artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

HAK UNTUK MALAS, Paul Lafargue (Bagian I)


By on 23.7.13

Penyangkalan terhadap "Hak untuk Bekerja"

Kata Pengantar dari Penulis

Bapak Thiers, dalam sebuah sesi tertutup pertemuan komisi pendidikan dasar pada tahun 1849, mengatakan: "Saya berharap untuk membuat pengaruh jajaran kependetaan menjadi sangat kuat, karena saya mengandalkannya untuk mempropagandakan bahwa, filsafat yang baik adalah yang mengajarkan kepada manusia bahwa mereka hidup di dunia ini untuk menderita, bukan filsafat lainnya yang, sebaliknya, menawarkan kepada manusia untuk bersenang-senang." Bpk Thiers sedang menyatakan etika kelas kapitalis, yang egoisme ganas dan kepicikan intelijensinya menjelma dalam dirinya.

Borjuasi mengibarkan bendera pemikiran bebas dan atheisme ketika mereka berjuang melawan kaum ningrat yang didukung jajaran kependetaan. Namun begitu berjaya, mereka merubah nada suara serta caranya, dan sekarang menggunakan agama untuk mendukung supremasi ekonomi dan politiknya. Pada abad ke lima belas dan enam belas, borjuasi dengan senang hati mengusung tradisi pagan dan mengagung-agungkan tubuh serta hasrat-hasratnya, yang ini dikecam oleh agama Kristiani. Di masa kita sekarang, yang dijejali barang-barang dan kesenangan, borjuasi menyangkal ajaran para pemikirnya sepertiRabelais dan Diderot, dan mengkhotbahkan ajaran pengekangan nafsu kepada pekerja upahan. Etika kapitalis--parodi menyedihkan dari etika Kristen--menyayat tubuh buruh dengan laknatnya. Cita-citanya adalah mereduksi sang produsen ke jumlah kebutuhan yang paling sedikit, menindas kesenangan dan hasrat buruh, dan mengutuk buruh untuk memainkan bagian dari mesin yang menggerakkan kerja tanpa istirahat dan tanpa terima kasih.

Kaum sosialis revolusioner harus mengobarkan kembali pertempuran melawan para filusuf dan jago-jago propaganda borjuasi. Mereka harus bergerak menyerang etika itu serta teori-teori sosial kapitalisme. Mereka harus membongkar--apa yang bersarang di kepala-kepala kelas yang mereka serukan untuk bertindak--prasangka-prasangka yang ditebarkan ke dalam diri mereka oleh kelas penguasa. Mereka harus memproklamirkan--di hadapan kaum munafik dari segala sistem etik--bahwa bumi tak akan lagi menjadi lembah air mata bagi buruh; bahwa dalam masyarakat komunis di masa depan, yang akan kita dirikan "secara damai kalau mungkin, atau dengan kekerasan kalau terpaksa harus begitu," dorongan hati manusia akan bebas dari pengekangan, karena "semua dorongan hati ini pada dasarnya baik, tidak ada yang perlu kita hindari selain penyalahgunaan dan ekses-eksesnya," dan hal-hal buruk itu tak akan terhindarkan kecuali oleh kontra-penyeimbangannya secara mutual, oleh perkembangan harmonis organisme manusia, karena seperti yang dikatakan Dr. Beddoe, "Hanya ketika suatu ras mencapai perkembangan fisiknya yang maksimal-lah, baru ia tiba di titik tertinggi energi dan kekuatan moralnya." Demikian pula pendapat sang naturalis besar, Charles Darwin.

Penyangkalan terhadap "Hak untuk Bekerja" ini, yang sekarang saya terbitkan kembali dengan beberapa catatan tambahan, pernah dimuat di koran mingguan Egalité, 1880, edisi kedua.

***

P.L.

Penjara Sainte-PĂ©lagie, 1883.

"Marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malasan." ( Lessing )

1. Dogma yang Membawa Malapetaka

Suatu khayalan aneh merasuki kelas pekerja di bangsa-bangsa dimana peradaban kapitalis mencengkeramkan kekuasaannya. Khayalan ini selalu membawa serta rangkaian kesengsaraan individual dan sosialnya yang selama dua abad telah menganiaya umat manusia yang berduka. Khayalan ini adalah kecintaan kepada kerja, hasrat mati-matian akan kerja, yang didesakkan bahkan sampai habisnya kekuatan vital individu serta anak-cucunya. Bukannya menentang penyimpangan mental ini, para pendeta, ekonom dan kaum moralis justru menuangkan pemujaan sakral terhadap kerja. Orang-orang yang buta dan terbatas, mereka berharap untuk lebih bijak daripada Tuhan mereka sendiri; manusia yang lemah dan hina, mereka mengira bisa merehabilitasi apa yang telah dikutuk oleh Tuhan mereka. Saya, yang tidak mendeklarasikan diri sebagai seorang Kristen, ekonom ataupun moralis, saya naik banding dari penghakiman mereka ke penghakiman Tuhan mereka; dari pengajaran-pengajaran agama, ekonomi ataupun etika pemikiran bebas mereka, ke konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan dari kerja dalam masyarakat kapitalis.

Dalam masyarakat kapitalis, kerja merupakan penyebab dari segala kemerosotan intelektual, penyebab segala cacat organik. Bandingkan sosok kuda pacuan Keluarga Rothschild yang dipelihara dengan teliti, dilayani oleh mahluk perawatnya yang berkaki dua, dengan sosok kuda yang sangat kasar di pertanian Normandia yang membajak tanah, menarik kereta pengangkut pupuk, mengangkut hasil panen. Lihatlah kaum liar yang mulia, yang belum digerogoti--oleh para misionaris perdagangan dan para pedagang agama--dengan Kristianitas, sipilis dan dogma kerja. Lalu lihatlah budak-budak mesin yang sengsara di masa kita sekarang.(1)

Kalau di Eropa kita yang beradab ini kita ingin menemukan jejak kecantikan asli manusia, kita harus mencarinya di dalam bangsa-bangsa dimana prasangka-prasangka ekonomi belum melepaskan orang dari kebencian terhadap kerja. Spanyol, yang kini merosot, duh, mungkin masih menyombongkan diri karena memiliki lebih sedikit pabrik daripada penjara dan barak yang kita punyai; namun sang seniman kegirangan mengagumi kuda Andalusian yang gagah, coklat seperti kuda-kuda pribuminya, lurus dan lentur seperti sebatang baja; dan hati melompat mendengarkan si pengemis, yang berpakaian rapi dengan baju yang compang-camping, merundingkan perihal kesetaraan dengan Duke of Ossuna. Bagi orang Spanyol, yang di dalam dirinya naluri kebinatangan primitif belum dihentikan pertumbuhannya, kerja merupakan bentuk perbudakan yang paling buruk.(2) Orang-orang Yunani di era kebesarannya memandang jijik terhadap kerja: hanya budak-budak mereka yang diperbolehkan bekerja: orang bebas hanya mengenal latihan/olahraga untuk tubuh dan pikiran. Maka di era inilah orang-orang seperti Aristoteles, Phidias, Aristophanes, bergerak dan bernafas di dalam masyarakat. Inilah masa ketika sejumlah kecil pahlawan di Marathon melibas kelompok-kelompok besar Asia, yang segera akan ditundukkan oleh Alexander. Para filusuf zaman kuno mengajarkan kemuakan terhadap kerja, bahwa ia merupakan kemerosotan manusia bebas. Para penyair menyanyikan kebersantaian, bahwa ia merupakan pemberian dewa:

O Meliboea Deus nobis haec otia fecit. (Meliboea, sesuatu Dewa menghadiahkan kita keluyuran ini)(3)

Yesus, dalam khotbahnya di atas bukit, mengkhotbahkan kebersantaian: "Perhatikanlah bunga bakung di ladang, bagaimana bunga-bunga itu tumbuh: mereka tidak bekerja keras, juga mereka tidak berputar: namun kukatakan kepada kalian bahwa, bahkan Solomon sekalipun dalam segala kebesarannya tidaklah tersusun bagus seperti salah satu dari bunga-bunga ini." Jehovah, sang dewa yang berjenggot dan pemarah, memberikan contoh utama kepada para penyembahnya tentang kemalasan yang ideal; setelah bekerja selama enam hari, dia beristirahat untuk selamanya.

Di sisi lain, ras mana yang memiliki kerja sebagai kebutuhan organiknya? Orang-orang Auvergny; orang-orang Skotlandia, yakni kaum Auvergny-nya Kepulauan Britania; orang-orang Galicia, yakni kaum Auvergny-nya Spanyol; orang-orang Pomerania, yakni kaum Auvergny-nya Jerman; orang-orang Cina, yakni kaum Auvergny-nya Asia. Dalam masyarakat kita sekarang, kelas mana yang mencintai kerja demi kerja itu sendiri? Para petani pemilik tanah, para penjaga toko kecil. Yang pertama tadi membungkuk-bungkuk di ladangnya, yang berikutnya meringkuk di dalam tokonya, mengais-ngais seperti tikus mondok di lorong bawah tanahnya dan tak pernah bangkit untuk menatap alam dengan santai.

Sementara itu proletariat, kelas besar yang mencakup semua produsen di bangsa-bangsa beradab, kelas yang dalam membebaskan dirinya akan membebaskan umat manusia dari kerja rendahan membanting tulang dan akan membuat binatang manusia menjadi mahluk bebas; proletariat, dengan mengkhianati nalurinya, meremehkan misi sejarahnya, telah membiarkan dirinya disesatkan oleh dogma kerja. Hukuman baginya pun keras dan kejam. Segala kesengsaraan individual dan sosialnya terlahir dari hasratnya akan kerja.

.... bersambung .... atau unduh soft copy-nya ...

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan