artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

ANTI KEMAPANAN ITU BUKAN CERITA SINETRON BUNG!!


By on 10.9.13

Artikel yang kami posting kali ini merupakan sebuah jawaban yang kami pilih ketika kami melemparkan angket sebuah pertanyaan tentang "Apa menurut anda tentang ANTI KEMAPANAN??" kepada beberapa individu beberapa waktu lalu. Ya, banyak jawaban yang masuk ke Surel (Surat Elektronik/email) kami. Dan ada satu jawaban yang memberikan link tentang artikel ini, tapi bukan berarti jawaban lain gak bagus juga, karena itu pendapat individu, jadi kami terima karena mungkin latar belakang individu itu beda-beda, ya wajar jika jawaban yang keluar itu varian walau intinya ke satu arah. Dan kenapa pula artikel ini yang diambil menjadi jawabannya? Yap, artikel ini (mungkin) adalah jalan tengah daripada kita terus memperdebatkan tentang konsep Anti Kemapanan ini, yang ada jadi cuma omong kosong, karena jawabannya sebenernya ke satu arah, cuma ego selalu mengedepankan "ayo lewat sini aja!". Hehe Basi deh ... Artikel ini membuat fresh, dan mungkin ini adalah pemikiran terbalik, tapi justru lebih smooth dan selow ketimbang kudu bersitegang ... Intinya, Teori tentang Anti Kemapanan itu bukan melulu seperti kisah sinetron yang mempermasalahkan pertentangan status soasial dan materi belaka ... nah daripada bersitegang melulu, mending baca dulu yukss?? ... silahkan sob ....

ANTI KEMAPANAN BUKAN (MELULU) HARUS MISKIN

Banyak orang yang bertanya tentang arti anti-kemapanan. Dan juga banyak yang mengira-ngira tentang anti kemapanan itu sendiri. Dengan kesimpulan yang sangat singkat mereka mengira anti kemapanan itu tidak mau hidup mapan, dalam arti tidak ingin hidup berkecukupan, punya mobil sedan yang keren, punya rumah mewah yang guede, punya baju bagus dan lain sebagainya (mungkin).

Ada juga yang berpendapat anti kemapanan itu orang yang berpura-pura tidak punya apa-apa tetapi dia itu mempunyai segalanya yang akhirnya memakai atau bertingkah laku seperti orang yang tidak memiliki apa-apa atau melebihi gembel sekalipun (maaf bukan mengkotak-kotakan orang).

Namun kata ini bagi saya mempunyai banyak pengertian. Bukan berarti saya tidak ingin hidup mapan! Atau tidak ada rasa syukurnya Bukan, sekali lagi bukan.

‘Anti kemapanan’ dalam hal ini bukanlah berarti anti kemapanan secara finansial. Tidak dilarang, untuk mapan secara finalsial, untuk menjadi kaya, untuk berkecukupan secara materi. Kenyataannya, dengan materi dan finansial yang berkecukupan, lebih dari apa yang kita butuhkan, maka akan semakin banyak orang yang dapat kita bantu (dalam hal materi). Tentu saja hal ini hanya terjadi jika kita bisa lolos dari cobaan atau godaan materi tadi, tidak menjadikan harta, uang, atau materi apapun itu sebagai ‘TUHAN’.

Yang saya maksudkan dari anti kemapanan adalah untuk tidak terjebak dalam sebuah kondisi ‘mapan’, sebuah zona aman dimana kita telah merasa ‘cukup’.

Merasa telah cukup berpengetahuan, cukup untuk mengetahui segalanya, cukup untuk merasa paling pandai,cukup untuk merasa paling benar, yang akhirnya akan membuat kita enggan untuk belajar lagi, katak dalam tempurung!

Orang-orang yang anti kemapanan adalah orang yang tidak ingin kemapanan sampai membuat seseorang atau masyarakat menjadi stagnan. Karena biasanya kalo seseorang atau kelompok sudah mapan, akan sudah berpuas diri dan tidak ingin melakukan sesuatu yang lebih dari yang sudah dicapai, and not pushing the limit.

Jadi anti kemapanan itu terus mendorong untuk dinamis dan kritis, bukannya stagnan, dan tidak terus-menerus terpaku pada keadaan yang sudah ada.

Boleh dibilang, kita tidak boleh terlalu lama dalam kondisi atau zona nyaman kita. Masih ada banyak tantangan lain yang harus dihadapi untuk kehidupan yang lebih indah. Kondisi yang lebih nyaman lagi, lagi dan lagi.

Sungguh betapa besar makna dari perkataan baginda Rasulullah SAW, untuk terus belajar setiap saat, belajar mulai dari ayunan hingga liat lahat, belajar dari siapapun dan kapanpun,dimanapun (dalam perkataan Rasulullah hingga ke negeri cina sekalipun).

Jangan terburu puas dengan hasil yang sekarang kita bukukan dalam hidup. Terus perbaiki sampai kita bertemu dengan kematian.

Musuh terbesarnya adalah diri kita, ego kita. Seiring dengan semakin bertambahnya usia, semakin tingginya pendidikan, semakin tingginya derajat sosial, semakin banyak prestasi yang diperoleh, semakin banyak pengalaman yang didapat, semakin besar pula ego kita untuk merasa paling benar, terjebak dalam kondisi ‘mapan’.

Karena yang pasti dari perubahan adalah perubahan itu sendiri.

Kira-kira seperti itu yang saya mengerti tentang kata kemapanan,,dan semoga bermanfaat.

=======================================================

Terimakasih buat owner Sektorplong yang gak mau dimuat namanya hehe

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan