artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

HAK UNTUK MALAS, Paul Lafargue (Bagian III)


By on 23.7.13

3. Konsekuensi dari Keberlebihan Produksi

Maka bernyanyilah Antiparos seorang penyair Yunani di masa Cicero, tentang penemuan kincir air (untuk menggiling biji-bijian), yang dimaksudkan untuk membebaskan para perempuan budak dan mengembalikan Zaman Keemasan:

"Istirahatkanlah lengan yang memutar gilingan, duhai para pekerja penggilingan, dan tidurlah dengan tenang. Biarlah ayam jantan sia-sia berusaha mengingatkanmu bahwa fajar telah merekah. Demeter telah membebankan kerja budak kepada para peri, dan lihatlah mereka melompat-lompat dengan riang di atas roda, lihatlah poros roda itu bergerak, berputar dengan ruji-rujinya dan membuat batu yang berat itu berputar menggelinding. Mari kita menjalani hidup seperti yang dijalani nenek moyang kita, dan mari kita bergembira dalam kebersantaian dengan pemberian yang telah dianugerahkan dewa kepada kita."

Duh! Waktu luang yang dinyatakan oleh penyair pagan itu belum juga datang. Hasrat akan kerja yang buta, keras kepala dan bisa membunuh itu telah mentransformasikan mesin pembebas ini menjadi alat untuk memperbudak manusia bebas. Daya produktifnya justru memiskinkan mereka.

Seorang pekerja perempuan yang bagus dengan jarum-jarumnya hanya mampu membuat lima lubang jala dalam waktu satu menit, sedangkan mesin rajut khusus yang berbentuk bundar bisa menghasilkan 30.000 lubang jala dalam waktu yang sama. Jadi, setiap menit kerja mesin ini setara dengan seratus jam kerja buruh perempuan itu, atau sekali lagi, setiap menit kerja mesin ini memberi perempuan pekerja itu sepuluh hari waktu untuk istirahat. Yang berlaku dalam industri perajutan lebih-kurang juga berlaku di semua industri yang direkonstruksi oleh permesinan modern. Tetapi apa yang kini kita lihat? Seiring mesin disempurnakan dan mampu melakukan kerja manusia dengan kecepatan dan ketepatan yang semakin meningkat, buruh, bukannya memperpanjang waktu istirahat dari yang sebelumnya, malah melipat-gandakan semangatnya seolah ingin menyaingi mesin. Oh, kompetisi yang absurd dan mendatangkan kematian!

Bahwa persaingan antara manusia dan mesin bisa berlangsung secara bebas, kaum proletar telah menghapuskan hukum-hukum bijak yang membatasi kerja pekerja tangan di gilda-gilda zaman kuno; mereka telah meniadakan hari libur.(11) Karena para produsen pada waktu itu tidak bekerja selain pada lima dari tujuh hari, apakah kita akan mempercayai cerita-cerita yang dikisahkan oleh ekonom-ekonom pembohong bahwa mereka hidup tak lain hanya dengan udara dan air minum? Tidak begitu, mereka punya waktu luang untuk merasakan kesenangan duniawi, untuk bercinta dan bersuka ria, berpesta dengan gembira untuk menghormati dewa kebersantaian yang baik hati. Inggris yang suram, yang tenggelam dalam agama Protestan, pada waktu itu disebut "Inggris yang Ceria." Rabelais, Quevedo, Cervantes dan para penulis kisah cinta lainnya yang tak dikenal membuat kita ngiler dengan gambaran-gambaran mereka tentang pesta-pesta monumental itu,(12) dimana para lelaki di masa itu menjamu diri mereka di antara dua peperangan dan dua kehancuran, dimana segala sesuatu "berlangsung dalam jumlah besar" Jordaens dan Flemish School telah mengisahkan cerita tentang pesta-pesta ini dengan gambarannya yang sangat menyenangkan. Dimana, Oh, dimanakah perut-perut besar yang agung di hari-hari itu; dimanakah otak-otak agung yang melingkari semua pikiran manusia? Kita sesungguhnya telah menjadi kerdil dan lemah. Daging sapi dan kentang awetan, anggur palsu dan schnapps Prusia, yang dengan bijak dipadukan dengan kerja wajib, telah melemahkan tubuh kita dan menyempitkan pikiran kita. Dan saat-saat ketika manusia mengekang perutnya, dan mesin memperbesar hasil kerjanya, persis adalah saat ketika para ekonom mengkhotbahkan kepada kita teori Malthusian, agama keberpantangan dan dogma kerja. Sungguh akan lebih baik kalau kita membetot lidah-lidah seperti itu, lalu melemparkannya untuk dimakan anjing.

Karena kelas pekerja, dengan kepercayaan baiknya yang sederhana, telah menyerahkan diri untuk diindoktrinasi, karena dengan sifat bawaannya yang selalu tergesa-gesa telah dengan buta melemparkan dirinya ke dalam kerja dan berpantang, maka kelas kapitalis pun mendapati dirinya terkutuk ke dalam kemalasan dan kesenangan yang terpaksa, ke dalam ketidak-produktifan dan konsumsi berlebihan. Tetapi bila kerja-berlebihan buruh ini mememarkan daging tubuh mereka dan menyiksa syaraf mereka, ternyata ini juga mendatangkan suburnya penderitaan bagi kapitalis.

Keberpantangan, ke dalam mana kelas produktif ini mengutuk dirinya, memaksa para kapitalis untuk mengabdikan diri mereka kepada konsumsi-berlebihan produk-produk yang dibuat sedemikian liarnya oleh buruh. Pada permulaan produksi kapitalis sekitar satu atau dua abad yang lalu, kapitalis adalah seorang lelaki kokoh yang memiliki kebiasaan-kebiasaan yang wajar dan tenang. Dia berpuas diri hanya dengan satu istri atau jumlah yang hanya sekitar itu. Dia minum hanya bila haus dan makan hanya bila lapar. Dia membiarkan hanya para tuan dan nyonya istana saja yang menikmati keutamaan ningrat berupa kesenangan sensual yang berlebihan. Di masa kini setiap putra keluarga kaya baru mengharuskan dirinya untuk mengembangkan penyakit yang mana air raksa merupakan sesuatu yang spesifik untuk mengesahkan kerja yang dipaksakan kepada para pekerja di tambang-tambang air raksa. Setiap kapitalis menjejali dirinya dengan ayam jago yang dikebiri, yang diisi jamur dan anggur merk pilihan untuk menyemangati peternak unggas yang kejam dan para petani Bordelais. Dalam pekerjaan ini, organisme dengan pesat menjadi rusak, rambut rontok, gusi merenggang dari gigi, badan menjadi rusak, perut menonjol secara abnormal, pernafasan susah, gerakan menjadi sulit, sendi-sendi kaku, jari-jari pun keriput. Yang lainnya, terlalu lemah tubuhnya untuk menanggung keletihan akibat kesenangan sensual berlebihan, namun dihadiahi benturan diskriminasi filantropis, mengeringkan otaknya dengan ekonomi-politik, ataupun filsafat yuridis dalam mengelaborasi buku-buku pengantar tidur yang tebal demi menghabiskan jam-jam luang para penyusun buku dan orang percetakan. Para perempuan yang gandrung mode menjalani hidup seperti martir saat mencoba dan memamerkan pakaian-pakaian yang seperti dalam dongeng, yang para perempuan penjahitnya sampai mati saat membuatnya. Mereka selalu berganti pakaian seperti kumparan benang mulai pagi sampai malam, dari satu gaun ke gaun lainnya. Selama berjam-jam mereka menyerahkan kepala kosong (kepala yang tidak biasa dipakai berpikir) mereka kepada para seniman rambut, yang dengan konsekuensi apapun bersikeras untuk meredakan hasratnya untuk membuat keriting (ikal) palsu. Dengan terikat dalam korsetnya, kakinya tertekan dalam sepatu boot-nya dan dengan mengenakan pakaian yang belahan dadanya sangat rendah hingga membuat wajah para lelaki yang memandangnya memerah malu, mereka berkeliling sepanjang malam pesta amal untuk mengumpulkan beberapa sen bagi orang-orang miskin--jiwa-jiwa yang disucikan!

Untuk memenuhi fungsi sosialnya yang ganda berupa non-produsen dan konsumen-berlebihan, kapitalis bukan hanya harus melanggar seleranya yang sederhana, menghilangkan kebiasaan bekerja kerasnya dari dua abad yang lalu dan menyerahkan dirinya kepada kemewahan yang tanpa batas, makanan berlebihan yang bahkan tak bisa dicerna dan pesta seks berlebihan yang mendatangkan penyakit kelamin, tetapi juga harus menarik sejumlah besar orang dari jajaran tenaga kerja produktif agar bisa memasukkan mereka ke dalam daftarnya sebagai pelayan.

Berikut ini adalah beberapa angka untuk membuktikan betapa kolosal penyia-nyiaan tenaga produktif ini. Menurut sensus tahun 1861, penduduk Inggris dan Wales berjumlah 20.066.244 orang, terdiri dari 9.776.259 laki-laki dan 10.289.965 perempuan. Kalau kita mengambil mereka yang terlalu tua dari yang terlalu muda untuk bekerja, para perempuan yang tidak produktif, anak-anak laki-laki dan perempuan, lalu "profesi-profesi ideologis" seperti gubernur, polisi, jajaran kependetaan, hakim, prajurit, pelacur, seniman, ilmuwan dan lain-lain, kemudian orang-orang yang secara eksklusif sibuk memakan hasil kerja orang lain dalam bentuk sewa tanah, bunga, dividen dan lain-lain..., maka tinggal ada sejumlah total delapan juta individu dari kedua jenis kelamin dan dari segala usia, termasuk para kapitalis yang berperan dalam produksi, perdagangan, keuangan dan lain-lain. Dari delapan juta ini, angka-angkanya secara berurutan sebagai berikut:

Pekerja pertanian, termasuk para penggembala, pelayan dan putri petani yang tinggal di rumah: 
1.098.261 orang

Buruh Pabrik di bidang perajutan kain katun, wol, rami dan sutra linen: 
642.607 orang

Buruh Tambang: 
565.835 orang

Buruh Logam (tanur-tanur pembakaran, kilang-kilang yang berputar dan lain-lain):
396.998 orang

Pekerja domestik:
1.208.648 orang

"Semua orang yang bekerja dalam pabrik-pabrik tekstil dan dalam pertambangan dikumpulkan jadi satu, berjumlah 1,208,442 orang; yang diperkerjakan dalam pabrik-pabrik tekstil dan industri-industri logam, seluruhnya berjumlah 1,039,605 orang; jumlah dalam kedua kasus itu lebih kecil daripada jumlah buda-budak domestik modern. Betapa hebat hasil eksploitasi mesin secara kapitalis!"(13) Terhadap kelas pekerja domestik ini, yakni ukuran yang menunjukkan tahap yang dicapai oleh peradaban kapitalis, masih harus ditambahkan lagi kelas yang jumlahnya sangat besar yang terdiri dari orang-orang kurang beruntung yang mengabdikan dirinya khusus untuk memuaskan selera yang sia-sia dan mahal dari kelas-kelas kaya: para pemotong intan, pembuat renda, penyulam, para penjilid buku mewah, para perempuan penjahit yang dipekerjakan di villa-villa untuk menghias gaun-gaun yang mahal, dan lain-lain.(14)

Begitu menetap dalam kemalasan absolut dan terdemoralisasi oleh kesenangan yang terpaksa, maka kelas kapitalis--kendati ada kepedihan dalam jenis kehidupan barunya--bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan baru ini. Segeralah mereka mulai melihat setiap perubahan dengan kengerian. Pemandangan berupa kondisi-kondisi kehidupan sengsara yang dengan tunduk diterima oleh kelas pekerja, dan pandangan tentang kemerosotan organik yang disebabkan oleh hasrat bejatnya akan kerja, meningkatkan keengganannya terhadap semua kerja wajib dan segala pembatasan terhadap kesenangan-kesenangan mereka. Persis di saat itulah, tanpa mempertimbangkan demoralisasi yang telah dipaksakan oleh kelas kapitalis kepada dirinya sendiri sebagai sebuah tugas sosial, kaum proletar mencamkan ke kepala mereka untuk membebankan kerja kepada kaum kapitalis. Tanpa pretensi sebagaimana adanya, mereka menganggap serius teori-teori tentang kerja yang diproklamirkan oleh para ekonom dan para moralis, dan menyiapkan punggungnya untuk membebankan praktek dari teori-teori ini kepada para kapitalis. Proletariat pun membentangkan spanduk: "Siapa yang tidak mau bekerja, dia juga Tidak akan Makan". Penduduk Lyon pada tahun 1831 bangkit untuk peluru ataukah kerja. Para buruh yang berfederasi pada bulan Maret 1871 menyebut kebangkitan mereka sebagai "Revolusi Kerja". Kepada letusan-letusan kemarahan barbar yang destruktif terhadap segala kesenangan dan kemalasan kapitalis, para kapitalis tidak memiliki jawaban selain represi yang ganas, namun mereka tahu bahwa kalau mereka telah bisa merepresi ledakan revolusioner ini, mereka belum tenggelam dalam darah dari pembantaian besar-besaran ini, ide absurd tentang proletariat yang berharap untuk membebankan kerja kepada kelas-kelas yang santai dan menjaga nama baik, dan untuk menghindari kemalangan inilah kiranya mereka menjaga dirinya dengan dikelilingi para penjaga, polisi, hakim dan sipir penjara, yang didukung dalam ketakproduktifan yang susah payah. Tak ada ruang lagi bagi ilusi mengenai fungsi tentara modern. Mereka dipertahankan secara permanen tidak lain hanya untuk membungkam "musuh di dalam". Jadi, benteng-benteng di Paris dan Lyons bukan dibangun untuk mempertahankan kota dari pihak asing, melainkan untuk melibas kalau-kalau ada pemberontakan. Dan kalau hendak disebutkan sebuah contoh yang tak terjawab, maka kita menyebutkan tentara Belgia, surga kapitalisme itu. Netralitasnya dijamin oleh kekuasaan-kekuasaan Eropa, namun tentaranya merupakan salah satu yang terkuat bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Medan-medan tempur yang gemilang bagi tentara Belgia yang gagah berani ini adalah dataran Borinage dan Charleroi. Pada darah para pekerja tambang dan buruh yang tak bersenjatalah para perwira Belgia menempa pedangnya dan meraih lencana kepangkatannya. Bangsa-bangsa Eropa di masa itu belum mempunyai tentara nasional, melainkan hanya tentara bayaran. Mereka melindungi kaum kapitalis dari kemarahan rakyat yang akan mengutuk mereka ke dalam sepuluh jam kerja menambang atau memintal. Sekali lagi, di saat mengencangkan perut mereka sendiri, kelas pekerja telah mengembangkan secara abnormal perut kelas kapitalis yang terkutuk untuk mengkonsumsi secara berlebihan.

Untuk meringankan kerjanya yang menyakitkan ini, kelas kapitalis telah menarik--dari kelas pekerja--sekian banyak orang yang jauh lebih superior dibandingkan mereka yang masih mengabdikan diri kepada produksi yang berguna, dan mengutuk mereka untuk masuk ke dalam ketakproduktifan dan konsumsi berlebihan. Namun pasukan yang terdiri dari mulut-mulut tak berguna ini, meski memiliki kerakusan yang tak pernah kenyang, tidaklah cukup untuk mengkonsumsi semua barang yang diproduksi oleh para buruh yang digilakan oleh dogma kerja--memproduksinya seperti orang kesetanan, tanpa berharap untuk mengkonsumsi barang-barang itu, bahkan tanpa berpikir apakah akan ada orang yang akan mengkonsumsinya.

Dihadapkan dengan kegilaan ganda para buruh yang membunuh dirinya sendiri dengan produksi berlebihan dan hidup pasif dengan berpantang, maka masalah besar produksi kapitalis bukan lagi pada bagaimana mencari produsen-produsen baru untuk melipatgandakan kekuasaannya, melainkan bagaimana menemukan konsumen untuk digairahkan seleranya dan menciptakan kebutuhan-kebutuhan fiktif bagi mereka. Karena para buruh Eropa, yang menggigil kedinginan dan kelaparan, menolak untuk memakai kain yang mereka tenun, menolak meminum anggur dari kebun-kebun anggur yang mereka rawat, maka para pengusaha yang malang itu dengan kebaikan hatinya harus berlari ke ujung-ujung dunia untuk mencari orang-orang yang akan memakai pakaian dan meminum anggur tersebut: Setiap tahun Eropa mengekspor barang-barang yang mencapai jumlah milyaran dolar ke empat penjuru dunia, kepada bangsa-bangsa yang tidak membutuhkan barang-barang itu.(15) Tetapi benua-benua yang dijelajahi itu tak lagi cukup besar. Negeri-negeri perawan dibutuhkan. Para pengusaha Eropa bermimpi siang dan malam tentang Afrika, tentang sebuah danau di gurun Sahara, tentang jalan kereta api ke Sudan. Dengan gelisah mereka mengikuti gerak maju Livingston, Stanley, Du Chaillu; mereka mendengarkan dengan mulut menganga kisah-kisah hebat tentang para penjelajah yang gagah berani ini. Betapa banyaknya keajaiban yang belum terungkap yang terkandung di dalam "benua gelap" itu! Ladang-ladang bertaburkan gading gajah, sungai-sungai minyak kelapa berhiaskan emas, jutaan pantat, setelanjang wajah Dufaure dan Girardin, menunggu barang-barang katun untuk mengajarkan kepada mereka kesopanan, dan botol-botol schnapps dan buku-buku referensi yang dari ini mereka bisa belajar tentang keutamaan-keutamaan peradaban.

Tapi itu semua berjalan tanpa arah tujuan: kapitalis yang kekenyangan, kelas pelayan yang jumlahnya lebih besar daripada kelas produktif, bangsa-bangsa asing dan barbar, dijejali dengan barang-barang Eropa; tak ada, tidak ada yang bisa melumerkan gunungan produk-produk yang makin tinggi dan makin besar melebihi piramid-piramid Mesir. Keproduktifan buruh Eropa menantang segala konsumsi, segala pemborosan.

Para pengusaha itu telah kehilangan arah dan tidak tahu kemana harus berbalik. Mereka tidak bisa lagi menemukan bahan mentah untuk memenuhi hasrat bejat yang tak kenal patuh dari para buruh mereka akan kerja. Di distrik-distrik kita yang kaya wol, kain-kain rombeng yang kotor dan setengah hancur dibongkar lagi untuk digunakan dalam membuat pakaian-pakaian tertentu yang dijual dengan nama renaisans, yang memiliki daya tahan kira-kira sama dengan janji-janji yang diberikan kepada para pemilih dalam pemilu. Di Lyon, serat sutra bukannya dibiarkan dalam kesederhanaan dan kelenturan alaminya, tetapi malah diisi dengan garam-garam mineral, yang meski menambah beratnya, namun membuat bahan ini menjadi rapuh dan jauh dari tahan lama. Semua produk kita dipalsukan (dicampur bahannya) untuk mempermudah penjualan dan memperpendek umur produk itu. Masa kita akan disebut "Zaman Pemalsuan", persis seperti masa-masa pertama umat manusia mendapat nama "Zaman Batu", "Zaman Perunggu", dari karakter produksinya. Orang-orang tertentu yang bodoh menuduh para pengusaha kita yang saleh banyak melakukan penipuan, padahal kenyataannya, pikiran yang menggerakkan mereka adalah menyerahkan kerja kepada para buruh mereka, yang tidak bisa mengundurkan diri untuk kemudian menjalani hidup dengan tangan terlipat (bersantai). Pemalsuan ini, yang motif satu-satunya adalah sentimen kemanusiaan, namun yang juga mendatangkan laba sangat besar bagi pengusaha yang mempraktekkannya, kalaupun bersifat merusak bagi kualitas barang, dan kalaupun merupakan sumber yang tak habis-habisnya akan penyia-nyiaan kerja manusia, justru membuktikan filantropi lugu para kapitalis, dan penyelewengan yang mengerikan oleh para buruh, yang--demi memuaskan kebiasaan buruknya akan kerja--memaksa para pengusaha untuk membungkam teriakan suara hatinya dan bahkan melanggar hukum-hukum kejujuran perdagangan.

Namun, kendati terjadi keberlebihan produksi barang, kendati terjadi pemalsuan dalam pembuatannya, buruh terus saja membebani pasar dalam jumlah yang tak terhitung dengan memohon-mohon: Kerja! Kerja! Keberlimpahan mereka yang bertumpuk-tumpuk itu memaksa mereka untuk mengekang hasratnya; dan sebaliknya, kerja membawa mereka ke titik serangan hebat. Beri saja kesempatan kepada kerja untuk menghadirkan dirinya, maka mereka pun akan tergesa-gesa menuju ke sana. Lalu mereka akan menuntut dua belas, empat belas jam untuk melimpahi nafsu mereka akan kerja, dan keesokan harinya mereka kembali dilemparkan ke jalanan dengan tak ada lagi makanan bagi kebiasaan buruk mereka. Setiap tahun di semua industri, pemecatan sementara terjadi dengan regularitas musim. Kerja berlebihan, yang merusak organisme, diikuti dengan istirahat total selama dua atau empat bulan, dan ketika kerja berhenti, keserba-kekurangan pun berhenti. Karena kebiasaan buruk kerja dilekatkan secara kejam ke hati para buruh, karena pemenuhannya melumpuhkan semua naluri alami lainnya, karena kuantitas kerja yang diperlukan masyarakat niscaya dibatasi oleh konsumsi dan oleh pasokan bahan mentah, mengapa kerja untuk satu tahun dilahap dalam enam bulan; mengapa tidak membaginya secara rata selama dua belas bulan dan memaksa setiap pekerja untuk berpuas diri dengan enam atau lima jam sehari sepanjang tahun ketimbang hanya menimbulkan ketaksanggupan mencerna akibat dua belas jam kerja dalam sehari selama enam bulan? Begitu terjamin porsi kerja hariannya, para buruh tidak akan lagi iri terhadap satu sama lain, tidak akan lagi bertarung untuk merebut pekerjaan dari tangan satu sama lain dan roti dari mulut satu sama lain. Dan kemudian, karena badan dan pikirannya tak lagi kepayahan, mereka akan mulai mempraktekkan keutamaan-keutamaan kemalasan.

Digilakan oleh kebiasaan buruknya, para buruh tidak mampu bangkit untuk memahami fakta ini, bahwa agar ada pekerjaan bagi semua orang, perlulah membaginya seperti air di sebuah kapal yang sedang oleng. Sementara itu pengusaha-pengusaha tertentu, atas nama eksploitasi kapitalis, telah lama meminta adanya pembatasan legal atas hari kerja. Di hadapan komisi pendidikan profesional pada tahun 1860, salah satu pengusaha paling hebat dari Alsace, M. Bourcart dari Guebwiller, menyatakan: "Hari kerja sepanjang dua belas jam itu berlebihan dan hendaknya dikurangi menjadi sebelas jam, sedangkan kerja haruslah dihentikan pada pukul dua pada hari Sabtu. Saya menyarankan agar ditempuh langkah ini, meski sekilas mungkin nampak sulit. Kami telah mencobanya di struktur-struktur industri kami selama empat tahun dan mendapati diri kami menjadi lebih baik, sedangkan produksi rata-rata, bukannya berkurang, justru meningkat." Dalam kajiannya tentang mesin-mesin, M. F. Passy mengutip surat berikut ini dari seorang pengusaha besar Belgia, M. Ottevaere: "Mesin-mesin kami, meski sama dengan mesin di pabrik-pabrik pemintalan Inggris, tidak memproduksi apa yang seharusnya bisa--atau apa yang diproduksi oleh--mesin-mesin yang sama di Inggris, walaupun para pemintal di sana bekerja dua jam lebih sedikit dalam sehari. Kita semua bekerja dua jam lebih lama. Saya yakin bahwa kalau kita bekerja hanya sebelas jam, bukan tiga belas jam, kita akan menghasilkan produk yang sama dan konsekuensinya kita akan memproduksi secara lebih ekonomis." Kembali Bpk Leroy Beaulieu menegaskan, adalah pernyataan seorang pengusaha besar Belgia bahwa minggu-minggu saat masa libur menghasilkan produk yang tidak lebih sedikit dibandingkan minggu-minggu biasa.(16)

Sebuah pemerintahan aristokratik telah berani melakukan apa yang sebuah bangsa--yang dalam keluguannya dibohongi oleh para moralis--tidak pernah berani melakukannya. Dengan membenci pertimbangan-pertimbangan hebat penuh moral industrial dari para ekonom yang--seperti burung-burung dengan firasat buruk--berkoar-koar bahwa pengurangan satu jam kerja di pabrik-pabrik berarti menetapkan keruntuhan industri Inggris, pemerintah Inggris telah melarang--dengan sebuah hukum yang ditegakkan secara ketat--kerja yang lebih dari sepuluh jam dalam sehari. Dan sebagaimana sebelumnya, Inggris tetap saja menjadi bangsa Industri nomor satu di dunia.

Percobaan yang diupayakan dengan skala begitu hebat itu tercatat; pengalaman kapitalis-kapitalis cerdas tertentu itu tercatat. Mereka membuktikan diluar keraguan bahwa untuk memperkuat produksi manusia, perlulah kiranya mengurangi jam kerja dan melipatgandakan hari gajian dan hari pesta, namun bangsa Perancis belum yakin. Tetapi jika pengurangan dua jam yang menyengsarakan itu telah meningkatkan produksi Inggris sebesar hampir sepertiganya dalam sepuluh tahun, betapa kecepatan susah-payah yang akan diberikan kepada produksi Perancis bila ada pembatasan hukum tentang hari kerja menjadi tiga jam. Tidak bisakah para buruh memahami bahwa dengan kerja yang berlebihan itu berarti mereka menghabiskan kekuatannya sendiri dan kekuatan anak-cucunya, bahwa mereka sudah kepayahan dan, lama sebelum tiba waktunya, mereka tidak akan mampu lagi melakukan kerja apapun sama sekali, bahwa karena disedot dan digilakan oleh satu kebiasaan buruk ini, mereka bukan lagi manusia, melainkan kepingan-kepingan manusia, bahwa mereka membunuh di dalam dirinya sendiri segala indera/bakat yang indah, hingga mengakibatkan tak ada apa-apa lagi yang hidup dan tumbuh subur selain kegilaan yang ganas akan kerja. Seperti burung beo, mereka mengulangi pelajaran si ekonom: "Marilah kita bekerja, mari kita bekerja untuk meningkatkan kemakmuran nasional." Oh para idiot, justru karena kalian terlalu banyak bekerja, maka peralatan industri lambat berkembang. Berhentilah meringkik dan mendengarkan ekonom, tak terkecuali M. L. Reybaud, orang yang kita cukup beruntung telah kehilangan dia beberapa bulan lalu. "Secara umum, berdasarkan kondisi-kondisi kerja tanganlah revolusi dalam hal metode kerja diatur. Selama kerja tangan menyediakan jasanya dengan harga rendah, ia akan diboroskan, namun upaya-upaya akan dilakukan untuk mengekonomiskan kerja tangan bila jasanya menjadi lebih mahal."(17)

Untuk memaksa kapitalis menyempurnakan mesin-mesinnya yang terbuat dari kayu dan besi, perlulah kiranya menaikkan upah dan mengurangi jam kerja mesin-mesin yang berwujud daging dan darah ini. Apakah kalian minta bukti? Ada ratusan contoh yang dapat membuktikannya. Dalam pemintalan, mesin pemintal otomatis ditemukan dan digunakan di Manchester karena para pemintal menolak bekerja dalam jam-jam yang begitu panjang sebagaimana sebelumnya. Di Amerika, mesin menyerbu semua cabang produksi pertanian, mulai dari pembuatan mentega sampai penyiangan gandum. Mengapa? Karena orang Amerika, yang bebas dan malas, akan lebih memilih seribu kematian daripada hidup ala petani Perancis yang monoton seperti hewan ternak. Kerja membajak tanah, yang begitu perih dan membuat pincang si pekerja di Perancis kita yang gemilang, di kalangan orang Barat Amerika adalah suatu pengisi waktu luang yang menyenangkan, yang dia praktekkan dalam postur duduk sambil menghisap pipa dengan acuh tak acuh.

.... bersambung .... atau unduh soft copy-nya ... atau kembali ke Bagian II ...

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan