang telah menjadi sebuah trend dikalangan supporter Indonesia layaknya Skinhead, Punk atau Mods. Contoh kecil, ratusan bahkan ribuan orang memakai nick name kata Hooligan ini pada akun jejaring sosial mereka. Belum lagi ratusan design tshirt/sweater/jacket yang menunjukan bahwa mereka si pemakai adalah seorang Hooligan Sepakbola sebuah tim di Indonesia. Dan masih banyak gejala sosial lainnya yang menunjukan Hooligan saat ini menjadi sebuah trend dikalangan para supporter di tanah air.


Tapi tahukah mereka apa arti sebenarnya dari kata Hooligan tersebut? Kata Hooligan sendiri tidak hanya berfungsi menjadi kata benda (noun) saja yang berarti pendukung fanatik tim Inggris. Dalam konteks yang lebih luas, Hooligan bisa pula berfungsi menjadi kata sifat (adjective), kata kerja (verb), dan kata keterangan (adverb). Semua kelompok kata tersebut mewakili perilaku, sifat, pekerjaan atau perbuatan, dan keterangan atau keadaan yang menggambarkan perilaku tidak sportif, tidak jantan, tidak mau mengakui dan menerima kekalahan, anarkis (banyak kaum anarkis itu adalah Hooligan-red), destruktif, serta fanatisme buta. Jadi, Hooligan bukan hanya ada dalam kamus persepakbolaan, melainkan juga dapat diadopsi dalam realitas yang lain, termasuk politik. Hooliganisme diartikan sebagai tindakan atau perilaku kekerasan dan destruktif. Istilah Hooliganisme sendiri sudah muncul sejak akhir abad ke 19 tepatnya pada 1898 di Inggris.

Hooligan sendiri mengandung artian fans sepakbola yang brutal ketika tim idolanya kalah bertanding. Hooligan merupakan stereotip supporter dari Negara Inggris, tetapi saat ini telah menjadi sebuah fenomena global. Sebagian besar dari para Hooligan ini merupakan para back-packer yang sangat berpengalaman dalam bepergian. Mereka sering menonton pertandingan yang sangat beresiko besar. Banyak dari mereka sering keluar masuk penjara karena sering terlibat bentrok fisik dengan supporter musuh maupun dengan pihak keamanan sebuah wilayah. Untuk mengantisipasi adanya kerusuhan, gaya berpakaian mereka pun sudah dipersiapkan dengan sangat matang untuk sebuah perkelahian. Mereka sangat jarang menggunakan pakaian yang sama dengan tim idolanya, dan memilih berpakaian asal-asalan agar tidak terdeksi oleh pihak keamanan dan pendukung musuh. Para Hooligan ini biasanya tidak duduk dalam satu tempat bersama-sama, tetapi berpencar-pencar. Dan satu yang pasti tujuan utama para Hooligan ini hadir dalam sebuah pertandingan yaitu ingin membuat sebuah keributan, dan menonton sebuah pertandingan menjadi tujuan mereka selanjutnya.

Lalu apakah keadaan ini sejalan dengan tingkah laku para supporter di Negeri ini? Jawabannya sudah pasti sangat jauh sekali. Dalam kamus para Hooligan, kehadiran mereka di arena pertandingan mungkin hanya menyanyikan dan mengumandangkan chants-chants tim kebangsaan mereka dan tidak pernah mengenal dengan yang nama nya tetabuhan tambur dan tari-tari an di dalam stadion layaknya supporter di Indonesia. Selain itu pun para Hooligan tidak mengenal dengan yang namanya flair berwarna dan berasap tebal atau beraneka ragam petasan yang selama ini sering terlihat dan menjadi ciri khas stadion-stadion di Indonesia (karena hal ini merupakan ciri khas para Ultras).

Sangat disayangkan Hooligan di Indonesia saat ini lebih diartikan menjadi sebuah trend bahkan fashion, karena namanya yang sangat keren dan kebarat-baratan. Mereka cenderung menjadi seorang fashion victim/poser, yang memakai sesuatu tanpa tau maksud dan tujuan dibalik pakaian/atribut yang mereka gunakan. Memakai tshirt dengan kata-kata yang super menakutkan dan menunjukan seorang Hooligan sejati, tetapi untuk melakoni laga away saja harus berfikir berpuluh-puluh kali karena kota A dan B bukan bagian dari teman kelompok mereka. Apakah seperti ini layak menyandang ‘gelar’ seorang Hooligan? Inilah budaya salah kaprah yang terjadi dikalangan para pecinta sepakbola tanah air selama ini. Kenapa kita tidak percaya diri untuk memakai dan mengembangkan culture kita sendiri yang sudah turun menurun dan cenderung bangga memakai culture luar. Sudah saat nya kita semua kembali pada culture budaya kita sebagai orang timur, termasuk dalam hal menjadi seorang supporter sepakbola. Mengapa harus bangga menggunakan kata-kata Hooligan, Ultras, atau sejuta kata keren lainnya yang jelas-jelas bukan milik kita. Perkenalkan budaya kita pada dunia bukan kita yang menjadi korban budaya dunia.

*disadur dari berbagai sumber

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan