artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

POLITIK PENCITRAAN JELANG PEMILU 2014 DIBALIK MISS WORLD 2013


By on 26.9.13

Kami masih menyimak televisi dan itu jujur! menyimak, memperhatikan, dan menelaah apa yang terjadi dengan kotak ajaib yang selalu ada di sudut setiap rumah atau bahkan setiap kamar (mungkin) ... Dan apa yang kami dapat dari televisi adalah hanya sebatas alat untuk menggiring kita. Televisi bisa membuat kita ikut menangis, ketawa, haru, bangga, bahagia, sedih, prihatin, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan beberapa even Internasional yang akhirnya dapat diadakan di Indonesia atau disiarkan secara langsung di televisi Indonesia, itu jelas mendatangkan beberapa sikap dan reaksi dari kita ada yang bangga, haru, gembira, menolak dan lain sebagainya. Atau bahkan malah ada pernyataan keluar "wuih keren Pak Anu (pemilik TV) bisa mendatangkan even Anuan kesini ..." Yap, akhirnya kepada permasalahan POLITIK PENCITRAAN!! secara sang pemilik TV sebut saja Tanuwijaya (MNC, GLOBALTV, RCTI), Aburizal Bakrie (ANTV dan TV One), Surya Paloh (Metro TV) adalah calon presiden pemilu 2014 nanti. Apa yang mereka suguhkan tersebut hanyalah politik pencitraan semata, dan bukan hal yang membanggakan tentunya, bodohnya lagi ada beberapa dari kita masih kurang memahami hal ini. gak bosen apa 32 tahun dengan POLITIK PENCITRAAN Rezim ORDE BARU melalui TVRI-nya?? atau memang sudah terbiasakah??? hehe ... who knows ... mending baca yang dibawah ini aja yuk biar jelasnya ... kenapa Miss World yang diangkat?? karena ini yang paling jelas unsur kampanye terselubungnya menurut kami (walau masih ada yang lainnya yang belum keliatan bobroknya) kami hanya bisa melihat even ini lewat TV, sama dengan masyarakat yang lainnya hehe ... silahkan 


Miss World Hajat Siapa?
oleh: Ardi Winangun


Ketika Jepang ditunjuk oleh Komitte Internasional Olimpiade untuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2020, secara serentak rakyat Jepang bersorak-sorak gembira. Mengapa rakyat Jepang bersorak-sorak bergembira? Penunjukkan oleh komitte internasional itu menunjukkan Jepang layak menjadi penyelenggara perlombaan dan pertandingan yang melibatkan banyak negara. Bagi rakyat Jepang sendiri, dengan ditunjuk sebagai tuan rumah maka negaranya bisa lebih memperkenalkan diri kepada dunia internasional, dari berbagai aspek seperti budaya, ekonomi, teknologi, dan tempat-tempat wisata.

Saat Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Miss World 2013, tak ada sorak-sorak bergembira, yang terjadi malah tak ada sikap yang jelas dari pemerintah, malah yang timbul demo penolakan.

Mengapa ada beda dari sikap rakyat Jepang dengan rakyat Indonesia dalam menyikapi negaranya saat dipilih oleh badan internasional menjadi tuan rumah hajatan internasional? Jelas beda tentunya antara kontes Miss World dan Olimpiade. Dari segi prestisse, Olimpiade jelas lebih wah daripada Miss World. Untuk menjadi tuan rumah Olimpiade, prosesnya lebih sulit daripada Miss World sehingga ketika dipilih menjadi tuan rumah, maka sorak-sorak bergembira langsung diluapkan. Sementara rival negara yang kalah dalam penunjukkan, biasanya mereka dirundung kesedihan. Argentina yang kalah memperebutkan jadi tuan rumah tahun 2020, negara itu diliputi duka.

Untuk menjadi tuan rumah Olimpiade, banyak sarana olahraga yang perlu dibangun dan infrastruktur pendukung seperti hotel dan airport pastinya harus distandarisasi dengan standar internasional. Sedang untuk kontes Miss World paling hanya bookingsewa kamar hotel yang jumlahnya ratusan dan sebuah ballroom yang nggak besar-besar amat.

Mengapa Miss World 2013 ini tak meriah dan tak dikampanyekan oleh pemerintah, misalnya lewat Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif? Karena Miss World 2013 ini penyelenggaranya bukan pemerintah namun pemenang tender kegiatan itu sehingga hajatan yang diselenggarakan bukan tanggung jawab pemerintah. Pemerintah Indonesia tak terlalu serius menjadi tuan rumah Miss World sebab masalah kontes itu masih menjadi pro dan kontra sehingga masalah ini diserahkan kepada pemenang tender kontes saja. Sebab ini bukan proyek milik pemerintah, maka pemerintah acuh terhadap pelaksanaan kegiatan.

Pemerintah tak tergiur dengan rayuan bahwa dengan Miss World, Indonesia akan lebih terkenal kepada dunia internasional. Sebab secara fakta tanpa kontes itu saja Indonesia sudah banyak diketahui masyarakat dunia. Buktinya, Miss dari Hongkong sudah pernah ke Indonesia. Jadi tanpa kegiatan itu, ia sudah pernah ke negeri ini.

Keengganan pemerintah dan politisi menyikapi masalah Miss World sehingga kontes itu sepertinya terlunta-lunta selama penyelenggara sebab penyelenggara Miss World sendiri penuh dengan nuansa politik. Miss World ditunggangi oleh salah satu kelompok politik. Akibat yang demikian, maka partai-partai lain malas untuk ‘membela’ penyelenggara Miss World. Bagaimana kita lihat saat pembukaan Miss World di Nusa Dua, Bali, jelas-jelas sekali Ketua Umum Partai Hanura Wiranto dan pasangan capresnya Harry Tan serta pengurus lainnya terang-terang hadir dan wajahnya sering di-shoot. Dari sini terlihat bahwa Miss World dijadikan ajang kampanye Wiranto-Harry Tan dan Partai Hanura.

Dari sinilah maka politisi-politisi lain enggan mendukung kontes itu. Dengan mendukung atau membela kontes itu berarti sama saja dengan mendukung Wiranto-Harry Tan dan Partai Hanura. Sebab yang demikian, maka politisi lebih asyik dengan isu-isu yang saat ini lebih seksi, seperti soal calon presiden dan konvensi.

Harry Tan sepertinya sering mengadakan kegiatan-kegiatan yang mengundang banyak mata memandang untuk kepentingan politiknya, pencitraan, dan upaya meningkatkan popularitasnya. Kita lihat saja, bagaimana dalam setiap pertandingan olahraga antara Timnas dengan klub-klub besar, dirinya beserta Wiranto selalu duduk di tempat VVIP.

Pantas saja pemerintah saat ini, yang dikemudikan oleh Partai Demokrat serta didukung oleh Partai Golkar, PAN, PPP, PKB, PKS, tak mau tahu dengan acara Miss World, sebab kontes itu digunakan oleh Harry Tan untuk kepentingan partainya. Sehingga hajatan itu bukan hajatan pemerintah namun hajatan EO-ny Harry Tan.

Akibat yang demikian, maka stasiun-stasiun televisi yang berseberangan dengan Harry Tan juga enggan untuk memberitakan kontes itu. Untung saja Harry Tan memiliki banyak media massa sehingga pemberitaan kontes itu bisa dikabarkan kepada masyarakat.

Masyarakat Indonesia akan bersorak-sorak bergembira bila negaranya ditunjuk menjadi tuan rumah perhelatan internasional bila acara itu tak bertentangan dengan norma dan budaya masyarakat dan bukan dikelola oleh salah satu kelompok. (Sumber)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan