artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

PEMUDA, MUSIK DAN PERLAWANAN


By on 27.8.13

Saya ingin berbagi tentang apa yang didiskusikan oleh saya dan teman-teman saya yang hadir dalam diskusi “Musik sebagai Media Alternatif Perlawanan” dalam forum diskusi yang diselenggarakan oleh teman-teman mahasiswa dari BEM FISIP Universitas Pasundan pada 13 Februari 2013. 

Saat itu saya tidak nyeloteh sendirian di depan teman-teman mahasiswa dari Unpas dan beberapa teman dari komunitas musik underground. Saya ditemani oleh Idhar Resmadi dan Heri Sutresna a.k.a Ucok Homicide yang juga diundang untk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Diskusi dimulai dari titik dimana muncul sebuah pertanyaan “dimanakah letak musik dalam diskursus politik di Indonesia?” Meskipun dari dekade ke dekade musik berperan penting dalam sejarah pergerakan sosial dan politik musik di Indonesia dan dunia, kenyataannya ia masih menjadi materi yang tersisihkan dalam lingkaran diskusi ilmu politik.

Di Indonesia, kita punya banyak pengamat politik yang dapat dan sering berbicara tentang proses, mekanisme, dan sistem politik nasional yang ‘amburadul’. Patut diakui bahwa kebanyakan para pakar ini membicarakan hal-hal politik yang menurut mereka menarik untuk diperbincangkan (di koran, majalah, blog, televisi, dan radio), tapi tidak bagi anak-anak muda generasi sekarang.

Ketika orang tua banyak berbicara tentang korupsi para pejabat negara dan kekisruhan partai politik, anak-anak muda Indonesia kini lebih suka memperbincangkan film, musik, band favorit mereka, desain pakaian, makanan, minuman, liburan, dan bisnis clothing dan merchandise lainnya. Dengan demikian, terjadi semacam jurang antara generasi tua dan muda.

Namun membicarakan musik, khususnya, tidak berarti lepas dari perbincangan politik. Musik punk ambil sebagai contoh. Dengan karakter musiknya yang agresif namun tetap estetis, memuat simbol politik perlawanan terhadap kemapanan (ahh.. maafkan kalimat ini terkesan klise karena terlalu sering didengungkan).

Sejak revolusi musik rock ‘n’ roll di tahun 1950an dan 1960an, satu dekade kemudian (1970an) musik punk lahir di Inggris dan Amerika sebagai respon terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi yang merugikan masyarakat kelas menengah ke bawah. Saat itu kebijakan politik dalam dan luar negeri pemerintah Inggris dan Amerika sedang agresif-agresifnya. Di saat yang sama juga krisis ekonomi melanda kedua negeri tersebut sehingga menyebabkan tingkat pengangguran tinggi dan pertentangan antar kelas di dalam tubuh masyarakat. Lalu, dalam kondisi ini ekspresi budaya anak muda juga dikekang oleh korporat-korporat industri budaya yang membatasi akses dan partisipasi anak muda dalam ranah produksi musik.

Saat itu hanya musisi-musisi ‘profesional’ yang disponsori oleh label rekaman besar (major label) yang dapat mentas di club-club musik lokal dan nasional. Tidak ada tempat untuk para musisi amatiran.

Gerakan punk muncul sebagai respon atas kemapanan sosial, politik, ekonomi, dan budaya ini. Bermula dari club-club kecil seperti CBGB di New York, Richard Hell, The Voidoids, Patti Smith, Velvet Underground, The Ramones, dll. menginisiasi penampilan musik yang bertolak belakang dengan penampilan yang dilakukan oleh musisi-musisi besar. Mereka tampil dengan karakter yang nyeleneh, bahkan dengan memakai kostum yang aneh, dan memainkan musik yang cenderung berisik untuk diterima oleh masyarakat umum.

Begitu juga dengan kostum yang dikenakan kaum punk. Vivinne Westwood dan Malcom Mclaren menciptakan fashion punk dengan gaya baju dan celana yang sobek, compang-camping, tindik di telinga/hidung, boots, dan rambut Mohawk sebagai karakter fisik para pemuda punk. Kelinci percobaan pertamanya adalah band yang dimanageri oleh Mclaren sendiri, yaitu the Sex Pistols. Dick Hebdige (1979) pernah mengatakan bahwa fashion punk yang compang-camping ini sangat hamil dengan makna.

Fashion punk otentik diatas dibuat untuk mencemooh orang-orang kaya yang selalu berpakaian rapih dan dengan merk yang mahal. Fashion punk adalah media perlawanan terhadap gaya hidup orang-orang kaya (borjuis) yang senang menghambur-hamburkan uang mereka demi gaya hidup yang hedonis.

Pada era 1980an, karakter estetika punk, baik itu fashion maupun musik, mengalami perubahan bersamaan dengan perubahan suhu politik yang ada pada saat itu. Secara musikalitas, musik punk menjadi lebih agresif dan keras, yang kemudian kita kenal dengan genre Hardcore Punk. Bad Brains, Teen Idles, Black Flag, Agnostif Front, Descendents adalah sebagian dari band-band Hardcore yang lahir pada masa ini.

Musik punk sebagai bagian dari budaya perlawanan kemudian menjadi populer hampir di seluruh dunia. Mulai dari Afrika, Timur Tengah, Eropa, Australia, Amerika Latin, dan Asia, termasuk di dalamnya Indonesia.

Masuknya musik punk ke Indonesia mempunyai latar belakang historis yang signifikan. Semakin gencarnya tekanan globalisasi yang melahirkan liberalisasi dan privatisasi media, tingkat pengangguran yang tinggi, sistem politik yang otoritarian, militerisme yang brutal, dan gap antara generasi muda dan tua membuat budaya punk diterima oleh banyak anak muda Indonesia di kota-kota besar pada akhir tahun 1980an dan awal tahun 1990an.

Banyak anak muda saat itu yang tergila-gila dengan rambut Mohawk, piercing, sepatu boots (Dr. Martens), dan baju compang camping hanya untuk merepresentasikan dirinya sebagai bagian dari ‘musuh masyarakat’. Saat itu juga mereka mulai membuat band dengan teman-teman tongkrongan mereka, membawakan lagu-lagu dari Sex Pistols, The Ramones, The Business, The Exploited, Green Day, dll.

Saat itu memang punk merupakan ‘barang baru’ bagi anak muda Indonesia. Karakter musik yang agresif, pesan politik yang kritis dalam lirik-lirik lagu yang mereka bawakan, dan rasa persatuan sebagai bagian dari masyarakat yang termajinalkan mewakili perasaan mereka yang hidup dalam ruang sosial, politik, dan budaya yang menindas. Dari sinilah lahir berbagai skena musik underground di kota-kota besar di Indonesia.

Keberadaan skena musik underground yang mendifusikan pesan-pesan politik anti-kemapanan (menginginkan perubahan) melahirkan anak-anak muda yang kritis terhadap kondisi politik nasional.

Pada akhir tahun 1990an muncul berbagai gerakan politik punk seperti Front Anti Fasis (FAF) yang secara kolektif memperjuangan hak-hak kaum buruh. Para aktivis punk juga aktif dalam melakukan resistensi terhadap rezim Orde Baru. Sebagaimana yang dikatakan oleh Jeremy Wallach, para pemuda underground ini merupakan agen demokratisasi dimana musik punk dan underground lainnya menjadi soundtrack dalam perjuangan mereka melawan rezim Orde Baru.

Tapi perlawanan itu historis. Artinya, perlawanan maknanya akan berubah sealur dengan perkembangan sejarah yang ada. Dick Hebdige, yang terinspirasi oleh pemikiran Roland Barthes, mengatakan bahwa setiap subkultur (seperti punk) yang merupakan medium perlawanan terhadap suatu sistem (budaya, politik) akan selalu melalui sebuah proses yang disebut ‘rekuperasi’ (recuperation).

Rekuperasi adalah sebuah proses penihilan makna simbol perlawanan. Dalam hal ini, budaya punk yang sebelumnya identik dengan budaya perlawanan (sangat politis) dibuat menjadi tidak bermakna dan terlebih lagi, menjadi bahan cemoohan. Menurut Hebdige, proses rekuperasi dilakukan melalui 2 proses, yaitu dengan menjadikan budaya punk sebagai komoditas komersil (komodifikasi), dan mendomestifikasikan seluruh simbol perlawanan kepada sistem kemapanan. Walhasil, punk yang tadinya ‘garang’, ‘agresif’, dan ‘politikal’ berubah menjadi simbol tanpa makna alias nihil.

Kini di Indonesia jika ada yang mengaku dirinya ‘punk’, seringkali klaimnya itu tidak lebih dari sekedar pencitraan. Punk kini tidak seperti punk dahulu tahun 1990an. Makana resistensinya terhadap sistem yang mapan menjadi dipertanyakan. Kini band-band punk bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan kapitalis, bahkan bekerjasama dengan aparat militer. Padahal sebelumnya, dasar perlawanan kaum muda punk di Indonesia adalah perlawanan terhadap kapitalisme dan militerisme yang diejawantahkan dalam sistem pemerintahan Orde Baru.

Pertanyaannya adalah, apakah masih bisa disebut ‘perlawanan’ jika kaum punk ini bekerjasama atau masuk kedalam sistem yang sebelumnya mereka lawan? Jika iya, bagaimana? lalu apa yang mereka lawan? Saya pribadi melihat kebanyakan kelompok pergerakan sosial yang diprakarsai anak muda Indonesia (baik itu mahasiswa maupun aktivis-aktivis lain) terjebak dalam sebuah disorientasi.

Ucok sendiri menyebutkan bahwa kini mahasiswa masih banyak yang ikut-ikutan dengan pola perlawanan lama yang sudah usang (demonstrasi di jalanan, teriak-teriak, berikut tidak memahami dan mengetahui outcome dari tindakannya tersebut).

Mungkin ini saatnya kita semua menafsirkan kembali makna dari sebuah perlawanan. Apa itu perlawanan? Mengapa kita mesti melawan? Apa tujuan dari perlawanan tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini sama sekali tidak digubris dalam diskusi di ruangan saat itu. Entah memang sulit untuk dijawab, atau memang tidak ada jawabannya. Apakah kita semua kini sudah menjadi terdisorientasi?

Musik memang sebuah media perlawanan. Tapi ia sebenarnya ‘netral’ atau ‘bebas nilai’ ujar Idhar. Adalah orang-orangnya yang memberikan makna pada musik tersebut. Seperti pisau, kata Ucok: “Apakah pisau itu mau dipakai untuk memotong buah, atau untuk membunuh?” Apakah ia mau digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat untuk kita atau justru sebaliknya.

Musik di Indonesia bukan saja dipakai sebagai media perlawanan, tapi sudah menjadi bagian dari komoditas ekonomi dan politik. Orang berbisnis dengan musik. Mencari sesuap nasi dan mengisi tabungan masa depan. Musik juga dipakai untuk kampanye partai dan pemilihan gubernur dan walikota untuk meraup masa sebagai propaganda politik.

Musik hanya sebuah media. Jiwa perlawanan, terletak pada diri manusia bukan pada musik. Tapi sekali lagi saya tanyakan, “apa yang mau kita lawan?” (Sumber)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan