artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

DEMOKRASI RUANG GANTI: Masturbasi Berujung Kapitalisasi


By on 28.10.13

Sepakbola, olahraga permainan ini sangat populer tentunya, dan saking populernya banyak pengusaha, poltikus atau bahkan tokoh agama menggunakan sepakbola sebagai tunggangannya. Kami juga penggila sepakbola, bagaimana tidak, berawal dari kegilaan orang tua kami dengan olahraga yang satu ini sampai kegilaan kami terhadap tehnik flamboyan para pemain kelas dunia yang akhirnya menjadi bahan seru-seuan kami ketika membahas sepakbola, sampai drama dan tragedi di lapangan dan diluar lapangan. apa yang terjadi dengan sepakbola adalah sebuah perhatian yang mencuri fokus kami setiap minggunya. Dan kali ini melalui tulisan Eddward Samadyo Kennedy yang kami ambil dari www.bolatotal.com, kami ajak anda menelisik sisi lain dari sepakbola sekarang atau sepakbola modern. Ya setidaknya kita gak cuma bisa demen lari, nyundul, atau nendang bola doang lah ... hehe

Demokrasi Ruang Ganti: Masturbasi Berujung Kapitalisasi
By Eddward Samadyo Kennedy

Salah satu problem utama bagi seorang pelatih adalah ketika mengambil keputusan taktikal. Hal ini rentan terjadi dalam momen-momen seperti krisis cidera berkepanjangan, stok pemain yang memang terbatas atau justru timnya memiliki banyak pemain handal untuk bermain di posisi yang sama. Sejauh yang saya tahu, banyak pelatih justru lebih mampu mengatasi poin yang pertama dan kedua ketimbang yang kedua. Akan tetapi, tak terlalu banyak pelatih yang mampu bertindak cerdas ketika berada dalam situasi seperti poin ketiga. Mengapa demikian?

Untuk poin pertama dan kedua, salah satu contoh terjelas yang bisa dilihat adalah bagaimana cara Alex Ferguson mengakali situasi pelik di lini tengah. Kita tahu, pasca duet maut Paul Scholes dan Roy Keane pensiun, Manchester United nyaris tak pernah memiliki pengganti yang sepandan. Hanya ada satu nama yang betul-betul dirasa layak mengisi posisi vital tersebut: Michael Carrick. Tetapi, tentu saja, seorang Carrick, sebagus apapun permainannya, bukanlah tipikal one-team-player yang mampu memainkan peran ganda: menjadi orkestrator permainan dan tameng pertahanan. Ia butuh deputi, butuh partner, yang memang juga selaras dengan fondasi taktikal United ala Fergie: 4-4-2 atau 4-4-1-1.

Fergie pun lantas mensiasatinya dengan menukar-nukar posisi pemain. Phil Jones, misalnya, yang notabene seorang bek tengah, acap ditempatkan Fergie sebagai deputi Carrick di tengah. Kita bahkan sering melihat Giggs yang ditaruh Fergie di posisi tersebut, hingga akhirnya pilihan jatuh kepada anak muda potensial, Tom Cleverley. Singkat kata, melalui pengalaman dan kecerdasannya, Fergie—dan tak tertutup banyak pelatih papan atas lain—mampu memecahkan poin yang pertama dan kedua.

Yang menarik adalah, Fergie nyaris tak pernah berada dalam situasi seperti di poin ketiga. Pemain-pemainnya selalu merata, baik dalam soal kuota maupun kualitas. Cristiano Ronaldo mungkin bisa dikatakan pemain terbaik dari segi teknik yang pernah dimiliki Fergie, tetapi dari segi taktik, kita masih harus bertanya ulang. Salah satu resep Fergie tentang mengapa ia tak pernah berada dalam situasi di poin ketiga adalah sikapnya yang cenderung diktaktor. Siapa saja pemainnya, Fergie-lah Sang Tuan, sisanya hanya buruh yang harus patuh.

Pun demikian, saya tak dapat mengatakan Fergie gagal dalam menghadapi poin ketiga. Selain demi mensiasati kebutuhan taktikal, prinsp diktaktorial yang dilakukan Fergie sejatinya dilakukan demi menjaga stabilitas sebuah tim, harmonisasi United. Maka tak usah heran jika ada pemain yang besar kepala karena merasa kualitasnya bagus dan terus-terusan merengek minta dimainkan, tanpa ragu Fergie akan menendangnya, baik secara literer atau kiasan. David Beckham, yang sekarang masih hidup dan tetap ganteng itu, adalah contoh konkret kedikatoran tsar Alex Ferguson Tutankhamun.

Akan tetapi, apakah cara Fergie benar? Dengan melihat perspektif yang lebih luas dan koheren dengan semangat zaman sekarang, maka tulisan ini bermaksud untuk menelaah pertanyaan-pertanyaan seperti: bagaimana proses demokratisasi kepemimpinan pelatih dalam mengambil keputusan? Adakah prosedur paling rasional dalam mengagregasi preferensi individual menjadi sebuah putusan sosial? Jika ada, bagaimana caranya?

Sebelumnya, mari kita sepakati terlebih dahulu: sebuah klub sepakbola tak ubahnya seperti sebuah negara (modern), di mana hampir segala persoalan menuntut pemimpinnya mengambil sebuah putusan yang adil dan efektif. Dalam stereotype masyarakat modern, persoalan menentukan keputusan sosial menjadi kian rumit bagi seorang pemimpin, mengingat sistem demokrasi membuka peluang sebanyak mungkin individu untuk ikut ambil bagian, bagian sebagai pemilih (penentu) maupun yang dipilih.

Dalam konteks klub sepakbola, hal tersebut sering terjadi ketika dua orang pemain dengan kualitas yang sama bagusnya menempati posisi yang sama. Real Madrid, misalnya, memiliki dua bek kiri yang sama hebatnya dalam diri Marcelo dan Fabio Coentrao. Keduanya nyaris memenuhi syarat sebagai bek kiri yang ideal, baik dalam segi taktik maupun teknik. Memilih salah satu diantaranya sungguh sebuah persoalan yang pelik.

Situasi yang—barangkali—lebih sulit bakal dialami Barcelona. Kedatangan Neymar ke Nou Camp jelas sesuatu yang positif jika ditilik dari kacamata bursa transfer, tetapi apakah hal yang sama juga berlaku dalam logika taktikal? Nanti dulu. Terlebih, Barca baru saja ditinggal Tito Vilanova, pria yang dipercaya dapat menjalankan tongkat estafet tiki-taka pasca kepergian Pep Guardiola. Siapa yang bakal mengatur dua ayam (baca: Lionel Messi dan Neymar—red) dalam satu kandang dengan tepat?

Dalam bukunya yang berjudul Social Choice and Individual Values, Kenneth Arrow, salah seorang ekonom Amerika yang juga merupakan kandidat peraih Nobel, berupaya menelusuri kemungkinan adanya prosedur pengambilan keputusan “ideal” dalam ruang demokrasi. Ada empat kriteria menurut Arrow yang harus dilaksanakan demi menjalankan strategic-proof tersebut: unrestricted domain, non-dictatorship, Pareto efficiency, dan independence of irrelevant alternatives.

Unrestricted domain atau prinsip universalitas menyatakan bahwa semua preferensi dari tiap individu yang memiliki keputusan harus diperhitungkan. Pilihan keputusan atas preferensi tersebut kemudian ditentukan berdasarkan urutan berperingkat. Dalam kasus Coentrao dan Marcelo di atas, persoalan ini bisa dipecahkan melalui data statistik kedua pemain ketika dimainkan. Siapa di antara keduanya yang memiliki stamina terkuat, paling jarang melakukan kesalahan, atau yang paling cerdas secara taktikal.

Tetapi bagaimana untuk kasus Messi - Neymar? Untuk mereka, kasusnya dapat dikatakan cenderung lebih mudah karena Messi dan Neymar berbeda secara posisi. Messi, tentu saja, akan tetap ditempatkan sebagai pusat penyerangan sebagai false-9, sementara Neymar dapat ditempatkan sebagai left-wing striker dalam teorema 4-3-3 atau 3-4-3 seperti yang biasa dimainkan Barca.

Prinsip kedua adalah non-dictatorship. Prinsip yang sangat tidak Fergie ini menyatakan bahwa keputusan sosial seorang pemimpin yang telah diambil tidak dapat merefleksikan preferensi satu individu secara utuh, tanpa mempertimbangkan preferensi dari individu-individu yang lain. Dengan kata lain, tidak ada situasi di mana keputusan “A” (yang telah menjadi keputusan sosial) merupakan preferensi dari individu “a”, kecuali individu “b”, “c”, “d”, dan seterusnya memiliki preferensi “A” pula.

Sebagai contoh, contoh absurd maksudnya, para penggawa Chelsea bisa saja menolak keputusan Jose Mourinho untuk tidak akan memainkan Fernando Torres karena rasio golnya dirasa sudah menurun drastis. Para penggawa Chelsea, yang misalnya saja dikomandoi John Terry, “diperbolehkan” mendebat Mourinho dengan menyebut bahwa Torres lebih dikaruniai keberuntungan ketimbang Ba. Agak konyol, memang, tetapi bukan tak mungkin terjadi.

Prinsip Pareto Eficiency merupakan prinsip yang menggambarkan situasi di mana peningkatan alokasi keuntungan oleh satu pihak dari suatu keputusan tidak akan mengurangi alokasi keuntungan pihak lain. Kembali ke kasus Coentrao - Marcelo tadi, contoh dalam penerapan prinsip ini adalah, misalnya, sejak awal musim Carlo Ancelotti telah mengatakan kepada keduanya bahwa jatah bermain mereka adalah 25 kali – 25 kali, baik dalam turnamen apapun.
Alokasi jatah bermain tersebutlah yang dikatakan sebagai pareto efisien. Jika Ancelotti ingin menambahkan jatah bermain salah satu di antara Coentrao atau Marcelo, maka penambahan tersebut harus mengambil dari pihak lain. Tentu saja dengan proses dialogis yang sehat dan tidak membuat Marcelo merasa dirugikan. Sulit, ya? Jelas.

Sedangkan prinsip yang terakhir adalah independence of irrelevant alternatives (IIA). Prinsip IIA menyatakan bahwa jika alternatif pilihan sosial adalah antara pilihan x dan pilihan y, maka pilihan sosial tersebut tergantung sepenuhnya pada preferensi pemilih atas x dan y. Artinya, keputusan sosial tidak berubah seandainya ada alternatif pilihan ketiga “z”.

Satu ketika, misalnya, Mourinho mengalami kesulitan menetukan komposisi lini belakang. Pilihan utamanya selama ini adalah duet Terry (x) dan David Luiz (y). Akan tetapi, lambat laun Mourinho menyadari keputusan sosialnya tidak tepat, yang kemudian menyebabkan inflasi kebobolan pada (negara) Chelsea kian meningkat. Atas kesalahannya ini, Mourinho lalu mengumpulkan pemainnya (rakyat) untuk bertanya apakah Gary Cahlil layak (z) layak menjadi alternatif menggantikan Terry yang sudah lamban? Jika para rakyatnya mengiyakan, maka sah sudah Cahlil (z) menjadi tandem Luiz menggantikan Terry.

Sepintas, teori Arrow memang sangat ideal demi harmonisasi sebuah negara atau klub sepakbola. Akan tetapi, setelah ia melakukan penelitian lebih lanjut, Arrow menyimpulkan: bahkan dalam sebuah situasi di mana hanya terdapat dua pemilih dan tiga alternatif pilihan, adalah mustahil untuk membentuk suatu prosedur pengambilan keputusan yang dapat memenuhi keempat kriteria tersebut sekaligus.

Lagi pula, tentu kita paham: pelatih mana yang mau repot-repot menegakkan keempat kriteria di atas untuk tiap sesi latihan bersama timnya? Di tengah tuntutan kesuksesan membabi-buta dari para pemilik klub yang mayoritas para pesohor kapitalisasi industri, demokrasi ruang ganti adalah masturbasi. Saya tak terlalu heran jika Fergie sukses dalam menjalankan prinsip kedikatorannya.

Pada akhirnya, demokratisasi dalam dunia sepakbola modern adalah omong kosong yang tak pernah wangi. Harus diakui, kendati dengan dada yang susah menerimanya, nyaris segala lini hanyalah menyoal bisnis. Saya kira, bukan tak mungkin jika kemudian hari ada seorang pesepakbola belia berusia 16 tahun yang diboyong ke Parc des Princes dengan harga 70 juta euro, sebab memang begitulah kini sepakbola dibentuk: sebagai mesin pencetak uang.

Dengan Anda sebagai bahan bakarnya, dan pemain sebagai mesinnya.

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan