artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

KAROSHI SEBAGAI CARA LAIN UNTUK BUNUH DIRI


By on 12.6.13

Pengantar Redaksi
Karoshi, bukanlah kata yang baru ditelinga kami, karena kami pernah menulis ulang tentang hal ini pada tahun 2001 disebuah newsletter yang kami beri nama LIMBAH (Lintas Masyarakat Bawah). Sebuah Newsletter susulan beberapa bulan setelah kami menon-aktifkan minizine PUNK BERGERAK kami dengan edisi ke-13 sebagai edisi terakhir. LIMBAH sendiri kami buat waktu itu sebagai kontribusi kami ketika melakukan Long March dari Istana Negara ke Blok M dalam rangka Mayday waktu itu.

Lama tak mendengar istilah Karoshi ini, akkhirnya ada ketertarikan kami untuk menampilkan wacana ini. Hal mendasar adalah setelah kami melihat berita pembakaran gedung Konsulat Indonesia di Jeddah (Arab Saudi) oleh para tenaga kerja yang sudah terlanjur banyak kecewanya di negeri itu. Lantas apa hubungannya  antara Karoshi dan Pembakaran tersebut? Hubungannya adalah Penderitaan Para Pekerja ... (Yah ... namanya juga kerja atau jadi pekerja atau bekerja dengan orang lain, pasti menderita lah hehe). 

Redaksi Noiseblastmedia

Karoshi Sebagai Cara Lain Untuk Bunuh Diri
Mungkin beberapa dari kita ingin hidup dan bekerja di Jepang. Bayangkan koleksi anime dan JAV yang bisa didapat dengan mudah, makanan2 yang eksotis, dan wanita-wanitanya yang baik hati. Namun bukan hal-hal tersebut yang saya akan bahas namun kehidupan mayoritas karyawan di Jepang yang biasa disebut Salaryman.

Setiap tahun terdapat jutaan mahasiswa yang bersorak gembira ketika mereka dinyatakan lulus dari universitas. Mereka senang karena jerih payah orang tua tidak sia-sia setelah mereka di wisuda mengenakan toga. Sayang sekali... mereka tidak sadar kalau mereka baru saja keluar dari "kandang anak kucing" dan masuk ke hutan belantara yang dipenuhi oleh singa, ular berbisa, mawar beracun, dan banyak lagi yang aneh-aneh.

Terciptalah salaryman. Orang-orang yang hidup dengan gaji rendah, kerja setengah mati, tanpa uang lembur, dan tanpa kepastian peningkatan karir meskipun mereka telah bekerja puluhan tahun. Makanya jangan heran ketika kamu melihat banyak karyawan Jepang yang tertidur pulas di kereta ketika mereka menuju pulang ke rumah. 

Kata salaryman sendiri diambil dari bahasa Inggris, yaitu salary (gaji) dan man (orang), jadi salaryman artinya adalah orang yang hidupnya 100% tergantung dari gaji. Mereka kalo sampai dipecat rasanya dunia kiamat. Kalo di Indonesia, ini sama dengan bangsawan = bangsa karyawan.
Saking stressnya, tercipta satu kata baru yang terkenal di dunia pekerja Jepang untuk menggambarkan betapa kerasnya kerja di Jepang, yaitu karoshi.

Apa itu karoshi?
Karoshi artinya "mati di kerja" atau kematian karena stress pekerjaan. Halusnya berarti "meninggal karena setia dan mengabdi kepada perusahaan". Kematiannya bisa karena kecelakaan di tempat kerja, kematian karena terlalu lelah (kesehatannya menurun jauh), ataupun karena bunuh diri karena stress kerja.
Saking seriusnya masalah ini, pemerintah Jepang telah mencoba berbagai cara untuk mengatasinya. Mulai dari menyediakan nomor telepon darurat untuk menerima keluh-kesah para salaryman, buku petunjuk untuk mengurangi stress, sampai mensahkan undang-undang yang memberikan sejumlah uang (asuransi) ke para janda dan anak-anak yang ditinggal mati karena karoshi.

Menurut data pemerintah, dari 2.207 kasus bunuh diri pada tahun 2007, 672-nya adalah karena pekerjaannya terlalu banyak. Kasus karoshi yang terkenal adalah kasus kematian Kenichi Uchino pada tahun 2002, seorang manager quality-control berusia 30 tahun yang bekerja di perusahaan otomotif terbesar di dunia, Toyota.

Kenichi dikabarkan bekerja lembur selama 80 jam setiap bulan selama 6 bulan lamanya tanpa dikasih uang lembur atau bonus tambahan apapun. Dia akhirnya jatuh pingsan di tempat kerjanya dan dilarikan ke rumah sakit, yang kemudian membawanya ke akhirat.

Sementara kasus lainnya yaitu auditor pemula (Entry Level/Junior) di kantor PricewaterhouseCoopers (PwC), Shanghai, meninggal karena meningitis serebral (sakit kepala) akut, debat publik dan memicu perhatian media. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa kelelahan yang menyebabkan kematian wanita muda tersebut.

Pan Jie, 25, meninggal pada hari Minggu karena meningitis (sakit kepala) otak akut, yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Gejala termasuk sakit kepala dan demam.

"Berdasarkan pada gejala dan rendahnya jumlah sel darah putih yang dimilikinya, wajar untuk menyimpulkan bahwa hal tersebut terjadi dikarenakan bekerja terlalu berat yang mengakibatkan sistem kekebalan tubuh yang menurun, yang membuatnya lebih rentan terhadap infeksi," kata Dr Wang Guisong, seorang ahli di departemen bedah saraf di Rumah Sakit Renji.

Pernyataan itu dibantah oleh seorang pejabat Shanghai PwC dalam sebuah wawancara dengan stasiun TV di Shanghai, tapi teman-Pan masih percaya bahwa kelelahan akibat bekerja terlalu keras menjadi penyebab kematian.

Teman Pan's, Yu, kata Pan telah mengatakan kepadanya sebelum ia meninggal bahwa ia telah bekerja sampai 18 jam sehari dan sekitar 120 jam seminggu. Salah satu teman Pan, yang merupakan seorang auditor tingkat senior di PwC, mengatakan kepada Shanghai Daily bahwa bekerja selama 100 jam dalam seminggu merupakan hal biasa dalam bulan peak season (puncak) audit.

Pan tampaknya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah sebelum tragedi itu terjadi. Pada tanggal 31 Maret Pan menulis dalam micro blog miliknya: "Setiap kali ada kesempatan untuk beristirahat, demam menghampiri tubuhku, aku bingung apakah aku harus mengacuhkannya atau justru sebaliknya."

Salah satu komentar yang paling mencolok di posting microblog tentang kematian auditor dari KPMG, perusahaan audit global, tahun ini.

"Saya bisa menerima lembur, Saya juga dapat menerima perjalanan bisnis ke luar kota, tetapi mengetahui bahwa ada seorang pekerja meninggal pada saat menimba pengalaman di KPMG, hal tersebut mematahkan ketahanan tubuh saya" tulisnya.

McDonald's Jepang pun terkena masalah ini. Salah seorang manager restorannya jatuh sakit dan meninggal karena bekerja lembur tanpa bayaran apapun.

Mau gak mau, karena tekanan publik, Toyota dan McDonald's akhirnya memutuskan akan memberikan uang lembur bagi yang ingin bekerja lembur dan menyediakan fasilitas kesehatan yang lebih baik.
Para salaryman ini sebenarnya niatnya baik, yaitu ingin memajukan perusahaannya. Ditambah lagi dengan kebudayaan Jepang yang selalu menekankan disiplin tinggi, mereka berpikiran bahwa dengan bekerja lebih lama dan lebih keras daripada karyawan lain dan tanpa meminta bayaran apapun, boss mereka bisa memberikan posisi yang lebih baik. Tapi kenyataan, TIDAK!!..

Dan jadwal seorang salaryman bisa disimak sebagai berikut
06:30 = bangun dari tempat tidur
07:30 = berangkat ke kantor (jalan kaki / naik sepeda / subway)
08:50 = harus tiba di kantor
09:00 = meeting pagi dengan supervisor
09:10 = mulai kerja
12:00 = makan siang (bento / kantin / restoran terdekat)
13:00 = mulai kerja lagi
17:00 = lembur dimulai (biasanya tanpa uang lembur)
20:30 = pesta nomikai (kalau ada)
21:30 = pulang ke rumah (jalan kaki / naik sepeda / subway)
22:30 = sampe rumah, nonton TV, baca koran
23:00 = tidur
Ulangi terus dari Senin-Jumat. Sabtu biasanya pulang lebih awal (kalau ada lembur, kerja seperti biasa). Minggu libur (kalau ada lembur, kerja seperti biasa).

Peraturan di kantor:
#1. Kalau atasan bilang bumi berbentuk kotak, maka bumi bentuknya kotak.
#2. Kalau dia berubah pikiran, maka bumi juga bentuknya berubah.
#3. Lupakan apa kata pelanggan. Boss adalah raja.
#4. Karyawan baru? Boss adalah Tuhan.
#5. Membungkuk. Membungkuk. Membungkuk.

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan