artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

KOLEKTIF D.I.Y. GIGS ITU TERNYATA BISA JADI LAHAN CARI DUIT


By on 15.9.13

Kami menyebut mereka geng alap-alap. Ya, mereka kami sebut begitu karena mareka tajam menyimak perkembangan scene, tapi mereka sadis ketika mempraktekannya. Geng alap-alap ini senang memangsa yang lemah tapi tetap takluk sama yang lebih kuat. Makanya mereka itu kudu cerdas dan licik dalam hal ini. Salah satu praktek yang kerap mereka lakukan adalah infiltrasi kemanapun selama itu ada untungnya, baik untung secara nominal ataupun makin eksis diantara yang tereksis, walaupun dalam pelaksanaanya mereka gak menggunakan tiketing. Berikut sedikit gambaran tentang praktek yang mereka lakukan dengan konsep studio gigs kolektif yang mengatasnamakan etika D.I.Y. 

Dimana biasanya gigs kolektif biasanya diadakan?

Biasanya diadain di studio (rental) dan kemudian dikenal dengan studio gigs. Ini dimaksudkan agar mudah dan murah, karena harga sudah termasuk sewa tempat dan alat. Biasanya pihak studio yang sudah terbiasa dengan kehadiran banyak orang ketika gigs diadakan itu akan menaikan tarif sewa studionya maksimal dua kali lipat (paling maksimal 3 kali lipatlah dari harga sewa studio). Misal sewa studio biasanya 30.000 (untuk latihan aja), bila niatnya untuk studio gigs maka dinaikkan menjadi 60.000 rupiah. Dinaikkan harganya itu udah termasuk semuanya, sampai ijin keramaian pun menjadi tanggung jawab pihak studio.

Dan Bagaimana Cara Penghitungannya??

Berikut apa saja yang dilakukan geng alap-alap ketika mereka mengadakan studio gigs:

Sewa studio

Oke sekarang kita berhitung, kita mulai dengan pengeluaran untuk sewa studio. kalo masalah maksimal keseluruhan berapa, itu tergantung berapa jam kita menggunakan studio itu. Disini kita misalnya gunain studio selama 6 jam, hitunglah dari jam 6 sore sampai jam 12 malam, dan harga sewanya perjam 75.000, berarti 6 jam x 75.000 = 450.000. Kita butuh dana untuk sewa studio sebesar 450.000 itu udah tinggal pakai saja.

Pengeluaran studio biasanya cuma alap-alap yang tau dan band gak pernah diberi tahu tentang harga sewa studio per jamnya. Untuk hal ini ada uang bungkam mulut untuk pihak studio.

Dana kolektif dan jumlah band peserta

Eit tunggu dulu, jangan langsung ngitung duitnya. Kita hitung dulu berapa band yang bisa main untuk 6 jam yang kita sewa tersebut. Hitunglah dari 6 jam kita potong 1 jam buat spare waktu, berarti kita butuh 5 jam dan 5 jam berarti 300 menit. Kemudian kita tentuin jatah waktu yang kita berikan ke band, hitunglah 20 menit. Nah dari sini kita bisa tentukan berapa band yang main dengan menghitung 5 jam atau 300 menit dibagi 20 menit (300 : 20 = 15) nah berarti kita punya 15 band disini yang main. 

Tapi kadang alap-alap masih suka nulis NEEDS MORE BANDS di pamflet, padahal 20 menit itu waktunya pendek loh. Jatuhannya bisa 20 sampe 25 band yang main disini untuk waktu 300 menit atau 5 jam!! Haha ... Overload. 

Dan dana yang diambil buat kolektif untuk tiap band itu variatif tiap masing-masing gigs, dari mulai 100.000 sampai dengan 250.000 per band (maaf, yang dibawah 100.000 gak termasuk disini, soalnya udah jarang hehe).

Atau biarlah 15 band yang main, cuma kolektifannya dinaikkan lagi misal dari 100.000 jadi 150.000. Tapi malah kebanyakan 5 jam, 25 band dana kolektif 150.000 ... hahaha mak dikipe nih alap-alap.

Selisih pengeluaran dan pemasukan

Kita ambil dari angka jumlah band yang ikut kolektif, dari tiga angka 15, 20, 25, kita ambil yang tengah yaitu 20, ya kita berarti mendapatkan 20 band kolektifan disini. Nah sekarang kita hitung berapa keseluruhan dana kolektif yang kita dapat dari 20 band. Dan dari angka nominal 100.000, 150.000, dan 200.000, kita ambil yang tengah yaitu 150.000 perband. Kita mendapatkan dana kolektif dari tiap band 150.000 disini. Oke sekarang mari kita hitung total keseluruhan dana kolektif dari 20 band. Dana kolektif per band dikali jumlah band yang ikut kolektifan yaitu: 150.000 x 20 = 3.000.000. Nah kita mendapatkan angka sejumlah tiga juta rupiah disini untuk keseluruhan pemasukan.

Setelah mendapatkan total pemasukan dari 20 band sebesar 3.000.000 rupiah, sekarang kita kurangi oleh pengeluaran pokok, yaitu sewa studio selama 6 jam sebesar 450.000. Jadi kalkulasinya, 3.000.000 - 450.000 = 2.550.000. Yap, kita punya 2.550.000 buat lebihannya. Itu keuntungan bersih?? BUKAN! masih ada kebutuhan lain yang kecil-kecil, misalnya buat air mineral, bayar cas kelebihan waktu sewa, ganti alat studio dan lain-lain. Kita sebut pengeluaran lain-lain yang jumlahnya kita kick sebesar 500.000. Jadi berarti masih ada sisa 2.050.000 disini (2.550.000 - 500.000 = 2.050.000).

Well, kita dapatin angka nominal 2.050.000 dalam jangka waktu 5 jam tapi dengan syarat itu kudu berjalan lancar sesuai dengan rencana. Tapi bagaimana bisa sesuai rencana kalo bandnya yang main 20 band?? Bisa aja ah, alap-alap biasanya mematok bukan karena waktu, biasanya jumlah lagu yang dibawain cuma 3 atau 4 lagu, itu paling sekitar 10 sampe 15 menitan lah, belom yang gak jadi main lantaran bandnya udah dipanggilin masih belom masuk juga (biasanya ada salah satu personilnya yang belom dateng). Kalopun kena cas sewa studio ya palingan cuma dua jam, hitungan sesuai diatas dua jam cuma kena 150.000 (harga kolektifan satu band). Yang jadi pertanyaan, kemana dana 2.050.000 itu selanjutnya?? ... terus dibaca, anda akan tau kemana dana sebesar itu selanjutnya.

Bagaimana agar gigs itu diminati?

Ya, bagaimana agar gigs yang kita garap itu diminati banyak band pemburu/pengkoleksi jam manggung yang biasanya band-band baru atau yang sedang promosi. Hmm ... banyak cara, tapi ini ada cara yang biasanya digunain oleh para alap-alap. Dengan menghadirkan band bagus atau yang udah punya nama di pamflet awal mereka. Tapi mereka nampilin juga bukan sembarangan nampilin, kuncinya adalah ada salah satu crew geng alap-alap ini punya sosok yang cukup lumayan kenal band-band yang udah punya nama dan jadi bakal calon main di gigs mereka. Melalui sosok ini mereka bisa mendapatkan band-band tersebut dengan harga miring (biasanya cuma dikasih transport aja) atau minimal gak ikut kolektifan lah alias di gratisin.

Kalo membayar band lain, lantas dari mana dananya?? yah, ini gak usah ditanyain, tapi akan kami jawab (aneh?). Berapa sih transport buat band? ya maksimal 500.000 deh (ini paling maksimal ya berarti masih bisa lebih murah lagi), nah dana lebihan aja masih ada 2.050.000 kan? itu bisa dapet 3-4 band. 

Mana bisa? Kan band yang kolektifan aja udah 20 band?? Bisa lah, nambah sewa dua jam, kan cuma keluar 150.000 doang. 

Terus, emang masih ada band bagus yang mau dikasih transport dibawah 500.000? BANYAK BROO!! Banyak yang tertarik kalo kalian bisa ngomongnya, apalagi kalo udah NGATAS NAMAIN GIGS KOLEKTIFAN D.I.Y!! Ada lagi yang mau ditanyain??

Ada, apa band-band bagus itu ditulis guess star di pamflet?? Hehe ... alap-alap ini gak bodoh bro, mereka tau secara kasat mata tampilan pamflet acara gede sama gigs studio. Band-band bagus itu ditaruh sejajar agar terkesan band-band ini ikut bayar kolektif di gigs mereka, padahal aselinya mereka bintang tamu disini dan lebih diberlakukan istimewa tentunya. Nah disinilah yang kalo bahasa dagangnya 'menaikkan daya beli' atau dengan kata lain gigs mereka akan disegani oleh band-band yang ikut kolektif dan secara psikis, kehadiran band-band bagus ini akan membungkam band yang ikut kolektifan mempertanyakan kemana dana lebihannya?? Secara mereka udah punya semacam prestasi kalo band mereka pernah sepanggung sama band-band bagus yang cukup punya nama di scene. Cukup?

Belom, ada lagi nih, ini gigs kolektif kan? dan kalo make kata kolektif itu berarti kan milik bersama-sama kan? kok jadi kaya acara profit ya, ada GS (guess star / bintang tamu) segala. berarti dana lebihan tadi jatuhannya lari ke band-band bagus itu dong. Berarti sama aja kita bayar regis gitu mah. Iya kan? Iya sih, aseli ini manipulatif banget yang kaya gini bro. Ini kalo gue liat sistematis profit oriented yang infiltrasi kedalam scene D.I.Y. atau para profit oriented yang 'bermain' dengan menggunakan kedok D.I.Y. ethic. tapi yang jelas konsep kolektifitas itu sendiri semangat idealisnya udah mati disini. Gak ada keterbukaan, gak ada kebersamaan (panitia ya panitia, peserta ya peserta ... masih ada jarak), gak ada berbagi tanggung jawab sama-sama atau gotong royong disini. Ya dengan sangat menyesal gue cuma bisa bilang kita telah masuk perangkap yang bernama "dibodohi". Dan jujur, alap-alap inilah yang terus ngerusak eksistensi scene D.I.Y. Mau bukti?? silahkan simak disekeliling anda, apa PERDEBATAN TENTANG PRAKTEK D.I.Y. ETHIC DI SCENE ANDA SUDAH SELESAI?? kalo belum, berarti disitu masih bercokol geng alap-alap ini.

Sebuah kisah tentang sebuah gigs kolektif

Nah, emang enaknya gimana bikin gigs kolektif itu sih?? Begini, kami pernah lakuin ini di Depok, waktu itu acara NOISEGRINDFEST pada tahun 2011, yang diadain di Slaughterhouse (bukan studio musik). Disana yang main band-band Depok dan sekitarnya, mayoritas dari band yang terlibat disini saling kenal satu sama lain. Nah kalopun ada band yang udah punya nama, ya itu band teman-teman juga dan terlibat dalam satu kepanitiaan. Hal yang pertama kami lakukan adalah sebulan sebelum acara kami pertemukan semua band yang terlibat di NOISEGRINDFEST tersebut walau cuma perwakilan. Ini dimaksudkan agar ada kedekatan secara emosional, kalo orang tua bilang mah silaturahmi dulu hehe. Kita briefing sama-sama di Slaughterhouse yang kebetulan punya teman juga. Pertemuan selama sebulan itu berlangsung seminggu dua kali, dan kondisinya pun gak formil-formil amat, kita kaya nongkrong aja, becanda, rokok sebungkus rame-rame, sambil nenggak intisari, anggur merah, sampe ciu dan ini menciptakan kondisi yang seperti 'nagih' pengen ngumpul lagi, gimana enggak, selera musik sama, kelaguan sejalan, kalopun ada yang beda ya akhirnya ngikut juga ke yang banyak tanpa ada paksaan, yang baru gabungpun akhirnya jadi terbiasa tanpa ada paksaan, yah ini mungkin yang dinamain kebersamaan, semua berdasarkan kesadaran dan kebesaran hati hehe. Kita buat kesepkatan bersama yang menyangkut tehnis dan non tehnisnya NOISEGRINDFEST ini. Pada hari H nya sebagian dari kita udah stand by di Slaughterhouse paginya, buat beres-beres sama nunggu alat datang. Emang keliatan cuma beberapa orang yang aktif disini, tapi bukan juga semuanya gak punya kesadaran untuk sama-sama bahu membahu agar acara berjalan lancar walau telat sekita 3 jam dari waktu yang direncanakan. Oh iya, kami make sistem tiketing 5000 rupiah dapet CD yang isinya band-band yang main di NOISEGRINDFEST. Mau tau gak gimana acaranya?? Lancar walau telat, semua band gak ada yang gak main. Ada sedikit bak bik buk di gigs, tapi ya cuma sekedar, yang datang rame. Dan yang lebih seru lagi, sebagian band masih tetep stay walau acara berakhir, akhirnya kita gunain waktu ini buat evaluasi dan sedikit ngilangin letih setelah bersih2 tempat. Sambil ngeteh terus makan rame-rame. Beberapa kali bikin gigs, kami akuin ini yang terbaik yaitu NOISEGRINDFEST 2011. Terimakasih banyak atas kerjasama dan kebersamaan yang gak bisa dilupain buat teman-teman DEPOK CITY GRINDCORE (The Forum).

Subyektif tentang konsep awal studio gigs 

Kami ingin sedikit cerita, dan cerita ini bukanlah awalnya studio gigs tercipta, dan inipun yang telibat didalam cerita ini gak niat bikin studio gigs pada awalnya, tapi niat latihan bersama. Dan ini hanyalah sekedar pemikiran kami yang narik garis kebelakang dari apa yang kami liat. Waktu itu teman-teman di Depok, sebutlah DC Crew nongkrong didepan studio Diaz kalo gak salah namanya deket Kantor Walikota Depok. Awalnya gue liat ketika Thinking Straight latihan ada beberapa teman didalam studi ikutan nyanyi bareng-bareng, terkesan lagi live show, padahal latihan, Mau tau siapa yang ikutan nyanyi?? Ya temen-temen juga, mereka ada yang dari Wise, Paper Gangster, Fist Of Fury, dan beberapa band lain yang emang tiap malem minggu latian bareng-bareng disitu. Ya mau gak mau malem minggu sekitar 4 sampe 5 jam studio Diaz jadi tongkrongan mereka yang nunggu giliran latian, sebagian ikut nonton, pogo dan nyanyi didalam.

Ya, mungkin kaya gitu kali ye awalnya kenapa ada studio gigs. Berawal dari janjian latihan bareng, terus ketemu di studio, main, dan saling menyimak. Penontonnya adalah yang main juga, dan mereka saling kenal. Disini akan muncul sebuah apresiasi yang bisa saling berusaha menerjemahkan karya terbaru dari teman yang mereka liat seperti ini akan terlontar "lagu lu yang baru sekarang makin cepet aje ye? galak!" nah itu maksudnya kebersamaan, banyak hal yang kita dapat, kita bisa tahu sejauh mana kapasitas kita karena kita punya penonton yang bisa mengapresiasikan dan langsung menyampaikannya ke kita, yaitu teman kita. Dan ini sebenarnya satu poin lebih dari latian bareng atau sekarang lebih dikenal studio gigs. Tapi gimana studio gigs yang sekarang?? UDAH DIBAHAS DIATAS!! hehe. (DimDjoen)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan