artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

FUCK WORK! Alternatif Bekerja Melawan Mitos Kerja


By on 19.7.13

Kenapa?? Judul diatas bikin anda bertanya-tanya ya?? Kenapa kok bisa ya kami menolak kerja, atau kenapa kami begitu agresif menyerang institusi sakral bernama KERJA?? Hehe inilah jawabannya setelah sekian lama kami berkutat menjadi pekerja dalam artian bekerja dalam ruang lingkup perintah atau titah atasan maka kami menyatakan bahwa KERJA ADALAH HAL YANG PALING MENYEBALKAN!!. Berlebihan ya?? kalo itu menurut anda berlebihan, baiklah, berarti kita mendapatkan sesuatu untuk dibahas disini.

Kami bertanya pada diri kami sendiri, untuk apa sih kita bekerja?? jawaban mendasar yang kami dapatkan dari pertanyaan kami tadi yaitu bekerja adalah suatu hal yang kita jalankan dimana kita 'melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang atau penghasilan'. Ya, intinya mendapatkan uang atau penghasilan bukan mendapatkan pekerjaan. Dan untuk mendapatkan uang berarti kita harus bekerja. Tapi apakah yang namanya bekerja itu harus dalam satu perintah dan dalam ruang lingkup jam kerja yang rutin?? kami menjawab TIDAK JUGA!! Banyak orang justru mendapatkan uang karena mereka melakukan apa yang mereka suka. Banyak orang yang mendapatkan uang karena justru dia menjadi diri sendiri dan bukan menjadi Robot Loyal Penjilat Pantat Majikan. Banyak orang mendapatkan uang justru dari ketidak terikatan Jam Kerja, dan Banyak orang mendapatkan uang justru dari hal - hal yang menyenangkan dan semuanya diterima oleh masyarakat (pasar). Untuk kategori ini, orang-orang tersebut kami tidak sebut mereka BEKERJA, karena mereka melakukan hal-hal menyenangkan yang mereka sukai. Mereka menjadi diri mereka untuk menghasilkan pendapatan yang didukung oleh kemampuan mereka. Ya, intinya Hidup mereka 'terlalu indah' jika mereka dikategorikan sebagai PEKERJA.

Disisi lain, banyak orang yang memiliki keahlian baik itu secara otodidak atau akademis, tapi mereka hanya bersikap menunggu dan selalu berharap akan sebuah pengakuan dari masyarakat tanpa menghasilkan apapun. Hal ini karena mereka gak terlepas dari tekanan untuk mendapatkan 'pekerjaan yang sesungguhnya' sehingga tekanan tersebut menempatkan mereka sama seperti 'para pekerja keras yang salah tempat' di dunia ini. Dan untuk hal ini kami punya dua kata yaitu "OMONG KOSONG!"

Lantas, kalo posisi anda sudah seperti apa yang digambarkan di alinea sebelumnya, apa yang anda dapatkan untuk mengembalikan gairah hidup anda? Apakah anda akan berharap dari dana pensiun dan beberapa klaim asuransi?? Atau perbanyak harta untuk mematirasakan diri untuk pantang menyerah dari rasa sakit menjadi sesuatu yang 'bukan diri anda'??. Atau anda bisa membuat seseorang di atas anda memiliki setumpuk uang tunai dari usaha anda??. Hmm well okelah, yang jelas gak kecil kemungkinan ketika anda menguasai pekerjaan anda dan menjadi baik atas perintah gaji yang layak menurut anda, anda kemudian akan dipecat karena boss beranggapan bahwa anda terlalu banyak pengeluaran untuk kebutuhan yang mendukung jabatan anda (gaya hidup, suplemen, dll). Haha "MENYEDIHKAN!" dah ah buat yang kaya gini.

Makin nyaman posisi anda dalam 'pekerjaan sesungguhnya' maka pada saat itulah uang menjadi teramat penting, dan perawatan kesehatan juga gak kalah pentingnya. Kemudian keduanya menjadi hal yang tak ternilai bagi anda. Dan untuk memenuhi itu semua banyak dari kita pada akhirnya harus menjadi penjilat agar posisinya aman dalam berkarir. Bahkan bukan hanya itu, sesuatu yang sebenarnya bukan hal yang wajar dalam masyrakatpun pada akhirnya dilanggar, walaupun hal tersebut anda sendiri yang buat (hal wajar yang jadi canangan hidup anda dilanggar). Intinya anda menjadi sosok yang munafik.

Kami disini bicara berdasarkan pengalaman, berdasarkan apa yang kami atau anda atau mereka alami, berdasarkan penuturan banyak orang tentang mitos kerja yang ternyata justru kami alami sendiri disini. Dan ini bukan berarti gak ada kendala dalam mempertahankan argumen ini, ada beberapa orang yang setuju dengan apa yang kami utarakan dan ada beberapa orang yang menyatakan kami gak waras dalam mengutarakan argumen ini dan dianggap mengada-ngada, selalu. Tapi itu adalah suatu kewajaran bagi kami, mengingat yang namanya tekanan apapun bentuknya jika dipikirin atau ditanggapi serius akan selalu berakhir pada sesuatu yang amat sangat membosankan! makanya kami gak begitu tanggapi dan kami anggap sebagai suatu kewajaran. Dan memang, kami bukanlah berasal dari golongan manusia dengan berlimpah uang. Namun, semaksimal mungkin kami harus memiliki pilhan dan kategori dalam hidup kami sendiri. Kalaupun ada pilihan lain yang LEBIH baik di masyarakat (pasar), kami akan tetap memilih LEBIH baik memaksimalkan kategori atau pilihan yang kami buat sendiri. Memang bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Tapi inilah hidup, inilah pilihan hidup saya sebagai MANUSIA bukan BONEKA atau ROBOT yang terprogram oleh pilihan-pilihan yang ditawarkan peradaban. Andapun bisa seperti kami, membuka jalan anda sendiri, membuat belokan-belokan atau pertigaan dan perempatan pilihan hidup anda sendiri, memprogram diri anda sendiri dalam membuat kategori-kategori pilihan dalam hidup anda. Sekali lagi, memang bukan hal mudah untuk melakukan ini, tapi setidaknya hal inilah yang MEMANUSIAKAN kita daripada kita terus berteriak menentang dan melawan peradaban sampai pada akhirnya justru kalian kalah dan termakan oleh peradaban itu sendiri.

Ya, bukan tanpa sebab dan kami mengakui, semua ini berasal dari pergolakan sosial yang terjadi, menurut pendapat kami, gejala menghadapi suatu pekerjaan yang membosankan itu suatu saat akan menghilang. Dimana orang-orang perlahan-lahan menyadari bahwa bekerja keras tanpa imbalan yang sepadan dan berujung pada pemecatan atau pensiun alias tenaga tak terpakai atau sementara kita setia tapi hanya menjadi bagian dari perusahaan yang "dilupakan", BUKANLAH SOLUSI YANG TEPAT. Tapi ini juga bukan berarti bahwa orang tidak ingin bekerja, disini mereka hanya tidak ingin bekerja di posisi yang tidak adil, dalam artian sementara mereka bekerja keras tapi hanya mendapatkan bagian yang sedikit, sementara yang diatas mereka mendapatkan bagian yang banyak padahal hanya bekerja sedikit.

Dalam dunia kerja, beberapa orang yang posisinya berada diatas, dan sedang dalam proses menuju keberhasilan, mereka selalu akan bernasib baik. Itu bagi mereka ya. Dan mereka selalu beranggapan mereka berada diposisi dimana mereka tidak terjamah oleh aturan kerja yang berlaku. Kondisi ini berbeda sekali dengan mereka yang berada dibawah. Tapi ternyata anggapan diatas GAK BERLAKU!! Kenapa?? karena selain dua golongan tersebut (yang diatas dan dibawah), masih ada lagi yang lebih memiliki KUASA PENUH. Siapakah mereka?? mereka adalah Pemilik Modal, yaitu orang-orang yang berada dibalik kendali atmosfir dunia kerja dan pada dasarnya bertindak sebagai penindas yang sebenarnya bertentangan dengan kedua kelompok diatas, dan mereka selalu menciptakan atmosfir 'kompetisi' yang sifatnya 'memecut' dengan memberikan kesempatan kepada kelompok 'atas' dan 'bawah' untuk saling bersaing dalam ruang lingkup kerja. Yang diatas selalu diberi kesempatan untuk memerintah yang dibawah, dan yang dibawah selalu diberi kesempatan untuk membangkang perintah yang diatas dengan iming-iming promosi jabatan (yang dibawah selalu bisa menjadi keatas). Maka tak ayal lagi ini akan memunculkan budaya over loyalitas, disini termasuk menjilat sang Pemilik Modal yang merupakan dalang yang menciptakan atmosfir konflik ini. Nah, sekarang kami bertanya, Apakah anda memiliki anak? atau anda Ingin mendapatkan layanan kesehatan yang layak? Oke deh, mungkin berikutnya anda akan mendapatkan jalan keluarnya.

Paradigma berlaku, apa yang dilakukan orang-orang demi sukses masa depan anaknya?? Disiplin Ilmu!! Kebutuhan Akademis setinggi-tingginya untuk anaknya. Hmm, Sekolah tinggi atau Perguruan Tinggi ya?? Apakah itu hal terbaik?? Jelas Tidak!. Perguruan Tinggi itu adalah sebuah jalur yang memaksa kita untuk menyisihkan sebagian pendapatan kita (kalau perlu berhutang) demi masa depan yang cerah (terutama secara finansial). Kenapa kami katakan demikian?? Ya, Perguruan Tinggi itu hanyalah lahan bisnis, yaitu bisnis pendidikan. Apapun bentuknya dimanapun mereka berdiri mereka selalu menyembunyikan kalimat ini "Pendidikan tidak menjamin pekerjaan". Sebenarnya kami gak usah menjelaskan panjang lebar disini tentang Perguruan Tinggi, karena mungkin ada diantara anda adalah termasuk korban janji bisnis mereka, dimana sekarang anda bekerja tapi apa yang anda kerjakan tidak sesuai dengan jenjang pendidikan yang anda tempuh. Dan kami gak heran, itu kenyataan, kenyataan dimana PENDIDIKAN TIDAK MENJAMIN PEKERJAAN. Justru yang kami herankan banyak sudah contoh kasus atau bahkan hal "tidak menjamin" ini terjadi dengan diri mereka sendiri justru mereka tetap bersikeras melibatkan jenjang Pendidikan Tinggi untuk generasi berikutnya dengan alasan yang sama dengan sebelumnya yaitu MODAL MASA DEPAN. Hehe mereka kembali berhutang dan mengambil resiko, sama seperti spekulasi yang dilakukan oleh para pejudi. Lalu, Siapa yang diuntungkan? Pemilik Sekolahan atau Pemilik Perguruan Tinggi (Pemilik Modal Bisnis Pendidikan). Kemudian, siapakah hamba diwajibkan? Maaf, mereka adalah keledai dongo yang mau dijanjikan setumpukan emas yang letaknya dikaki pelangi (lu cari sampe mampus juga gak bakal ketemu tuh kaki pelangi hehe).

Sekali lagi, Kalo masih ada orang-orang yang mencari pekerjaan dan tidak memiliki hutang. Selamat! Itu bagus! Masalahnya apakah orang-orang ini berada dalam cara kerja sistem yang berlaku atau berada diluar sistem?. Karena andaikan dia ada didalam sistem hal tersebut besar kemungkinan gak akan terjadi, tapi kalo orang-orang itu berada diluar sistem kemungkinan mereka benar adanya sebagai "orang-orang yang mencari pekerjaan dan tidak memiliki utang".

Setelah itu, anda mungkin berkata, bahwa anda harus memulai bisnis anda sendirikan? Dan itu akan menjadi hal yang dapat menghindari anda dari 'menjadi penjilat' atau 'menjadi keledai dongo dijalur pendidikan Formil (sekolah atau perguruan tinggi)' kan ? jangan buru-buru juga sih. Kenapa demikian?? Ya, karena disini anda akan kembali berurusan denga yang namanya PINJAMAN atau HUTANG, kalo seperti itu ujung-ujungnya apa yang anda lakukan hanyalah sebatas titik kecil 'sampah' dibandingkan dengan apa yang anda hasilkan dari dunia kerja anda sebelumnya. Kami pernah membuat usaha percetakan yang diawali oleh sebuah 'pijnjaman' dan dibantu oleh kawan-kawan dengan maksud agar memperingan usaha kami dan mempersingkat jam kerja kami dalam seminggu. Dan itu kami akui bukan cara yang efektif, dan usaha kami justru banyak tekanan, baik dari penagih pinjaman, pembayaran upah kawan-kawan, sampai komplain kostamer kami. Akhirnya kami memutuskan melunasi pinjaman, membayar teman-teman, dan berjalan sendiri dengan harus menambah jam kerja kami dalam seminggu, mencoba lebih mendalami tentang percetakan, lebih mencintai desain grafis, dan hal ini ternyata menjadi sangat, sangat efisien dalam menjalankan usaha kami. Semua intinya diawali dengan hal-hal mendasar yang bersangkutan dengan apa yang kami produksi. Walaupun awalnya sulit dan perlu kerja keras ekstra.

Apakah anda tahu apa yang terjadi ketika usaha anda mulai goyah? Apakah selanjutnya anda tidak mendapatkan jaminan keluar?. Tidak juga. Disini pasti anda akan berhenti dengan usaha anda dan meninggalkan hutang dan parhanya anda juga akan kehilangan istri. Kehilangan Istri mungkin anda masih bisa rujuklah, tapi tidak kalo usaha yang rugi. Kenapa? Karena dihasilkan adalah hutang. Nah kalo udah hutang mau usaha apapun anda hanya akan untuk membayar hutang, membayar hutang, dan membayar hutang, sementara anak dan istri anda hanya mendapatkan sebagian kecil dari penghasilan anda. Sekarang, menurut anda bagaimana cara mengurus hutang tanpa harus kembali ke melacurkan diri ke dunia kerja, tapi memaksimalkan usaha yang sudah anda rintis sebelumnya? 

Masalah akan tantangan ketika kita mempertahankan usaha sendiri adalah adanya pola pikir bahwa "Jika usaha ingin besar, maka kita harus memiliki modal yang besar". Jujur, kamipun sering berujung dengan persaingan dengan beberapa usaha percetakan besar dan mereka MENJUAL PRODUK berani dengan harga jauh dibawah kami (disini kami sering kalah tender). Kalah tender bukan lantas kami menyerah dan berhenti, kami memilih jalur yang lebih hidup dan bisa menghasilkan walaupun kecil (mending ngejar Ikan Teri daripada kudu nunggu Kakap). Dan metode yang kami gunakan ini mungkin sekarang hanya segelintir yang menggunakannya, karena apa yang terjadi pada umumnya adalah semua usaha cenderung memiliki "tujuan" kearah pendapatan yang besar, tentunya dengan modal atau uang yang besar pula, dan dalam hal ini otomatis mereka selalu mencari cara untuk menghindari kerugian. Intinya mereka seperti dihantui oleh KERUGIAN. Disinilah kriteria untuk memiliki kesuksesan dalam hidup akan menjadi sangat sederhana: pertama, memiliki banyak uang. Kemudian, anda dapat membiayai sekolah atau kuliah dengan tidak berhutang, anda akan baik-baik saja ketika anda tidak harus mencari pekerjaan. Kalaupun anda dapat membuka usaha dan merugi anda juga akan baik-baik saja. Jika Anda sakit, anda dapat pergi ke rumah sakit dengan layanan yang nyaman. Dan terakhir, saat anda tidak memiliki itu semua, pekerjaan yang sangat membosankan akhirnya akan membuat anda nyaman yang didorong oleh mitos-mitos 'bagaimana anda memiliki teori untuk maju' walaupun jelas-jelas itu salah. Yah ... namanya udah kegencet yang ada anda akan pasrah dan sekali lagi ini sanga-sangat "MENYEDIHKAN!"

Ya, Menyedihkan! kamipun akan berfikir dua kali jika harus melakukan sebuah pekerjaan walaupun kecil jika itu tidak medorong kami untuk maju buat diri kami sendiri (bukan buat orang lain). Kami selalu mengalami stress masalah keuangan, dan jika itu gak terjadi, kami tidak lagi peduli tentang bekerja. Kami pastikan kami gak peduli tentang hal konyol tersebut, karena hal itu hanya akan membeli kami dan memiliki kami untuk tetap bekerja. Kami hanya menginginkan "bagian kami" dimana kami bisa merasakan seperti mendapatkan sesuatu yang layak. Jika boss menyangkal hal tersebut, atau merubah 'cara main' agar kami tak mendapatkannya, kamipun akan mengurangi intesifitas kerja kami TERUTAMA jika kebijakan baru boss tidak berdampak bagus ke kami. Ya, itulah sedikit gambaran apa yang sedang terjadi sekarang di Dunia Kerja. Orang-orang bekerja tanpa mendapatkan 'bagiannya', dan mereka muak (hanya muak! tapi masih tetap bekerja hehehe). Dan mereka yang diatas mendapatkan bagian lebih walaupun hanya dengan memejamkan mata. PAYAH ya?? Membosankan ... itu lagi ... itu lagi ... hehehe

Bagaimana? Mau memulai hidup TANPA Dunia Kerja?? Kita mulai dari berhenti menghabiskan uang anda pada hal-hal yang anda tidak perlu. Menolak untuk berpartisipasi melawan sistem kerja dengan tujuan apapun kecuali hal tersebut sangat berhubungan dengan diri anda (banyak serikat kerja menawarkan isu populis dalam melawan sistem kerja, tapi belom tentu bisa merubah nasib individunya). Setidaknya kita harus memaksa sistem untuk mengakui bahwa ada cara yang lebih baik dari melihat kehidupan di mana lebih banyak orang bisa mendapatkan 'bagian' yang layak. Tapi ingat, pemaksaan sistem ini setidaknya harus ada hal yang musti bersentuhan langsung kepada setiap orang yang ingin terlibat didalamnya (penyadaran yang diawali melalui benturan individu dengan Dunia Kerja). Ketika kita menjual diri kita untuk bekerja, secara tersirat kita sudah mendukung Mitos Kerja. Mulai saat ini, mari kita melakukan sesuatu yang berbeda yang lebih tepat sasaran walaupun kecil. Perubahan kecil kalau sangat bermakna, itu akan menjadi modal untuk melakukan perubahan yang besar suatu saat. Terakhir, berhentilah menjual diri ketika anda terdesak, atau melibatkan diri anda dalam sebuah tekanan (perintah), mari tunjukkan diri kita bisa melakukan sesuatu untuk hidup, walau kita tidak dalam sebuah sistem yang 'mencurangi' diri kita. (Ghckr)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan