artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

TENTANG GAYA HIDUP KONSUMTIF DAN GEJALA SHOPAHOLIC!


By on 20.7.13

Konsumerisme tampaknya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat modern saat ini. Hal ini pulalah yang menjadi salah satu penyebab mengapa Indonesia meraih “prestasi” sebagai negara kedua paling konsumtif sedunia setelah Singapura. Ironis memang, Indonesia yang dikenal akan kekayaan alam, budaya serta keluasan wilayahnya mendapat predikat seperti itu. Apa pasal? Sebagian besar masyarakat kita lebih suka menjadi pengguna (konsumen) daripada produsen. Menjadi seorang produsen memang tidaklah mudah, butuh modal yang tidak sedikit dan mental wirausaha yang tahan banting. Kebanyakan dari masyarakat kita lebih suka sesuatu yang mudah dan cepat. Mereka berpikir “Ngapain repot-repot menciptakan sendiri, kalau bisa tinggal beli?” Berangkat dari situlah sikap konsumtif semakin menjalar dan meluas.

Tak dapat dipungkiri, berbagai kemudahan akses teknologi informasi juga turut berperan aktif di dalamnya. Iklan yang semakin gencar di berbagai media. Mall dan pusat perbelanjaan yang menjamur baik di kota besar maupun kecil, yang meskipun dibangun berselang beberapa meter, namun anehnya tak pernah sepi pengunjung. Itulah yang kemudian mendorong orang untuk menjadi konsumtif. Bagaimana bisa? Misalnya, ketika berjalan-jalan di mall, entah niat awalnya memang untuk berbelanja atau sekadar melihat-lihat (window shopping), saat melewati deretan toko-toko dengan pajangan yang apik ditambah tawaran diskon yang membuat lapar mata, mau tidak mau mendorong keinginan kita untuk membeli. Bagi yang berduit langsung tinggal membeli saja, namun bagi yang tidak, kartu kredit menjadi solusinya. Akhirnya tanpa sadar, tagihan bertumpuk di akhir bulan.

Apa itu konsumtif?

Mungkin dari kita ada yang masih bingung sebenarnya apa yang dimaksud konsumtif. Apakah jika kita membeli dalam jumlah banyak selalu dikatakan konsumtif? Belum tentu. Kalaupun kita membeli dalam jumlah banyak tapi sesuai kebutuhan, dalam artian kebutuhan yang harus dipenuhi pun banyak, itu tidak termasuk dalam konsumtif. Konsumtif adalah keinginan untuk membeli barang atau menggunakan jasa yang belum tentu dibutuhkan, secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal.

Misalnya begini. Suatu saat Ibu Irma pergi ke supermarket untuk belanja bulanan barang kebutuhan pokok. Dari rumah, Ibu Irma sudah menyiapkan daftar barang-barang yang ingin dibeli. Sesampainya di supermarket, ternyata sepatu dengan merek yang sedang tren saat ini tengah menggelar diskon besar-besaran. Hanya dengan mendengar kata “diskon” saja, sudah mampu membuat Ibu Irma tertarik. Akhirnya dibelilah sepatu tersebut padahal tidak ada “sepatu” dalam daftar belanjaannya. Tak hanya satu, Ibu Irma membeli empat pasang sekaligus. Tindakan yang dilakukan Ibu Irma tersebut sudah termasuk dalam perilaku konsumtif.

Kebutuhan vs Keinginan dan Gengsi

Sering kali orang yang konsumtif, membeli bukan karena kebutuhan, tapi didasari keinginan sesaat, sekadar mengikuti tren atau menjaga gengsi. Aktivitas konsumsi kini mulai bergeser maknanya, dari yang dulu dipandang dari nilai guna, kini dipandang dari nilai citra. Orang merasa menempati status sosial tertentu jika memiliki barang tertentu. Misalnya tablet PC. Mengapa orang membeli tablet PC? Memang membutuhkan atau ingin dianggap keren? Bagi seorang dengan mobilitas yang tinggi, yang tidak memungkinkan menyelesaikan pekerjaan dalam satu tempat, memiliki tablet PC mungkin adalah pilihan yang tepat. Selain ringan, dapat dibawa kemana pun ditambah sistem operasi yang mudah, membuat pekerjaan kembali lancar dimana pun dia berada. Namun bagi orang yang setiap hari berada di rumah atau seorang anak yang baru duduk di bangku SD (Sekolah Dasar), apakah memiliki tablet PC sudah tepat? Memang bisa dibilang itu hak pribadi setiap orang untuk memiliki suatu barang, tapi alangkah lebih bijak jika anggaran untuk membeli tablet PC dialihkan untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih penting dan mendesak. Kalaupun untuk alasan sebagai media belajar, anak bisa meminjam milik orang tua atau saudara, tak perlu harus memiliki sendiri. Alasannya selain faktor efisiensi nilai guna barang, faktor keamanan juga perlu dipertimbangkan. Seorang anak dengan barang yang terlihat mahal, kemungkinan besar dapat mengundang tindak kejahatan.

Alasan lain mengapa orang konsumtif adalah karena orang akan lebih percaya diri bila dari ujung kepala sampai ujung kaki menggunakan barang yang serba mahal danup to date. Mereka tidak ingin dianggap ketinggalan zaman, kuno atau kampungan. Mereka membutuhkan pengakuan dari masyarakat, yang pada akhirnya membuatnya rela melakukan apapun asal bisa membeli barang yang didambakan. Rela meski utang bertumpuk-tumpuk karena menggunakan kartu kredit yang melebihi kapasitas, toh orang lain juga tidak bakalan tahu.

Remaja dan anak-anak = pasar potensial

Banyak yang mengatakan pola konsumsi seseorang terbentuk saat remaja, bahkan bisa jadi saat anak-anak. Seperti yang kita ketahui, remaja dan anak-anak adalah kelompok usia yang labil. Mereka cenderung mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan, ingin up to date dan cenderung boros. Maklum saja, pada fase ini, mereka masih berusaha mencari identitas diri. Namun parahnya, identitas tersebut mereka cari dari model baju yang sedang tren, gaya busana sang idola atau teknologi yang tengah digandrungi saat itu. Padahal, tren mudah sekali berubah. Bisa jadi model busana seperti ini sedang tren, tapi beberapa bulan kemudian, mungkin saja tren berganti. Inilah yang kemudian dimanfaatkan para pelaku bisnis untuk mencari keuntungan. Bagi mereka, remaja dan anak-anak merupakan pasar yang potensial.

Pria juga konsumtif

Selama ini, konsumtif selalu identik dengan kaum wanita. Padahal menurut penelitian, para pria pun berpotensi memiliki perilaku konsumtif. Bedanya, kalau kaum wanita, menghabiskan uang untuk berbelanja baju dan kosmetik dalam jumlah banyak. Sedangkan pria walaupun frekuensinya jarang, tetapi sekali berbelanja jumlah uang yang dkeluarkan lebih banyak, meski cuma satu barang yang dibelinya. Hal ini karena barang-barang yang dibeli oleh pria cenderung mahal seperti gadget, aksesoris mobil dan peralatan olahraga.

Awas gejala shopaholic

Perilaku konsumtif yang berlebihan, apabila dibiarkan dapat mengakibatkan seseorang menjadi shopaholic. Apa itu shopaholic? Shopaholic berasal dari katashop yang berarti belanja, dan holic yang berarti kecanduan. Artinya orang yangshopaholic tidak mampu lagi menahan keinginannya untuk berbelanja lagi dan lagi. Bagi mereka, sehari tanpa berbelanja, dunia terasa hampa. Bahkan kegiatan belanja kerap kali dianggap sebagai suatu pelarian atas segala masalah yang menimpanya. Apakah Anda termasuk shopaholic? Simak gejala-gejalanya berikut ini :

  • Sangat bersemangat ketika berbicara tentang rencana jalan-jalan untuk belanja.
  • Merasa puas dan senang ketika mampu membeli barang yang diinginkannya, tapi kemudian merasa bersalah melihat barang yang dibeli ternyata tidak terlalu dibutuhkannya.
  • Merasa terganggu dengan kebiasaan belanjanya, tapi di saat yang sama tidak mampu mengontrol kebiasaan tersebut.
  • Rumah penuh dengan barang-barang yang baru dipakai sekali atau bahkan belum digunakan sama sekali.
  • Tagihan kartu kredit atau utang yang bertumpuk-tumpuk.
  • Selalu berbohong mengenai jumlah uang yang dihabiskannya.

Shopaholic tak hanya berdampak secara finansial saja, namun juga berdampak pada psikologi dan kehidupan sosialnya. Shopaholic dapat membuat pelakunya mengalami depresi dan rasa gelisah yang berkepanjangan. Hubungan dengan keluarga dan teman pun bisa jadi berantakan akibat kebiasaan yang tidak terkontrol ini.

Hindari gaya hidup konsumtif dan shopaholic

Konsumtif dan shopaholic, keduanya merujuk pada tindakan pemborosan dan kesia-siaan. Lalu bagaimana cara untuk menghindarinya?

  1. Membuat skala prioritas. Setiap kali berbelanja, buatlah daftar barang yang hendak dibeli dan urutkan menurut tingkat kepentingannya. Mana barang yang penting dan mendesak, mana yang kurang penting dan mana yang tidak terlalu dibutuhkan.
  2. Mengendalikan diri yaitu dengan cara mematuhi daftar belanja Anda. Meskipun di depan Anda digelar diskon besar-besaran, selalu ingatkan diri bahwa Anda tidak ingin konsumtif dan barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.
  3. Kurangi penggunaan kartu kredit. Setiap berbelanja, bawalah selalu uang tunai dan pastikan jumlahnya cukup untuk membeli barang yang Anda butuhkan.
  4. Bagi orang tua, ajarkan kepada anak Anda cara mengatur keuangan sejak dini, agar ketika dewasa dapat terhindar dari gaya hidup konsumtif. Artikel terkait dapat dibaca di sini.
  5. Jika Anda sudah termasuk orang yang shopaholic dan tidak mampu lagi mengontrol keinginan berbelanja, segera temui psikolog. Lakukan terapi yang disarankan.
Sering kali tanpa sadar orang menjadi konsumtif. Pada awalnya, dia hanya menginginkan satu barang, tapi ternyata keinginan tersebut semakin menjadi-jadi ketika melihat barang lain juga tampak menarik dan barang tersebut seolah-olah “memanggil-manggil” untuk dibeli. Memang, niat saja tidak cukup untuk menghindarkan kita dari perilaku konsumtif dan shopaholic, namun perlu juga dibarengi dengan pengendalian diri yang kuat. Tak perlulah kita menyalahkan iklan yang tampak menggiurkan, tren yang berkembang atau beragam diskon yang digelar, semua itu kembali pada pribadi masing-masing, apakah kita benar-benar ingin keluar dari perilaku konsumtif atau tidak. Sekali lagi, Andalah yang memegang kendali. (sumber)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan