artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

HAK UNTUK MALAS, Paul Lafargue (Bagian IV - habis)


By on 23.7.13

4. Lagu Baru untuk Musik Baru

Kita telah melihat bahwa dengan mengurangi jam kerja, tenaga-tenaga mekanik baru akan dikuasai untuk produksi sosial. Lebih jauh lagi, dengan mewajibkan para buruh untuk mengkonsumsi produk-produk mereka, tentara pekerja akan meningkat dengan sangat besar. Kelas kapitalis, begitu dilepaskan dari fungsinya sebagai konsumen universal, akan bersegera membubarkan barisannya yang terdiri atas serdadu, hakim, wartawan, perantara/agen, yang dulu ditariknya dari kerja yang berguna untuk membantunya dalam mengkonsumsi dan memboroskan. Lalu pasar kerja akan membludak. Kemudian akan diperlukan hukum besi untuk memberlakukan suatu batas atas kerja. Akan mustahil untuk menemukan lapangan kerja bagi sekawanan mantan orang tak produktif, yang jumlahnya lebih banyak daripada serangga parasit. Dan setelah mereka, harus pula dipertimbangkan semua orang yang menyediakan kebutuhan-kebutuhan mereka serta selera mereka yang mahal dan tak berguna. Bila tak ada lagi penjilat dan jenderal untuk diberi medali kehormatan, maka tak akan ada lagi pelacur yang bebas dan yang menikah untuk dibalut dengan renda-renda; tak akan ada lagi meriam untuk dilubangi; tak akan ada lagi istana yang perlu dibangun; akan diperlukan hukum-hukum yang keras untuk memaksa para perempuan dan laki-laki pekerja yang dipekerjakan untuk membuat renda-renda bordir, dipekerjakan di tambang-tambang besi, bangunan, untuk melakukan latihan-latihan yang sehat dan gerak badan yang dibutuhkan untuk memulihkan kesehatan mereka dan memperbaiki ras mereka. Begitu kita mulai mengkonsumsi produk-produk Eropa di rumah sendiri, bukannya mengirim produk-produk itu ke mana-mana, akan perlulah kiranya para pelaut, pekerja dermaga dan pekerja transporasi pelabuhan untuk duduk dan belajar memutar-mutar ibu jarinya. Lalu orang-orang Polinesia yang berbahagia bisa bercinta sesuka mereka tanpa perlu takut kepada Venus dan khotbah-khotbah beradab dari kaum moralis Eropa.

Dan itu belum semuanya: Untuk bisa menemukan pekerjaan bagi semua non-produsen di masyarakat kita sekarang, agar bisa memberikan ruang bagi peralatan industri untuk terus berkembang secara tak terbatas, kelas pekerja akan dipaksa, seperti halnya kelas kapitalis, untuk melakukan kekerasan terhadap selera berpantangnya dan mengembangkan kapasitas konsumsinya secara tak terbatas. Bukannya memakan satu atau dua ons daging alot sekali dalam sehari (kalau memang ada yang dimakan), mereka malah akan memakan steak daging sapi segar sebanyak satu atau dua pon; bukannya meminum sedikit anggur berkualitas rendah, mereka malah akan menjadi lebih ortodoks daripada Paus dan meminum berliter-liter Bordeaux dan Burgundy tanpa perlu baptis komersial, dan akan membiarkan air untuk diminum binatang.

Kaum proletar telah mencamkan di kepalanya untuk membebankan kepada kaum kapitalis sepuluh jam di bengkel dan pabrik; itulah kesalahan besar mereka dikarenakan antagonisme-antagonisme sosial dan perang sipil. Kerja seharusnya dilarang, bukan dipaksakan. Keluarga Rothschild dan para kapitalis lainnya hendaknya diperkenankan mengungkapkan kesaksian tentang fakta bahwa selama keseluruhan hidupnya, mereka telah menjadi pengembara yang sempurna, dan jika mereka bersumpah bahwa mereka berharap untuk terus hidup sebagai pengembara yang sempurna meski ada keranjingan umum akan kerja, mereka seharusnya dipensiunkan dan setiap pagi di balai kota harus menerima sekeping emas lima dolar untuk uang saku mereka. Pertikaian-pertikaian sosial akan sirna. Para pemegang obligasi dan kapitalis akan menjadi yang pertama-tama berlari mendatangi partai popular begitu mereka yakin bahwa, bukannya ingin melukai mereka, tujuan partai itu justru adalah hendak melepaskan mereka dari kerja berupa konsumsi-berlebihan dan pemborosan yang telah menyelubungi mereka sejak mereka lahir. Adapun bagi para kapitalis yang tidak mampu membuktikan dirinya untuk menyandang gelar pengembara, mereka akan diperkenankan mengikuti nalurinya. Ada banyak pekerjaan menjijikkan yang bisa menampung mereka. Dufaure mungkin bisa ditempatkan untuk membersihkan wc-wc umum, Gallifet mungkin bisa melakukan operasi pembedahan pada kuda dan anjing yang sakit. Para anggota komisi amnesti mungkin bisa dikirim ke tempat-tempat penyimpanan ternak untuk mengambil sapi dan domba yang akan dijagal. Para senator mungkin bisa memainkan peran sebagai pengurus dan kacung dalam prosesi penguburan. Adapun bagi yang lainnya, pekerjaan bisa ditemukan untuk mereka sesuai dengan tingkat kecerdasannya. Lorgeril dan Eroglie bisa memasang sumbat botol-botol champagne, hanya saja mereka harus diberangus untuk mencegah keracunan. Ferry, Freycinet dan Tirard bisa membasmi kutu dan hama di departemen-departemen negara dan rumah-rumah masyarakat. Namun demikian, akan perlu kiranya menyimpan dana publik di luar jangkauan para kapitalis dikarenakan adanya kebiasaan-kebiasaan baru mereka itu.

Tetapi pembalasan dendam yang pahit dan panjang akan ditimpakan kepada kaum moralis yang telah memutar-balikkan sifat alami manusia--para bigot, orang taat gadungan, orang-orang munafik, dan sekte-sekte manusia lainnya yang menyembunyikan diri mereka seperti masker untuk menipu dunia. Karena sementara mereka menunjukkan kepada orang banyak untuk memahami bahwa mereka tidak sibuk tentang apapun selain kontemplasi dan beribadah puasa serta mengekang sensualitas mereka, dan bahwa mereka hanya makan-minum sedikit saja sekedar untuk bertahan hidup, yang terjadi justru sebaliknya, Tuhan mengetahuinya, kesenangan apa yang mereka perbuat; et Curies simulant, sed Bacchanalia vivunt (Mereka berpura-pura seperti Curius, namun hidup seperti kaum pemuja Bacchus). Anda bisa membacanya di surat-surat agung, dalam warna merah moncong mulut mereka, dan perut mereka yang membuncit seperti tong, kecuali jika mereka menyemprot tubuhnya dengan sulfur.(18) Pada hari-hari pesta besar, rakyat tidak lagi akan menelan debu seperti yang terjadi pada tanggal 15 Agustus dan 14 Juli di bawah kapitalisme. Kaum komunis dan kolektivis akan makan, minum dan menari sepuas hatinya, para anggota akademi ilmu moral dan politik, para pendeta yang berjubah dan yang mengenakan jas, baik dari kalangan ekonomi, Katholik, Protestan, Yahudi, maupun gereja positivis dan pemikiran bebas; para propagandis Malthusianisme dan propagandis Kristen, altruistik, etika independen ataupun dependen, yang berpakaian dengan warna kuning, akan dipaksa memegang sebatang lilin sampai lilin itu membakar jarinya, akan kelaparan di hadapan meja-meja yang dipenuhi daging, buah-buahan dan bunga-bunga, dan akan sangat menderita menanggung dahaga di hadapan bergentong-gentong minuman. Empat kali dalam setahun, seiring pergantian musim, mereka akan diikat dan dibekap seperti anjing pemutar gerinda asahan dalam roda-roda besar dan dihukum untuk memutar gerinda selama sepuluh jam.

Para pengacara dan pembuat hukum akan mengalami hukuman yang sama. Di bawah rezim kebersantaian, untuk membunuh waktu yang biasanya membunuh kita detik demi detik, akan ada berbagai pertunjukan dan pementasan teater terus-menerus. Dan persis di sinilah kita akan mendapatkan pekerjaan untuk para pembuat hukum borjuis kita. Kita akan mengorganisir mereka dalam kelompok-kelompok keliling untuk mendatangi acara-acara pasar malam dan kampung-kampung, menampilkan pertunjukan legislatif. Para jenderal yang memakai sepatu penunggang kuda, dada mereka yang cemerlang dihiasi medali dan lencana, akan menelusuri jalan-jalan dan lapangan, melakukan perekrutan di antara orang-orang yang baik. Gambetta dan kawannya, Cassagnac, akan menjaga pintu. Cassagnac, dalam kostum duellist lengkap, memutar-mutar matanya dan memilin-milin kumisnya, melakukan akrobat semburan api, akan mengancam setiap orang dengan pistol bapaknya dan segera membenamkan dirinya ke dalam lubang begitu mereka memperlihatkan potret Lullier kepadanya. Gambetta akan berceramah tentang politik luar negeri dan tentang Yunani Kecil, yang membuat dirinya menjadi doktor, dan akan membakar Eropa untuk menjarah Turki. Gambetta menjadi gila karena membayangkan janji Rusia Raya yang akan menghancur-leburkan Prussia dan akan senang melihat pergolakan muncul di sebelah barat Eropa sehingga menghias sarangnya di timur dan mencekik nihilisme di dalam negeri; tentang Tuan Bismarck yang cukup baik dengan mengizinkan dirinya mengumumkan amnesti ... kemudian menanggalkan pakaiannya untuk menunjukkan perutnya yang membuncit dan dicat dengan warna merah, putih dan biru, ketiga warna kebangsaan, dia akan membubuhkan tato ke atasnya, dan merinci ayam kampung yang enak, jamur yang sangat mahal dan bergelas-gelas anggur Margaux dan Y'quem untuk menggiatkan pertanian, dan untuk menjaga agar para pemilihnya di Belleville tetap berada dalam semangat yang bagus.

Di barak-barak, pertunjukan akan dibuka dengan parodi pemilu.

Dengan hadirnya para pemilih yang berkepala batu dan bertelinga keledai, para kandidat borjuis yang berpakaian seperti badut akan menarikan tarian kebebasan politik, mengecat tubuh mereka di bagian depan dan belakang dengan program-program pemilu yang mereka janjikan secara muluk, dan dengan air mata di matanya mereka bicara tentang penderitaan rakyat, dan dengan lantang mereka bicara tentang kejayaan Perancis. Kemudian para ketua pemilih tersebut akan meringkik dengan suara serentak: Horee! Horee!

Kemudian akan dimulailah drama besar, Pencurian Harta Bangsa.

Perancis yang kapitalis, seorang perempuan yang sangat besar, wajahnya berbulu dan kepalanya botak, gemuk, kendor, terengah-engah dan pucat, dengan mata yang cekung, mengantuk dan menguap, meregangkan tubuhnya di sofa beludru. Di kakinya ada Kapitalisme Industri, suatu organisme raksasa yang terbuat dari besi, memakai topeng seperti kera, secara mekanik mengganyang para lelaki, perempuan dan anak-anak, yang tangisannya yang melengking dan menyayat hati memenuhi udara; bank dengan moncong musang; sesosok badan hyena dan tangan monster, dengan cepat menjentikkan koin-koin dari sakunya. Kumpulan-kumpulan proletar yang sengsara dan kurus kering, yang berpakaian compang-camping, dikawal oleh polisi yang mengacungkan pedang, dan dikejar-kejar oleh hantu yang mencambuki mereka dengan cambukan kelaparan, membawa ke kaki Perancis kapitalis tumpukan barang, bergentong-gentong anggur, berkarung-karung emas dan gandum. Langlois, celana panjangnya di satu tangan, surat wasiat Proudhon di tangan lainnya, dan buku tentang anggaran nasional di antara gigi-giginya, tertanam di kepala para pembela properti nasional dan garda penjaga. Ketika para buruh, yang dipukuli dengan popor senapan dan ditusuk dengan bayonet, telah menurunkan beban yang dipanggulnya, mereka diusir dan pintu pun terbuka bagi para pengusaha, pedagang dan para bankir. Mereka menceburkan diri ke dalam hiruk-pikuk keberlimpahan, berebut melahap barang-barang katun, berkarung-karung gandum, batangan emas, mengosongkan bergentong-gentong anggur. Begitu mereka telah melahap segala yang mereka bisa, mereka limbung sampai jatuh, sosok-sosok yang kotor dan menjijikkan di antara tinja dan muntahan mereka. Kemudian terus bergemuruh, bumi bergetar dan merekah, Takdir Historis pun muncul, dengan kaki besinya dia menggilas kepala para kapitalis yang tersedak, berjalan terhuyung, jatuh dan tak bisa melarikan diri. Dengan tangannya yang besar dia melemparkan Perancis kapitalis, yang kaget dan berkeringat dingin ketakutan.

Jika--setelah kebiasaan buruk yang mendominasinya dan memerosotkan sifat alaminya dicabut dari hatinya--kelas pekerja mau bangkit dengan kekuatannya yang payah, bukan untuk menuntut Hak-hak Manusia, yang tak lain adalah hak-hak eksploitasi kapitalis, bukan untuk menuntut Hak untuk Bekerja yang tak lain adalah Hak untuk Menderita, melainkan untuk menempa sebuah hukum keras yang melarang setiap orang untuk bekerja lebih dari tiga jam dalam sehari, maka bumi, bumi yang tua ini, sambil bergetar kegirangan akan merasakan suatu semesta baru berjingkrak di dalamnya. Namun bagaimana kita hendak meminta proletariat, yang telah digerogoti oleh etika kapitalis, untuk mengambil sebuah keputusan yang gagah berani...

Seperti Kristus, personifikasi menyedihkan dari perbudakan kuno, para lelaki, perempuan dan anak-anak dari kalangan proletariat telah mendaki bukit Golgotha penderitaan selama seabad. Selama seabad kerja berat wajib telah mematahkan tulang-tulang mereka, melebamkan daging mereka, menyiksa syaraf mereka. Selama seabad kelaparan telah merobek usus dan otak mereka. Duhai Kemalasan, kasihanilah penderitaan kami yang panjang ini! Duhai Kemalasan, ibunda dari seni dan segala keutamaan yang mulia, jadilah engkau obat bagi penderitaan manusia!

APPENDIX

Kaum moralis kita adalah orang-orang yang sangat sopan. Kalaupun mereka menemukan dogma tentang kerja, mereka masih punya keraguan akan keampuhannya dalam menenteramkan jiwa, menggelorakan semangat, dan menjaga agar usus dan organ-organ lainnya berfungsi secara baik. Mereka berharap untuk mencoba keberfungsiannya pada rakyat jelata, pada anima vili, sebelum mengalihkannya kepada para kapitalis, yang mana memberi alasan dan mengesahkan kejahatan-kejahatannya adalah misi mereka yang aneh.

Tetapi kalian, hai filusuf-filusuf kacangan, mengapa kalian sedemikian memeras otak untuk merumuskan sebuah etika yang prakteknya tidak berani kalian sarankan kepada bos-bos kalian? Dogma kalian tentang kerja, yang begitu kalian banggakan, apakah kalian berharap untuk melihat dogma ini dicaci-maki, direndahkan? Mari kita buka sejarah masyarakat-masyarakat kuno dan tulisan-tulisan para filusuf serta para pembuat hukum mereka. "Saya tidak bisa menegaskan," kata bapak sejarah, Herodot, "apakah bangsa Yunani mewarisi dari bangsa Mesir rasa jijik yang mereka miliki terhadap kerja, karena saya mendapati rasa jijik yang sama tertanam kuat di kalangan bangsa Thracia, Cythia, Persia dan bangsa Lydia. Singkat kata, karena di kalangan sebagian besar masyarakat barbar, orang-orang yang mempelajari keterampilan mekanik, bahkan termasuk anak-anaknya, dianggap sebagai yang paling buruk di antara warga mereka. Semua masyarakat Yunani telah diasuh berdasarkan prinsip ini, khususnya orang-orang Lacedaemon."(19)

"Di Athena, para warga adalah orang-orang yang sungguh mulia, yang tidak mencurahkan perhatian untuk apapun selain pertahanan dan pengelolaan komunitas, seperti halnya prajurit-prajurit barbar yang merupakan nenek moyang mereka. Karena dengan demikian mereka harus meluangkan seluruh waktunya untuk mengawasi kepentingan-kepentingan republik, dengan kekuatan mental dan fisiknya, maka mereka menyerahkan semua kerja kepada para budak. Serupa dengan itu, di Lacedaemon para perempuan bahkan tidak diperbolehkan memintal atau menenun agar tidak merosot dari kemuliaannya."(20)

Bangsa Romawi tidak mengakui selain hanya dua bidang pekerjaan yang mulia dan bebas, yakni pertanian dan persenjataan. Semua warga berhak untuk hidup dari pengeluaran kas kerajaan tanpa harus melakukan kerja keras apapun--yang secara sah memang milik para budak--untuk mendapatkan penghidupan mereka (begitulah mereka menunjuk kerja-kerja itu). Untuk membangkitkan rakyat, Brutus menuduh Tarquin, sang tiran, telah melakukan kebiadaban khusus, yakni merubah warga bebas menjadi pekerja tangan dan tukang batu.(21)

Para filusuf kuno bertikai tentang asal-usul ide-ide, namun mereka bersepakat ketika sampai pada kebencian terhadap kerja. "Alam," kata Plato dalam utopia sosial-nya, model republiknya, "Alam tidak pernah menghasilkan pembuat sepatu ataupun pandai besi. Pekerjaan seperti itu merendahkan martabat orang-orang yang melakukannya. Orang-orang upahan yang hina, orang-orang malang yang tak dikenal, yang persis karena kondisi merekalah kemudian dikucilkan dari hak-hak politik. Adapun para pedagang yang terbiasa berbohong dan menipu, mereka akan diperbolehkan berada di dalam kota hanya sebagai setan yang diperlukan. Warga yang merendahkan martabat dirinya dengan perdagangan di toko akan dituntut karena pelanggaran ini. Kalau dinyatakan bersalah, dia akan dihukum penjara selama satu tahun. Hukuman ini akan dilipatgandakan untuk setiap pelanggaran yang diulangi."(22)

Dalam Economics-nya, Xenophon menulis, "Orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada kerja manual tidak pernah dipromosikan ke kantor-kantor publik, dan ini dengan alasan yang baik. Sebagian besar dari mereka terkutuk untuk duduk sepanjang hari, sebagian bahkan harus menahankan panas api terus-menerus, sehingga tak terhindarkan meninggalkan bekas di tubuhnya, dan nyaris tak terhindarkan bahwa pikiran juga akan terpengaruh." "Hal terhormat apa yang bisa muncul dari sebuah toko?" tanya Cicero. "Apa yang bisa dihasilkan secara terhormat oleh perdagangan? Segala sesuatu yang disebut toko itu tidak layak bagi orang yang terhormat. Pedagang tidak bisa mendapatkan keuntungan tanpa berbohong, dan apa yang lebih memalukan daripada kebohongan? Sekali lagi, kita harus memandang sebagai sesuatu yang rendah dan hina usaha orang-orang yang menjual kerja keras dan kerajinannya, karena siapapun yang memberikan tenaga-kerjanya untuk mendapatkan uang berarti menjual diri dan memasukkan dirinya ke dalam jajaran budak."(23)

Kaum proletar, yang digilakan oleh dogma kerja, dengarkanlah suara para filusuf ini, yang telah disembunyikan dari kalian dengan sangat hati-hati: Seorang warga yang memberikan tenaga-kerjanya untuk mendapatkan uang berarti memerosotkan dirinya ke dalam jajaran budak, dia melakukan suatu kejahatan yang patut dikenai hukuman penjara selama bertahun-tahun.

Kemunafikan Kristen dan utilitarianisme kapitalis belumlah menyesatkan para filusuf dari republik-republik kuno ini. Berbicara untuk kepentingan orang-orang bebas, mereka mengungkapkan pikiran mereka secara naif. Plato, Aristoteles, para raksasa intelektual itu--yang bila disandingkan dengan mereka, para filusuf di masa kita sekarang ini tak lebih selain kekerdilan--berharap agar para warga di republik-republik mereka yang ideal hidup dalam keadaan yang seluang-luangnya, karena sebagaimana yang diamati Xenophon, "Kerja menyita seluruh waktu, dan dengan kerja orang menjadi tidak punya waktu luang untuk republik dan teman-temannya." Menurut Plutarch, penegasan hebat dari Lycurgus (tokoh yang paling bijaksana di antara manusia, yang menjadi kebanggaan anak-cucunya) ialah bahwa dia telah menganugerahkan waktu luang kepada warga Sparta dengan melarang mereka melakukan pekerjaan apapun. Namun kaum moralis Kristen dan kaum moralis kapitalisme kita akan menjawab, "Para pemikir dan filusuf ini memuji-muji lembaga perbudakan." Benar sekali, tetapi bisakah ada lainnya, mengingat kondisi-kondisi ekonomi dan politik di masa mereka? Perang merupakan keadaan normal dalam masyarakat-masyarakat kuno. Orang bebas terpaksa harus mencurahkan waktunya untuk membahas masalah-masalah kenegaraan dan mengawasi pertahanannya. Usaha ketika itu begitu primitif dan janggal bagi mereka yang mempraktekkannya untuk melakukan hak yang telah dibawanya sejak lahir sebagai serdadu dan warga negara. Dengan demikian, para filusuf dan pembuat hukum, bila berharap untuk mempunyai prajurit dan warga negara dalam republiknya yang heroik, terpaksa harus mentolerir adanya budak. Tetapi, bukankah kaum moralis dan para ekonom kapitalisme memuji-muji kerja upahan, yakni perbudakan modern. Dan kepada siapa perbudakan kapitalis ini memberikan waktu luang? Kepada orang-orang seperti Rothschild, Schneider dan Madame Boucicaut--orang-orang yang tak berguna dan berbahaya karena kejahatan-kejahatannya dan karena pelayan-pelayan domestiknya. "Prasangka tentang perbudakan mendominasi pikiran Pitagoras dan Aristoteles,"--ini ditulis dengan penuh hinaan. Namun demikian, Aristoteles meramalkan: "bahwa jika setiap alat bisa dengan sendirinya menjalankan fungsinya yang sesuai, sebagaimana mahakarya Daedalus bergerak sendiri, atau seperti tripod-tripod yang mengatur dirinya sendiri secara spontan untuk kerjanya yang suci. Kalau saja, misalnya, alat-alat pemintal bisa menenun sendiri, maka mandor di bengkel kerja tidak akan memerlukan pembantu lagi, begitu pula majikan para budak."

Impian Aristoteles adalah kenyataan kita sekarang. Mesin-mesin kita, dengan nafas dari api, dengan kaki dan tangan dari baja yang tak kenal lelah, dengan kaya hasil, hebat tak kenal lelah, penuh kepatuhan menyelesaikan sendiri kerjanya yang suci. Namun demikian, kejeniusan filusuf-filusuf besar kapitalisme tetap didominasi oleh prasangka tentang sistem upahan, yakni yang terburuk dari segala perbudakan. Mereka belum juga mengerti bahwa mesin adalah penyelamat umat manusia, sang dewa yang akan melepaskan manusia dari kerja kasar dan kerja upahan, sang dewa yang akan memberi manusia waktu luang dan kebebasan.

Catatan Kaki:

1. Para penjelajah Eropa tertegun saat melihat kecantikan fisik dan pembawaaan orang-orang dari ras-ras primitif yang mempesona, tidak terkotori oleh apa yang oleh Paeppig disebut "nafas peradaban yang beracun." Berbicara tentang orang-orang Aborigin di Kepulauan Oceanik, Lord George Campbell menulis: "Tidak ada satu masyarakat pun di dunia ini yang mencolok mata pada pandangan pertama secara lebih menyenangkan daripada mereka. Kulit mereka yang mulus dan terang seperti warna tembaga, rambut mereka yang keemasan dan keriting, wajah mereka yang cantik dan bahagia. Singkat kata, keseluruhan sosok mereka membentuk suatu spesimen yang baru dan cantik dari 'genus homo'; tampilan fisik mereka memberi kesan suatu ras yang lebih unggul dibandingkan kita." Orang-orang beradab di Romawi kuno menyaksikan Caesar dan Tacitus yang memandang, dengan kekaguman yang sama, orang-orang Jerman dari suku-suku komunis yang menyerbu imperium Romawi. Menyusul Tacitus, Salvien, pendeta abad ke lima yang mendapat nama belakang Uskup Agung, menganggap kaum barbar sebagai contoh orang Kristen yang beradab: "Kita ini tidak layak/kurang ajar di hadapan kaum barbar yang lebih bersih dibandingkan kita. Bahkan lebih dari itu, kaum barbar sakit hati karena kurangnya kesopanan kita. Kaum Goth tidak mengizinkan paradebauchee dari bangsanya sendiri untuk tetap berada di antara mereka. Sendirian di tengah-tengah mereka, dengan privilese menyedihkan tentang kebangsaan dan namanya, bangsa Romawi punya hak untuk berperilaku kotor (Praktek hubungan seks oleh pria terhadap bocah laki-laki pada waktu itu merupakan tren puncak baik di antara kaum Pagan maupun kaum Kristen). Orang-orang tertindas berlari mendatangi kaum barbar untuk mencari belas kasihan dan perlindungan." (De Gubernatione Dei) Peradaban lama dan Kristianitas yang kini bangkit menggerogoti kaum barbar dunia kuno, sebagaimana Kristianitas lama dan peradaban kapitalis modern kini menggerogoti kaum liar dunia baru.

M.F. LePlay, orang yang bakatnya dalam bidang pengamatan harus diakui, meski kita menolak kesimpulan-kesimpulan sosiologisnya yang dicemari dengan farisaisme filantropis dan Kristen, mengatakan dalam bukunya, Les Ouvriers Europeans (1885): "Kecenderungan kaum Bachkir kepada kemalasan (kaum Bachkir adalah para gembala semi-nomaden di lereng pegunungan Ural di Asiatik); santainya kehidupan nomaden, kebiasaan meditasi, yang ini melahirkan individu-individu dengan karunia terbaik ­ semua ini sering memberi mereka suatu kekhasan dalam hal tata cara, suatu ketajaman intelijensi dan penilaian yang jarang terlihat dengan kadar sosial yang sama di peradaban yang lebih maju... Hal yang paling menjijikkan bagi mereka adalah kerja pertanian: mereka akan melakukan apapun, asalkan bukan menerima kerja sebagai seorang petani." Pada kenyataannya, pertanian merupakan contoh pertama kerja rendahan dalam sejarah umat manusia. Menurut tradisi Injil, pelaku kriminal pertama, Cain, adalah seorang petani.

2. Peribahasa Spanyol mengatakan: Descanzar es salud. (Bersantai itu sehat.)

3. Vergil, Bucolica

4. Pada Kongres Amal (Congress of Charities) pertama yang diselenggarakan di Brussels pada tahun 1817, salah satu pengusaha terkaya di Marquette, dekat Lille, M. Scrive, di hadapan sorak pujian para anggota kongres, menyatakan dengan kepuasan yang mulia tentang sebuah tugas yang telah selesai dilaksanakan: "Kami telah memperkenalkan metode-metode pengalihan tertentu untuk anak-anak. Kami mengajari mereka untuk bernyanyi selama bekerja, juga mengajari mereka untuk berhitung di saat bekerja." Cara ini bisa mengalihkan pikiran mereka dan membuat mereka menerima dengan berani "dua belas jam kerja itu, yang memang perlu untuk mendapatkan sarana kehidupan mereka." Dua belas jam kerja, dan kerja seperti itu, dipaksakan kepada anak-anak yang berumur kurang dari dua belas tahun! Kaum materialis akan selalu menyesal bahwa tidak ada neraka sebagai tempat untuk membalas pembunuhan filantropis Kristen terhadap masa kanak-kanak ini.

5. Pidato yang disampaikan di hadapan International Society of Practical Studies in Social Economics (Masyarakat Internasional Kajian-kajian Praktis Ilmu Ekonomi Sosial) di Paris pada bulan Mei 1863, dan diterbitkan dalam French Economist di masa yang sama.

6. L.R. Villermé. Tableau de L'état physique et moral des ouvriers dans les fabriques de coton, de laine et de soie (1840). Bukan karena Dollfus, Koechlin dan pengusaha-pengusaha Alsacian lainnya adalah kaum republikan, patriot dan filantropis protestan hingga mereka memperlakukan buruh mereka dengan cara seperti ini, karena Blanqui, akademisi, Reybaud, prototipe Jérôme Paturot, dan Jules Simon telah mengamati keramah-tamahan yang sama untuk kelas pekerja di kalangan pengusaha yang sangat Katholik dan monarkis di Lille dan Lyons. Ada keutamaan-keutamaan kapitalis yang berselaras secara menyenangkan dengan semua keyakinan politik dan agama.

7. Orang-orang Indian dari suku-suku yang suka berperang di Brasil membunuh warga mereka yang cacat dan yang lanjut usia. Mereka menunjukkan kasih sayangnya kepada warga mereka itu dengan mengakhiri hidup yang tak lagi dihidupi dengan pertempuran, pesta dan tarian. Semua masyarakat primitif telah memberikan bukti kasih sayang ini kepada kerabatnya: kaum Massagetae dari Laut Kaspia (Herodotus), juga kaum Wen dari Jerman dan kaum Celt dari Gaul. Bahkan di gereja-gereja Swedia akhir-akhir ini, mereka mengelola klub-klub yang disebut klub keluarga, yang berfungsi untuk melepaskan para orang tua dari dukacita usia lanjut. Betapa rendahnya kaum proletar modern yang mau menerima dengan sabar kesengsaraan yang sangat parah dari kerja pabrik!

8. 'Lockout' juga bisa berarti: diberhentikannya pekerja oleh majikan sampai syarat-syarat tertentu disepakati.

9. Dalam Kongres Industri yang diselenggarakan di Berlin pada tanggal 21 Januari 1879, kerugian industri besi Jerman selama krisis yang lalu ditaksir sebesar 109.056.000 dolar.

10. Clemenceau mengatakan di departemen keuangan jurnalnya pada tanggal 6 April 1880: "Kami telah mendengar opini ini dipertahankan, bahwa tanpa tekanan pun Perancis akan tetap mengalami kerugian sebesar milyaran dolar pada perang tahun 1870, yakni dalam bentuk pinjaman-pinjaman yang secara periodik dikeluarkan untuk menyeimbangkan anggaran negeri-negeri manca; ini jugalah opini kami." Kerugian modal Inggris untuk pinjaman bagi Republik-republik Amerika Selatan ditaksir sebesar satu milyar dolar. Buruh-buruh Perancis bukan hanya menghasilkan milyaran dolar yang dibayarkan kepada Bismarck, melainkan juga terus membayar bunga atas ganti rugi perang kepada Ollivier, Girardin, Bazaine dan para penarik pendapatan lainnya yang bertanggung jawab atas terjadinya perang dan kekacauan. Namun demikian, mereka masih punya sekeping pelipur lara: milyaran dolar ini tidak akan membawa pada terjadinya sebuah perang pembalasan.

11. Di bawah rezim lama, perundang-undangan gereja menjamin adanya sembilan puluh hari istirahat bagi buruh, lima puluh dua hari Minggu dan tiga puluh delapan hari libur, yang selama masa itu mereka dilarang keras untuk bekerja. Ini adalah kesalahan besar agama Katholik, penyebab utama ketidakberagamaan borjuasi industri dan komersial: di bawah revolusi, begitu berada dalam posisi pengontrol, mereka menghapuskan hari-hari libur dan mengganti pekan yang terdiri atas tujuh hari dengan pekan sepuluh hari, agar orang-orang tidak bisa lagi punya lebih dari satu hari istirahat dalam sepuluh hari. Borjuasi membebaskan buruh dari cengkeraman gereja justru agar bisa menundukkan mereka ke dalam cengkeraman kerja.

Kebencian terhadap hari libur ini belum muncul hingga borjuasi industri dan komersial modern mewujud bentuk pastinya, yakni antara abad ke lima belas dan enam belas. Henry IV meminta kepada Paus agar hari-hari libur itu dikurangi. Dia menolak karena "salah satu bid'ah di masa kini yang berasal dari masa itu adalah mengenai pesta" (Surat-surat Cardinal d'Ossat). Tetapi pada tahun 1666, Uskup Agung Paris, Perefixus, membungkam tujuh belas orang di antara mereka di dalam keuskupannya. Agama Protestan, yang merupakan agama Kristen yang diadaptasikan dengan kebutuhan-kebutuhan industri dan perdagangan baru borjuasi, tidak begitu cemas akan kebersantaian masyarakat. Agama ini menurunkan para santo dan santa dari tahtanya di langit agar bisa menghapuskan hari-hari pesta mereka di bumi.

Pembaharuan agama dan pemikiran bebas filosofis tak lain hanyalah dalih yang memperbolehkan borjuasi yang berwatak jesuitikal dan gemar merampok untuk merampas hari-hari pesta masyarakat.

12. Pesta-pesta raksasa ini berlangsung selama berminggu-minggu. Don Rodrigo de Lara memenangkan pengantinnya dengan mengusir bangsa Moor dari Calatrava lama, dan romancero [sastra rakyat Spanyol yang berbentuk puisi balada] mengisahkan cerita ini:

les bodas fueron en Burgos
Las tornabodas en Salas:
En bodas y tornabodas
Pasaron slete semanas
Tantas vienen de las gentes
Que no caben por las plazas

(Pernikahan ini berlangsung di Bourges, pestanya di Salas. Acara pernikahan dan pesta ini menghabiskan waktu tujuh minggu. Begitu banyak orang datang sehingga kota itu tidak bisa menampungnya...)

Para lelaki dalam acara pernikahan selama tujuh minggu ini adalah serdadu-serdadu heroik di masa perang-perang kemerdekaan.

13. Karl Marx, Kapital, Buku Pertama, 1867. Dalam Bahasa Indonesia: Ed. Hasta Mitra, 2004, hal. 478

14. "Proporsi dimana penduduk negeri ini dipekerjakan sebagai pekerja domestik untuk melayani kelas kaya menunjukkan kemajuannya dalam kemakmuran dan peradaban nasional." (R.M. Martin, Ireland Before and After the Union, 1818). Gambetta, yang telah menolak bahwa ada sebuah persoalan sosial baru sejak dia berhenti menjadi pengacara miskin atau Cafe Procope, tak ragu-ragu menyinggung kelas domestik yang senantiasa meningkat ini ketika dia mengumumkan munculnya strata sosial baru.

15. Dua contoh: Untuk memuaskan para petani India, yang kendati ada kelaparan-kelaparan periodik yang melanda negerinya tetap bersikukuh menanam opium, bukannya padi atau gandum, Pemerintah Inggris terpaksa menempuh perang-perang berdarah untuk memaksa Pemerintah Cina agar membolehkan masuknya opium India secara bebas. Orang-orang Polinesia yang tak beradab, kendati terjadi kematian yang diakibatkannya namun harus berpakaian dengan mode Inggris agar bisa mengkonsumsi produk-produk dari tempat-tempat penyulingan wiski Scotch dan pemintalan-pemintalan kapas Manchester.

16. Paul Leroy-Beaulieu, La Question Ouvrière au XIX siècle, 1872.

17. Louis Reybaud, Le coton, son regime, ses problèmes (1863).

18. Rabelais, Pantagruel, Buku II, Bab 34.

19. Herodotus. Buku II.

20. Biot. De l'abolition de l'esclavage ancien en Occident, 1840.

21. Livy, Buku I.

22. Republik karya Plato, Buku V.

23. De Officilis karya Cicero, I, 42.

Ditulis oleh: Paul Lafergue
Diterjemahkan oleh: Komunitas Merah-Hitam



.... Selesai .... atau unduh soft copy-nya ... atau kembali ke Bagian III ...

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan