artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

HAK UNTUK MALAS, Paul Lafargue (Bagian II)


By on 23.7.13

2. Pemberkatan Kerja

Pada tahun 1770 di London, sebuah pamflet anonim muncul dengan judul An Essay on Trade and Commerce (Sebuah Essai tentang Pekerjaan dan Perdagangan). Pamflet ini cukup menggemparkan di masanya. Penulisnya, seorang filantropis besar, berang bahwa "populasi pabrik di Inggris telah mencamkan--di kepala mereka--ide baku bahwa dalam kualitas mereka sebagai orang Inggris, semua individu yang merupakan orang Inggris memiliki privilese sejak lahir untuk menjadi lebih bebas dan lebih independen daripada buruh-buruh di negeri manapun di Eropa. Ide ini mungkin berguna bagi para serdadu, karena ia merangsang keberanian mereka, namun makin kecil pekerja pabrik terilhami oleh ide ini, akan lebih baik bagi diri mereka dan negara. Buruh hendaknya jangan sampai melihat dirinya independen dari majikannya. Sangat berbahaya kiranya bila mendorong ketergila-gilaan seperti itu di sebuah negara perdagangan seperti negara kita, dimana barangkali tujuh per delapan penduduknya hanya punya sedikit properti atau malah tidak punya sama sekali. Pengobatannya tidak akan tuntas sampai buruh industri kita berpuas diri dengan bekerja enam hari untuk jumlah penghasilan sama yang kini mereka dapatkan dari kerja selama empat hari." Jadi, hampir satu abad sebelum Guizot, kerja dikhotbahkan secara terbuka di London sebagai pengekang bagi hasrat-hasrat mulia manusia. "Semakin banyak rakyatku bekerja, semakin sedikit kejahatan yang akan mereka lakukan", tulis Napoleon pada 5 Mei 1807, dari Osterod. "Akulah sang penguasa... dan aku hendak menentukan untuk memerintahkan bahwa pada hari Minggu, setelah jam kebaktian berakhir, toko-toko harus buka dan para buruh harus kembali ke pekerjaannya." Untuk memberantas kemalasan dan mengekang sentimen harga diri serta independensi yang muncul darinya, penulis The Essay on Trade mengusulkan untuk memenjarakan kaum miskin dalam "rumah-rumah kerja" yang ideal, yang hendaknya menjadi "rumah-rumah teror, dimana mereka harus bekerja empat belas jam dalam sehari sedemikian rupa sehingga bila dikurangi dengan waktu istirahat makan, harus tetap berlaku dua belas jam kerja yang penuh dan lengkap."

Dua belas jam kerja dalam sehari, itulah yang diidealkan oleh para filantropis dan moralis abad ke delapan belas. Bagaimana kita mengatasi hal yang sudah sejauh ini! Pabrik-pabrik modern telah menjadi rumah-rumah ideal rehabilitasi dimana massa yang bekerja membanting-tulang dipenjarakan, dimana mereka dihukum untuk bekerja paksa selama dua belas atau empat belas jam, bukan hanya para lelaki, tetapi juga perempuan dan anak-anak.(4) Dan dipaksa menganggap bahwa putra-putra para pahlawan Terror telah menyerahkan diri mereka untuk direndahkan oleh agama kerja, sampai ke titik menerima sejak 1848--sebagai suatu kemenangan revolusioner--hukum yang membatasi kerja pabrik sampai dua belas jam. Mereka memproklamirkan Hak untuk Bekerja sebagai suatu prinsip revolusioner. Proletariat Perancis yang memalukan! Hanya budak yang akan bisa menerima kehinaan seperti itu. Seorang Yunani di masa-masa heroik akan mengajukan syarat dua puluh tahun peradaban kapitalis sebelum dia bisa menerima kebusukan seperti itu.

Dan bila kesengsaraan karena kerja paksa serta siksaan kelaparan telah menimpa proletariat lebih banyak jumlahnya dibandingkan para belalang Injil, itu karena proletariat sendirilah yang mendatangkannya. Kerja ini, yang pada Juni 1848 dituntut oleh para buruh dengan senjata di tangannya, telah mereka timpakan kepada keluarga-keluarganya. Mereka telah mengirim istri dan anak-anaknya kepada raja-raja industri. Dengan tangannya sendiri mereka telah menghancurkan pondasi rumah tangganya. Dengan tangannya sendiri mereka telah mengeringkan air susu istri mereka. Para perempuan yang tak bahagia, yang sedang mengandung dan menyusui bayi-bayinya, dipaksa pergi ke pertambangan dan pabrik untuk membungkukkan punggungnya dan meletihkan syarafnya. Dengan tangannya sendiri mereka telah menghancurkan kehidupan dan semangat anak-anak mereka. Kaum proletar yang memalukan! Dimana nyonya-nyonya rumah yang ramah itu, yang diceritakan dalam fabel dan dongeng lama kita, yang berani dan terus-terang dalam berbicara, para pecinta Bacchus. Dimana gadis-gadis montok yang selalu bergerak itu, selalu memasak, selalu bernyanyi, selalu menebarkan kehidupan, memunculkan kesenangan hidup, melahirkan--tanpa rasa sakit--anak-anak yang sehat dan kuat?... Yang kita punya sekarang adalah para remaja putri dan perempuan pabrik, bunga-bunga yang layu terkulai, dengan darah yang lesu, dengan perut yang terganggu, dengan tangan dan kaki yang lemah... Mereka tidak pernah mengenal kesenangan dari suatu hasrat yang sehat, juga tidak mampu menceritakan kesenangan itu dengan sukaria! Dan anak-anak itu? Dua belas jam kerja untuk anak-anak! 0h, kesengsaraan. Tapi bukanlah segala Jules Simon dari kalangan Akademi Ilmu Moral dan Politik, bukan segala Germiny dari kalangan Jesuitisme, yang telah menciptakan suatu kejahatan yang lebih memerosotkan intelijensi anak-anak itu, yang lebih menggerogoti naluri mereka, yang lebih merusak organisme mereka, dibandingkan kerja dalam lingkungan pabrik kapitalis yang merusak.

Ada yang menyebut zaman kita sekarang sebagai abad kerja. Kenyataannya, ini adalah abad kelukaan, kesengsaraan dan korupsi.

Sementara itu para filusuf, para ekonom borjuis (mulai dari Auguste Comte yang rancu menyedihkan, sampai Leroy Beaulieu yang jelas menggelikan), orang-orang literatur borjuis (dari Victor Hugo yang romantik gadungan sampai Paul de Kock yang aneh dan kurang ahli) semuanya menyanyikan lagu-lagu memualkan untuk menghormati Dewa Kemajuan, anak sulung Kerja. Dengarkanlah mereka, dan kamu akan mengira bahwa kebahagiaan akan segera bertahta di muka bumi, bahwa kedatangannya telah dirasakan. Mereka mengais-ngais debu abad-abad masa lalu untuk membawa kembali kesengsaraan-kesengsaraan feodal untuk bertindak sebagai kekontrasan suram bagi kesenangan-kesenangan masa kini. Apakah mereka telah jemu kepada kita, orang-orang yang puas ini, para pensiunan masa lalu di meja bangsawan, pen-valets masa kini dari kelas kapitalis dan orang-orang yang dibayar secara subur? Sudahkah mereka memperhitungkan bahwa kita jemu akan petani, seperti yang digambarkan oleh La Bruyere? Ya, inilah gambaran cemerlang tentang kegembiraan kaum proletar pada tahun kemajuan kapitalis, 1840, yang ditulis oleh salah satu dari orang mereka sendiri, Dr. Villermé, anggota Institut itu, orang sama yang pada tahun 1848 merupakan anggota masyarakat ilmiah (Thiers, Cousin, Passy, Blanqui, akademisi, termasuk di dalamnya), yang menyebar-luaskan--kepada massa--ilmu ekonomi dan etika borjuis yang tidak masuk akal.

Tentang pembangunan Alsace itulah Dr. Villermé bicara--Alsace-nya Kestner dan Dollfus, para bunga filantropi industri dan republikanisme. Tetapi sebelum si doktor ini mengangkat kesengsaraan kaum proletar ke hadapan kita, marilah kita mendengarkan seorang pengusaha Alsace, Mr. Th. Mieg dari perusahaannya Dollfus, Mieg & Co., yang melukiskan kondisi pekerja tangan di masa lalu: "Di Mulhouse lima puluh tahun yang lalu (tahun 1813, ketika industri mekanika modern sedang bangkit), para buruhnya semuanya adalah anak-anak tanah itu, yang mendiami kota dan desa-desa di sekitarnya, dan hampir semuanya memiliki rumah dan sering juga sebidang kecil ladang."(5) Ini adalah masa keemasan buruh. Namun pada waktu itu, industri Alsace belum membanjiri dunia dengan katunnya, juga belum menghasilkan milyarder dari Dollfus dan Koechlin-nya. Tetapi dua puluh lima tahun kemudian, ketika Villermé mengunjungi Alsace, Minotaur modern (pabrik kapitalis) telah menguasai negeri itu. Dalam nafsunya yang tak kunjung kenyang akan kerja manusia, ia telah menyeret para pekerja dari kehidupan di rumah mereka, bahkan mencengkeram mereka dan memeras tenaga kerja yang terkandung dalam diri mereka. Ribuan buruh bergerombol tiap kali dibunyikan sinyal peluit dari mesin uap.

Sejumlah besar, kata Villermé, lima ribu dari tujuh belas ribu buruh, terpaksa harus tinggal di desa-desa tetangga karena tingginya biaya sewa. Beberapa di antara mereka tinggal sejauh lima atau tujuh kilometer dari pabrik tempat mereka bekerja.

Di Mulhouse dan di Dornach, kerja dimulai pukul lima pagi dan berakhir pada pukul delapan malam, baik di musim panas maupun musim dingin. Sungguh memilukan melihat mereka tiba setiap pagi di kota dan berangkat tiap malam. Di antara mereka ada banyak perempuan yang pucat, seringkali berjalan bertelanjang kaki melewati lumpur, dan mereka yang tidak punya payung di saat hujan atau salju turun memakai celemek atau roknya untuk menutupi kepalanya. Juga ada sejumlah besar anak yang sama kotornya, sama pucatnya, dibalut dengan pakaian rombeng, berminyak karena terkena oli mesin yang jatuh ke tubuhnya saat mereka bekerja. Dulu mereka terlindungi lebih baik dari hujan karena pakaian mereka tahan air; namun, berbeda dengan para perempuan yang baru disebutkan tadi, mereka tidak membawa bekalnya untuk hari itu dalam sebuah keranjang, melainkan membawa di tangannya atau menyembunyikan di balik pakaiannya sebisa mereka beberapa potong roti yang akan berguna bagi mereka untuk makanan sampai saatnya mereka pulang ke rumah.

Jadi, terhadap tegangnya hari panjang yang tak tertanggungkan (sedikitnya lima belas jam) ini, masih ditambahkan lagi bagi orang-orang malang itu letihnya perjalanan setiap hari yang menyakitkan. Konsekuensinya, mereka sampai di rumah dengan dipenuhi kebutuhan untuk tidur, dan keesokan harinya mereka bangun sebelum penuh istirahatnya agar bisa mencapai pabrik saat jam buka.

Kini lihatlah lubang-lubang dimana berjejalan orang-orang yang mondok di kota itu: "Saya lihat di Mulhouse di Dornach, dan rumah-rumah di sekitarnya, beberapa dari kamar-kamar kontrakan yang menyedihkan itu dimana dua keluarga masing-masing tidur di sudutnya, di atas jerami yang dihamparkan di atas lantai dan disangga dengan dua papan... kemalangan di kalangan buruh industri katun di wilayah Rhine atas begitu ekstrem hingga mengakibatkan hasil yang menyedihkan seperti ini, sehingga bila di keluarga-keluarga pengusaha, pedagang, penjaga toko atau mandor pabrik, separuh dari anak-anak mereka mencapai usia dua puluh satu tahun, maka di keluarga-keluarga penenun dan pemintal kapas separuh jumlah yang sama ini berhenti hidup sebelum mencapai usia dua tahun."

Bicara tentang kerja di pabrik, Villermé menambahkan: "Itu bukan kerja, bukan tugas, itu adalah penyiksaan dan ia ditimpakan kepada anak-anak berusia enam sampai delapan tahun. Hari demi hari siksaan panjang inilah yang menggerogoti para buruh di pabrik-pabrik pemintalan kapas". Dan mengenai lamanya jam kerja, Villermé mengamati bahwa para pesakitan di penjara-penjara bekerja tak kurang dari sepuluh jam, budak-budak di Hindia Baratbekerja tak kurang dari sembilan jam, sedangkan di Perancis setelah Revolusinya pada tahun 1789, yang telah memproklamairkan Hak-hak Manusia yang angkuh, ada "pabrik-pabrik dimana hari kerja adalah enam belas jam, yang di dalamnya buruh hanya diberi satu setengah jam untuk waktu makan."(6)

Sungguh aborsi yang menyedihkan terhadap prinsip-prinsip revolusioner borjuasi! Betapa pemberian yang menyedihkan dari Dewa Kemajuannya! Para filantropis mengelu-elukan--sebagai dermawan kemanusiaan--orang-orang yang tidak melakukan apa-apa untuk menjadi kaya, memberi kerja kepada kaum miskin. Jauh lebih baik menebarkan sampar dan meracuni mata air daripada mendirikan pabrik kapitalis di tengah suatu populasi pedesaan. Perkenalkanlah kerja pabrik, lalu ucapkan selamat tinggal kepada kesenangan, kesehatan dan kebebasan; selamat tinggal kepada semua hal yang membuat hidup menjadi indah dan berharga.(7)

Dan para ekonom terus saja mengulang-ulang pernyataannya kepada buruh, "Bekerjalan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial." Walaupun begitu, seorang ekonom, Destutt de Tracy, menjawab: "Di bangsa-bangsa miskinlah justru orang-orang hidup dengan nyaman; di bangsa-bangsa kaya mereka biasanya miskin." Dan muridnya, Cherbuliez, melanjutkan: "Para buruh sendiri, dalam kerjasamanya menuju akumulasi modal produktif, turut menyumbang bagi kejadian yang cepat atau lambat pasti akan merenggut dari mereka sebagian upahnya". Namun, karena ditulikan dan terbius oleh teriakannya sendiri, para ekonom itu menjawab: "Bekerjalah, bekerjalah selalu, untuk menciptakan kemakmuranmu." Dan atas nama kelembutan hati Kristen, seorang pendeta Gereja Anglikan, Rev. Mr. Townsend, menyanyikan: Bekerjalah, bekerjalah siang dan malam. Dengan bekerja, kamu membuat kemiskinanmu meningkat, dan kemiskinanmu melepaskan kami dari keharusan untuk memaksakan kerja terhadapmu dengan kekuatan hukum. Pemaksaan kerja berdasarkan hukum "mendatangkan terlalu banyak masalah, memerlukan terlalu banyak kekerasan, dan membuat terlalu banyak kegaduhan. Kelaparan, sebaliknya, bukan hanya suatu tekanan yang bersifat damai, sunyi dan tak putus-putus, tetapi, karena merupakan dorongan yang paling alami kepada kerja dan industri, ia juga memicu pengerahan upaya yang paling kuat." Bekerjalah, bekerjalah kaum proletar, untuk meningkatkan kemakmuran sosial dan kemiskinan individualmu. Bekerjalah, bekerjalah agar, karena menjadi lebih miskin, kalian bisa punya lebih banyak alasan untuk bekerja dan menjadi sengsara. Begitulah hukum produksi kapitalis yang tak bisa ditawar-tawar.

Karena, dengan mendengarkan secara seksama kata-kata yang menyesatkan dari para ekonom, kaum proletar telah menyerahkan dirinya, badan dan jiwanya kepada kebiasaan buruk kerja, maka mereka menghempaskan seluruh masyarakat ke dalam krisis industri berupa produksi berlebihan yang mengguncang organisme sosial. Kemudian karena ada keberlimpahan barang dan kurangnya pembeli, toko-toko pun tutup, dan kelaparan merundung kaum pekerja dengan deraan seribu cambuk. Kaum proletar, yang digilakan oleh dogma kerja, yang tidak memahami bahwa kerja berlebihan, yang telah mereka timpakan kepada diri mereka sendiri selama masa kemakmuran pura-pura, adalah penyebab kesengsaraan mereka yang sekarang ini, tidak berlari ke lumbung-lumbung gandum dan berteriak: "Kami lapar, kami ingin makan! Benar bahwa kami tak punya uang sepeser pun, namun pengemis seperti kami inilah yang memanen gandum dan memetik anggur." Mereka tidak menyerbu gudang milik Bonnet ataupun Jujurieux, sang penemu biara industri, dan berteriak: "Tuan Bonnet, inilah para perempuan pekerjamu, para pekerja sutra, pemintal, penenun; mereka menggigil mengenaskan dibalik pakaian katunnya yang sudah penuh tambalan, namun merekalah yang telah memintal dan menenun jubah sutra para perempuan modis dari semua umat Kristen. Mahluk-mahluk miskin yang bekerja tiga belas jam sehari ini tidak punya waktu untuk memikirkan toilet mereka. Kini mereka lepas dari kerja dan punya waktu untuk bergemerisik di dalam sutra-sutra yang mereka buat. Sejak kehilangan gigi susunya, mereka telah mengabdikan dirinya untuk kemujuranmu dan hidup berpantang. Kini mereka dalam keadaan luang dan ingin menikmati sedikit buah dari kerjanya. Ayo Tuan Bonnet, berilah mereka sutramu, Tuan Harmel akan memberikan katun halusnya, Tuan Pouyer-Quertier memberikan kain citanya, Tuan Pinet memberikan sepatu boot-nya untuk kaki kecil yang mengenaskan, kedinginan dan lembab. Berpakaian dari atas hingga ke ujung kaki dan riang gembira, sehingga mereka akan terlihat menyenangkan dipandang mata. Ayo, jangan menghindar, engkau ini sahabat kemanusiaan kan, dan juga seorang Kristiani kan? Bagilah kepada gadis-gadis pekerjamu keberuntungan yang telah mereka bangun untukmu dari daging mereka. Engkau ingin mengembangkan bisnis, ingin mengedarkan barang-barangmu, inilah para konsumen yang siap sedia. Berilah mereka kredit yang tak terbatas. Selama ini engkau melulu terpaksa memberi kredit kepada para pedagang yang tidak engkau kenal dari Adam atau Hawa, yang tidak pernah memberimu apa-apa, bahkan tak segelas air pun. Para perempuan pekerjamu akan membayar hutang semaksimal yang mereka mampu. Jika, pada puncaknya, mereka meninggalkan surat singkat yang memberitahu bahwa mereka berangkat untuk melakukan protes, dan tidak melampirkan apa-apa, maka engkau bisa menuntut agar mereka membayarmu dengan doa. Mereka akan mengirimmu ke surga dengan lebih baik daripada para pendetamu yang berjubah hitam dan dijejali tembakau."

Bukannya mengambil keuntungan pada masa-masa krisis untuk melakukan pendistribusian umum produk-produk mereka dan memberlakukan hari libur universal, para buruh, yang sekarat akibat kelaparan, berangkat dan membenturkan kepalanya ke pintu-pintu pabrik. Dengan wajah-wajah pucat, tubuh kurus kering dan nada bicara yang menyedihkan, mereka mengerumuni para pengusaha: "Tuan Chagot yang baik, Tuan Schneider yang murah hati, berilah kami pekerjaan. Bukan kelaparan, tapi nafsu akan kerjalah yang menyiksa kami". Dan orang-orang malang ini, yang nyaris tak memiliki kekuatan untuk berdiri tegak, menjual dua belas dan empat belas jam kerja dengan dua kali lebih murah dibandingkan ketika mereka makan roti di meja. Dan para filantropis industri mengeruk laba dengan mengunci(8) mereka ke dalam kerja manufaktur dengan biaya rendah.

Kalau krisis industri datang menyusul masa-masa kerja berlebihan, sama tak terelakkannya seperti malam mengikuti siang, hingga mengakibatkan lockoutdan kemiskinan tanpa akhir, itu juga akan menggiring pada terjadinya kebangkrutan yang tak terhindarkan. Selama pengusaha punya kredit, dia membebaskan kekangan atas ketergila-gilaan akan kerja. Dia meminjam dan meminjam lagi untuk menyediakan bahan mentah bagi para buruhnya, dan terus memproduksi tanpa mempertimbangkan bahwa pasar mulai jenuh dan bahwa jika barang-barangnya tidak terjual, catatan-catatan hutangnya tetap akan jatuh tempo. Karena bingung kehabisan akal, dia pun memohon-mohon kepada si bankir. Dia bersujud di kaki si bankir, menawarkan darahnya, kehormatannya: "Sedikit emas akan membantu bisnis saya." Lalu jawab Rothschild: "Kamu punya 20.000 pasang sepatu di gudangmu; masing-masing berharga 20 sen. Saya akan mengambil semuanya dengan harga masing-masing 4 sen." Si bankir mendapatkan kepemilikan barang itu dan menjualnya dengan harga 6 atau 8 sen, dan mengantongi sejumlah dolar penuh keriangan yang tidak berhutang apapun kepada siapapun: namun si pengusaha telah melangkah mundur untuk menyusun suatu lompatan yang lebih baik. Akhirnya, krisis datang dan gudang-gudang itu pun muntah. Kemudian begitu banyak barang dagangan dilemparkan keluar jendela, sehingga anda tak bisa membayangkan bagaimana barang-barang itu sebelumnya bisa masuk lewat pintunya. Barang-barang yang dihancurkan itu pastilah bernilai ratusan juta. Di abad kemarin, barang-barang itu dibakar atau dibuang ke laut.(9)

Tetapi sebelum mencapai keputusan ini, para pengusaha itu bepergian ke berbagai penjuru dunia, mencari pasar untuk barang-barang yang makin bertumpuk. . Mereka mendesak pemerintah mereka untuk menganeksasi Kongo, merebut Tonquin, menggempur Tembok Cina dengan tembakan meriam, untuk membuat toko bagi barang-barang katun mereka. Di abad-abad sebelumnya, ini merupakan pertarungan habis-habisan antara Perancis dan Inggris mengenai siapa yang akan memiliki privilese eksklusif untuk melakukan penjualan ke Amerika dan Hindia. Ribuan orang yang muda belia dan penuh semangat telah memerahkan laut dengan darah mereka selama perang-perang kolonial di abad ke enam belas, tujuh belas dan delapan belas.

Terdapat surplus modal maupun barang. Para juru keuangan tidak tahu lagi kemana harus menempatkannya. Kemudian mereka mendatangi bangsa-bangsa yang berbahagia, yang tumbuh ceria di bawah sinar mentari sambil merokok, lalu mereka menggelar jalan-jalan kereta api, mendirikan pabrik-pabrik dan mengimpor kutukan kerja. Dan pengeksporan modal Perancis ini pun berakhir dengan komplikasi-komplikasi diplomatik pada suatu pagi yang cerah. Di Mesir, misalnya, Perancis, Inggris dan Jerman bercakar-cakaran untuk memutuskan rentenir mana yang akan dibayar terlebih dahulu. Atau ia berakhir dengan perang, seperti yang terjadi di Meksiko, dimana serdadu-serdadu Perancis dikirim untuk memainkan peran sebagai polisi guna menagih hutang yang berlarut-larut.(10)

Kesengsaraan individual dan sosial ini, betapapun besar dan tak terhingganya, betapapun abadi tampaknya, akan sirna seperti hyena dan jackal saat didekati singa, ketika kelak proletariat berkata "pasti aku akan". Tetapi untuk bisa sampai pada pewujudan kekuatannya, proletariat harus menginjak-injak prasangka-prasangka etika Kristen, etika ekonomi dan etika pemikiran bebas. Proletariat harus kembali ke naluri alaminya; mereka harus memproklamirkan Hak-hak Kemalasan, seribu kali lebih mulia dan lebih suci daripada Hak-hak Manusia yang lesu darah, yang dibuat oleh para pengacara metafisik dari revolusi borjuis. Proletariat haruslah membiasakan diri untuk tidak bekerja, kecuali hanya tiga jam sehari, dan menyediakan seluruh waktu lainnya siang dan malam untuk bersantai dan berpesta.

Sejauh ini tugas saya mudah. Saya tidak punya tugas apa-apa selain memaparkan kejahatan sesungguhnya yang telah dikenal baik oleh kita semua, duh! Tak punya tugas apa-apa selain meyakinkan proletariat bahwa etika yang disuntikkan kepada mereka itu jahat; bahwa kerja tak terkontrol, yang kepadanya mereka telah menyerahkan diri selama ratusan tahun terakhir, adalah bencana paling mengerikan yang pernah menghantam umat manusia. Bahwa kerja hanya akan menjadi sekedar bumbu bagi senangnya kebersantaian, suatu olahraga yang bermanfaat bagi organisme manusia, suatu hasrat yang berguna bagi organisme sosial hanya bila diatur secara bijak dan dibatasi maksimal hanya tiga jam sehari--ini adalah tugas sulit yang di luar kemampuan saya. Hanya ahli fisiologi komunis, ahli kesehatan komunis dan ekonom komunis yang bisa melakukannya. Di halaman-halaman berikutnya, saya hanya akan coba menunjukkan bahwa dengan adanya alat produksi modern dan kekuatan reproduktifnya yang tak terbatas, maka perlu kiranya mengekang hasrat para buruh yang berlebihan akan kerja dan mengharuskan mereka mengkonsumsi barang-barang yang mereka produksi.

.... bersambung .... atau unduh soft copy-nya ... atau kembali ke Bagian I ...

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan