artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

INDRA MENUS TENTANG TO DIE (Wawancara "Agak" Ekslusif)


By on 30.8.13

Indra Menus hanyalah salah satu dari beberapa penggiat scene yang kami pernah bertemu beberapa tahun lalu di Kota Jogjakarta dan sekarang sering liat aktifitasnya di jejaring sosial. Yang bikin kami penasaran adalah tentang keberadaan bandnya bernama TO DIE yang masih bertahan sekian tahun walau secara konseptual musiknya merupakan musik yang secara umum sulit diterima untuk standar kuping penggiat scene HC/Punk Nusantara ini. Tanya punya tanya, ada beberapa poin yang kami simpulkan menjadi rumusan seorang Indra Menus "kenapa masih bisa bertahan dan mempertahankan" eksistensi TO DIE hingga saat ini. Ya, dibalik kebanyolan sosok Indra Menus ternyata menyimpan sejuta keseriusan yang santai dan sangat inspiratif ternyata. Berikut wawancara jarak jauh yang agak ekslusif kami dengan Indra Menus ... Aseli, jawabannya dijamin 100% kaya vitamin W (wawasan) dan Vitamin I (Inspirasi) ... gak percaya?? baca aja deh ah ... hehe

NB: Kenapa bernama TO DIE apa yang melatar belakanginya dan bisa jelaskan secukupnya tentang perjalanan TO DIE dari awal sampai sekarang ...

IM: jadi awalnya dulu itu namanya adalah Today Is Chaos, pas era 97-98 kan era nya lg "kacau" tuh. nah dr situ mikir, kepanjangana jdnya kadang suka di singkat aja Today. lama kelamaan krn personel nya jg gonta ganti (akhirnya musiknya juga, walaupun msh lingkup HCPunk), yaudah ganti aja sekalian yg lebih personal..akhirnya pake nama To Die aja, karena era tersebut saya keranjingan sama yang namanya kematian hehe.. zine saya Matigaya, label saya Relamati Records..klop banget tema nya hehe nah trs ternyata kutukan ganti ganti member itu masih nerus

entah karena saya nya yg terlalu raw atau temen temen yg suka bosen band band nan sama saya hahaha..tapi kadang saya suka heran, beberapa member yang bikin side project akhirnya malah band side project nya tadi yang lebih di kenal. nah karena pergantian member tadi akhirnya musik yang di bawakan kadang berubah walaupun basic nya tetep HCPunk. dan kami putusin bahwa To Die menjadi semacam workshop kolektif, jadi orang bebas keluar masuk dari band ini.

NB: Pertanyaan standar hehe ... Apa genre (menurut anda) dari musik yang TO DIE mainkan ini (selalu ada perubahan yang sedikit signifikan setiap TO DIE merilis materi baru)? dan kenapa begitu tertarik dengan jenis musik ini, bisa dijelaskan?

IM: yak, karena tadi udah di jelasin di point pertama tp bisa deh di jelasin lagi hahaaha. basic nya To Die tetep ke Hardcore Punk, secara roots, character dan attitude. masalah genre, menurut saya yang terinspirasi sama Refused "the shape of punk to come", Experimental/Noise itu salah satu bentuk nyata evolusi Punk. Secara attitude, networking dan lain lain mirip dengan era awal DIY Hardcore Punk. kebanyakan musisi Experimental/Noise melabrak semua batasan yang ada di musik (sama seperti Punk di era awal nya), rilisan juga melalui label DIY atau self-release (sama seperti DIY Punk), networking nya pun sama. dan bahkan kebetulan saya nemu beberapa ulasan menarik dari beberapa individu yang sebelumnya berada di scene Hardcore Punk yang kemudian memilih atau menyukai Experimental/Noise ini dengan alasan bahwa ini sebuah bentuk evolusi Punk yang mereka kenal sebelumnya. Secara sekarang kan Hardcore Punk sendiri malah berbalik arah menjadi sesuatu yang di kapital kan. Sama seperti Punk era 70an yang di rengkuh oleh industri, di jinakkan dan kemudian di modifikasi untuk di jual kembali menjadi sesuatu yang tersusun rapi dan ter definisi dengan jelas. Ini sesuatu yang setidaknya masih belum terlihat di scene Experimental/Noise.. Nah kalo berbicara dengan tentang genre To Die, saya bisa bilang ini band Hardcore Punk yang memainkan Experimental/Noise.

Ohya, beberapa individu yang saya ceritakan tadi semisal Henry Rollins, bahkan hampir semua founding father Napalm Death kemudian beralih ke scene Experimental/Noise semisal Nick Bullen sama Justin Broadrick, 

NB: Satu lagi Mick Harris dengan SCORN-nya ... yak?? hehe

IM: iyak, kayaknya smua member awal ND beralih ke Exp/Noise hahhaa..


NB: Musik yang dimainin TO DIE ini bisa dibilang gak lumrah menurut standar kuping HC/Punk lokal sini, nah bagaimana awalnya scene menerima musik anda ini atau bagaimana anda menyiasatinya agar musik yang TO DIE mainkan ini (atau TO DIEnya itu sendiri) bisa diterima dan bertahan di scene?

IM: harap di ingat, kalo dari awal kita mau "bermain" di scene Punk, dan berharap musik nya untuk di terima itu aja udah gak tepat. kalo kamu mau bermain musik yang bisa di terima ya jangan maen Punk, maen aja Pop. dan itu sudah saya sadari dari awal. jadi saya gak berharap banyak apakah orang bakal menerima musik yang To Die bawakan atau enggak. saya udah bertekad, ya ini hobi saya yang dibikin bareng bareng sama kolaborator saya, dan saya gak peduli situ suka atau enggak, nerima atau enggak. dari awal pun musik yang di bawain To Die kurang di terima sama scene di Jogja sendiri karena ya emang jarang sekali. kadang saya ngerasa kok musik yang kami bawakan tuh selalu gak pas timming nya. pas era kami maenin Powerviolence, jarang ada yang suka tapi begitu banting stir ke Experimental/Noise, orang mulai tertarik sama Powerviolence bahkan beberapa band Powerviolence baru udah muncul di Yk. gila aja, butuh hampir 10 tahun lebih untuk regenerasi dari band band gelombang pertama (Mortal Combat, Sehat Dan Kuat, To Die, Traumatized dll) dengan gelombang ke dua. belum lagi dengan banyak cerita cerita berbumbu tusukan belakang hehe .. btw, salah satu alasan kenapa kami suka memainkan Experimental/Noise setelah era Powerviolence tadi ya karena Man Is The Bastard dan band2 turunan nya (Bastard Noise, Man Is The Bastard Noise dll). menurut saya mereka lah benang merah yang menghubungkan antara Hardcore Punk, Powerviolence dan Experimental/Noise. dan mereka sama sekali gak nge-trend di scene Powerviolence walaupun mereka band pertama yang menulis lirik Powerviolence secara resmi di lirik lagu mereka.

NB: Tadi masalah musik ... nah bagaimana dengan masalah penulisan lirik? lebih cenderung enjoynya ke arah mana? dan kenapa juga kearah sana?

IM: lirik sik awal awal masih berbau politik, yah era nya pun masih era reformasi hehe..terus akhirnya setelah baca sana baca sini saya menyimpulkan bahwa personal pun bisa menjadi pintu politik yang lebih luas. terus saya perbanyak referensi tentang sastra, puisi, curhatan pokoknya yang bisa masuk ke wilayah personal tadi deh. dan saya ngerasa lebih enjoy sama penulisan lirik sekarang, lebih personal dan itu apa yang saya rasakan waktu itu. dan kalo mau di implementasikan ke wilayah politik pun sebenarnya masih bisa.

NB: Kembali ke masalah kutukan gonta ganti line up tadi ... Bisa sebutkan sekali lagi line up TO DIE dari awal? dan apa yang ada di TO DIE ini memiliki band lain atau bagaimana?

IM: duh,aku agak lupa tuh ahaha...era awal sih jaman SMA, saya di bass (walaupun smpe sekarang gak tau kord gitar sm maen bass gimana), Rosi di drum sama Anton di drum. band satu kelas waktu SMA. maenin Green Day hahaha. lanjut kuliah, karena yang dua itu pindah pulau, akhirnya saya jamming sama beberapa temen kuliah yang ngePunk waktu itu, ada Koes di gitar, Nurhana di bass, Adit di drum. ini era 1999, mulai nyoba ngrekam demo live pake tape. ada neh satu rekaman demo di era ini di diskografi nya To Die, cover song Discipline "Front Line Skin" . Koes sama Adit sedikit lost interest sama Punk yang akhirnya saya ketemu sama temen SMA saya Wahyu (Youth Of Struggle) yang kemudian jadi drummer di To Die. Nah Wahyu ini punya teman karib namanya Negro (Revolted dll) yang kemudian jadi tandem abadi saya di To Die karena selama hampir 10 tahun kemudian saya masih bermain bersama dia. Nurhana keluar karena dia memilih bekerja di Bali dan sukses menjadi manajer sebuah tour and travel terkenal di sana. sementara Robi (Snack Oi!) di tarik menjadi bassist karena Robi salah satu teman terbaik dan juga bassist Punk terhandal yang kami kenal. line up ini kemudian di tambahin lagi oleh Kething (Kikil Jenazah, LWLW) di posisi gitar 2, Fredi (Human Chaos) di posisi vokal 2 dan Desi sebagai vokal 3. dan kemudian satu satu copot mulai dari Fredi, terus Desi yang konsen dengan kuliah nya. Kething kadang masih suka bantu kalo lagi gak ada kerjaan. akhrinya formasi saya di vokal, Negro di gitar, Robi di bass serta Wahtu di drum menjadi formasi tersolid dan terlama To Die. sampai kemudian Wahyu pindah ke Bengkulu untuk menjadi mandor kelapa sawir (dan kemudian PNS), lalu di ganti Bendot (sebelumnya di Baby's Sexy, band melodic Punk dan setelah bermain di To Die, dia menjadi drummer juga di Reason To Die, Strength To Strength dan Cherrybull).. Robi sempat menghilang karena masalah daun dewa yang akhirnya membuat formasi kami menjadi 3 orang selama beberapa waktu. lanjut kemudian Negro intens dengan grup Hip Hop nya DPMB ( dengan M2MXO dari Jahanam sebagai salah satu MC nya) plus urusan yang menjadikan nya harus pindah ke Bali membuat saya harus mencari gitaris ke dua. dan akhirnya saya ketemu Yuda Matirasa dan mengajak dia menjadi gitaris di To Die. di era ini saya rasa musikalitas To Die bener bener paling maksimal. tapi ini juga gak berlanjut lama, Yuda kemudian membentuk Wicked Suffer dan sibuk dengan tour dan gig nya. saya gak ada masalah dengan ini, bahkan seneng kalo ada kolaborator To Die yang berhasil dengan band baru nya. dan kami pun masih berteman bahkan kadang kadang bermain bareng dengan To Die. Bendot pun sibuk dengan Reason To Die dan saya pun kembali mencari kolaborator lain. muncul band grindcore baru yang keren namanya Dragdown, saya suka sama karakter Anggi dengan sound bass nya yang mantab, sekalian aja dengan Aun drummer nya untuk berkolaborasi di To Die. sempat berlatih 2x untuk kemudian tour dengan format bass dan drum. Man Is The Bastard kali ini jadi acuan kami..kemudian Anggi pun sibuk dengan pekerjaan serta anak dan istrinya, Aun sibuk dengan KKN akhirnya saya memutuskan solo karir aja dan mengajak mereka kalo mereka lagi senggang. jadi itu kenapa kemudian To Die kadang bermain format one man dan kadang band.. dari Man Is The Bastard tadi saya mikir, owh kayaknya emang ini semacam fase fase natural yang kemudian membuat To Die "masuk" ke scene Experimental/Noise.

NB: Rata-rata personil bertahan berapa lama gabung di TO DIE? dan siapa paling lama bertahan?

IM: rata rata sekitar 1-3 tahun. kalo yang paling lama gabung itu Negro, dia udah di line up era 2000 - 2008 kalo gak salah. itu udah sehati banget sama saya kalo urusan bikin musik

NB: Terakhir dengan siapa aja?

IM: terakhir ya sama Aun dan Anggi, formasi Bass sm drum..kadang Yuda suka jamming juga maen gitar..pernah maen beberapa kali sama Ican (Cangkang Serigala, Anus Apatis) juga. dia 2 kali jadi vokal dan 1 kali nge drum

NB: TO DIE dengan karakter musik eksperimental/noise, suka milih-milih main di gigs gak? Kalo iya, dimana di gigs yang kaya apa yang menurut anda asik? 

IM: iya sih, kalo To Die suka milih maen. pertama karena kami pengen memberikan jatah kami untuk band band baru yang masih muda, yang masih ngejar jam terbang lah istilah nya. bukan nya sok tua sih, tapi kami udah gak ngejar maen lagi, tapi banyakin dokumentasi (rekaman, rilisan). kalo emang kami suka sama konsep acara nya, sama venue nya (kami lebih suka maen di venue kecil, studio show) dan pas emang lagi pengen maen ya maen aja. no sponsor korporat tentu nya. dan kami gak masalah kok buat iuran kolektif untuk membiayai bersama sama gig tersebut. dengan catatan kalo memang itu iuran nya buat menutup biaya produksi gig tersebut. inti nya ya kita juga harus tau iuran kolektif tadi buat apa, harus jelas itung2an nya..jangan mau di bodohin dengan embel embel iurang kolektif.

gig yang asik.. gig yang asik dan cocok untuk band seperti To Die tuh gig di venue kecil (maksimal 50 orang), dengan band sedikit biar band bisa maen secara maksimal dan gak di kejar2 urutan maen. maen di jalanan dengan memakai fasilitas umum juga asik tuh, temen2 di Yk bikin Jogja Noise Bombing dengan sistem memakai listrik curian. (cek: www.jogjanoise.com) dan itu ilegal, suka di usir satpam hahaha..

NB: Dimana terakhir TO DIE tampil di gigs??

IM: terakhir To Die maen di Jogja Noise Bombing, sebenarnya bukan seperti gig yang biasa kita bikin sih. jadi bareng2 antara yg maen kita bawa ampli,kabel2, alat, mixer dll muter kota sambil nyari colokan listrik liar. terus maen di situ, di usir satpam, pindah ke tempat lain. seru dan organik sekali hahaha

itu formasi one man

kalo formasi full band maen di acara reunian formasi era 2001. bulan puasa tahun lalu di JNM, waktu itu Negro balik ke Yk, Robi juga udah di Yk terus saya inisiatif mengajak mereka reunian.latihan 1 kali, bikin 4 lagu. pas maen live, cuma 2 lagu yang sama di bawain pas latihan, yang lain nya improvisasi semua hahahaa

sejujurnya sih kenapa saya nyaman membawakan Experimental/Noise tuh karena sejak awal pun sound kami semacam di set raw, noise serta kalo maen pasti banyak improvisasi hahaha semacam fase alamiah

latian nya lagu apa, pas maen lagu nya beda, pas di rekam beda lagi hahaha

NB: Kalo boleh tau, Band apa yang paling anda inginkan selama ini untuk tampil bareng dengan TO DIE dalam satu gigs??

IM: wah susah ini hahaa..saya lebih suka kalo bisa kolaborasi dalam 1 gig. kemaren sih udah kolaborasi sama Sodadosa, Ican Anus Apatis/Cangkang Serigala. kalo dari luar sih pengen sama Incapacitants, Jepang. gila ini duo Noise, udah kakek kakek juga masih sangar aja. kalo lokalnya pengen kolaborasi impromptu sama Ucok eks Homicide. Noise Rap hahhaa

NB: Mengandai-andai aja ya ... kalo band luar yang lawas-lawas, TO DIE maunya main dengan siapa dalam satu gigs?

IM: Incapacitants mas bro, mrk udah dari 1981 sampe sekarang msh aktif 

Hijokaidan juga oke tuh, lawas banget

NB: MITB? Gmn?

IM: ini baru mau nambahin hehe.. sama Man Is The Bastard atau Bastard Noise pasti oke juga tuh

NB: Sekarang mengenai rilisannya TO DIE ... udah berapa banyak? dan yang terakhir rilisannya?

IM: aduh, itu lah kejelekan saya. saya udah gak pernah update lagi rilisan2 to die terbaru.terakhir saya itung sih lebih 100 rilisan. itu belum termasuk beberapa rilisan digital yang terbaru. mungkin sekitar 125 rilisan.. rilisan terbaru berupa boxset 3 tape Grind Your Lunch.

oh ya, buat tambahan tentang jawaban mengenai line up. kenapa kok aku tetep mempertahankan nama To Die padahal line up nya aja udah ganti ganti? karena saya udah pernah bikin proyekan dengan nama lain buat nerusin To Die (namanya Kill Aquarian Soulmate) tapi ya tetep aja saya mikirnya ini gak beda sama To Die karena otak nya tetep di saya. sempat mau berbagi pemikiran dengan sesama member tapi masih belum nemu orang yang passion nya terhadap To Die sebesar passion saya. dan orang pun tahu, mau di ganti nama apa juga kalo saya tetap jadi otak nya ya tetep bakal di anggap semacam "the next To Die dari member jebolan To Die" hehe. jadi, saya nggak mempertahankan nama ini dengan alasan nama ini udah di kenal (kata siapa jg di kenal, di kota sendiri juga banyak yg nggak ngerti sama band ini), tapi karena percuma aja mau di ganti nama apapun nanti aroma nya juga gak bakal jauh dari situ situ aja. lagian band ini sistem nya kan emang open kolaborasi.. di samping itu, musik yang kami bawakan dengan satu line up itu selalu berbeda dengan line up yang lain nya dan kami gak pernah membawakan lagu yang di bikin dengan line up sebelumnya. jadi beda line up, beda lagu bahkan beda musik.

NB: Ada rencana mau rilis yang terbaru?

IM: ada neh, split 10" lathe cut sama Holiday Suckers (10 pcs, 10 lagu, 10 menit) ..split tape dengan Krupskaya (UK grind)..

NB: Hmmm ... mantap ... Mau sampai kapan sama TO DIE nus?

IM: ini semacam hobi bro, kayak kalo orang tua gitu melihara burung, nah saya band2nan hehe..di negri macam Jepang gitu banyak yg seperti ini, mrk gak mikirin mau maen dimana, mau terkenal atau tour ke mana mana. mrk cuma mau maen sampai tua dan have fun sama hobi ini.makanya band2 Japannoise yang lama, jarang banget yang terkenal kecuali bila kamu memang ngulik scene ini. bener2 underrated.. nah aku pengen seperti itu, maen di To Die sampai tua dan band tetep underrated..gak susah kok, wong cuma muter knob aja sambil kuping nya di sumpel penutup telingan hahaha

NB: Two Thumbs Up!! Menganga saya liat jawabannya hehehe ... Terakhir nih, di scene lokal sini band apa yang sangat-sangat jadi favoritnya seorang Indra Menus??

IM: haha sangat sangat susah ini. soalnya banyak. saya suka band underrated yang punya konsep bagus baik dari lirik, performance sampai aransemen musiknya. salah satu nya Melancholic Bitch. ini band Jogja lama yang underrated juga. awalnya mereka maen Experimental, terus akhirnya menjelma menjadi sebuah band Avant Garde yang membalut konsep Experimentasi mereka dengan nuansa Rock, bahkan Elektronik. Band yang ber konsep matang mulai dari lirik, performance sampai musik. Band ini jarang banget maen tapi sekali maen, di jamin puas. Bahkan band seperti Efek Rumah Kaca menganggak band ini sebagai bentuk lanjut dari ERK.

NB: Oke Mas Indra menus yang guantengnya ngalahin jalan malioboro ... sukses selalu ya ... dan terimakasih banyak atas kesempatannya ...

IM: di kira jalan rayaa kaleee hahahaa ... suwun mas e


===============================================================

Jejak Indra Menus di dunia maya:
- Relamati Records (Souncloud): https://soundcloud.com/relamatirecords
- Relamati Records (Bandcamp): http://relamatirecords.bandcamp.com
- TO DIE (MS): http://www.myspace.com/toxdie

Pewawancara: Grindhacker

TO DIE streaming: 

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan