artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

EDWARD SNOWDEN: THE ENEMY OF HIS STATE


By on 29.6.13

Sampai seberapa jauhkah hati nurani berbicara terkait nilai-nilai kemanusiaan yang harus tetap dijaga, walau cara penyampaiannya menabrak kepentingan sebuah negara. Hanya Edward Snowden yang tahu. Sosok Edward mendadak melambung dalam minggu-minggu terakhir ini. Yang jelas bikin repot dan galau para petinggi keamanan AS, khususnya NSA (National Security Agency). Kita tahu bahwa Edward yang membocorkan soal praktik NSA, sebagai kepanjangan tangan kebijakan keamanan yang dianut AS ; untuk menyadap keluar-masuknya semua bentuk informasi di dunia maya. Sebuah isu lama ketika FISA (Foreign Intelligence Surveillance Act) diluncurkan pada tahun 1978, perangkat kebijakan yang membuat pemerintah AS dapat melakukan penyadapan terhadap pelbagai objek sasaran yang dinilai potensial mengancam keamanannya. Peristiwa tragis 911 (11.09.2001) membuat Pemerintahan Bush kala itu bertekad untuk lebih meningkatkan kiprah intelijen. Dalam waktu sebulan, pada Oktober 2001 ; dirilis USA Patriot Act yang memungkinkan AS memburu para pelaku tindak teror baik di dalam dan di luar negaranya. Tentu dari dua kebijakan ini dengan berjalannya waktu, terjadi tarik menarik kepentingan politik yang sejalan juga dengan pelbagai kejadian termutakhir yang distempel sebagai tindakan terorisme. NSA merupakan salah satu lembaga terkait untuk menindak-lanjuti kebijakan ini khususnya urusan soal sadap-menyadap dalam pelbagai kiprah dan perkembangannya.

Tersebutlah seorang pemuda asal Elizabeth City, North Carolina yang tergugah rasa patrotiknya untuk bergabung dengan Pasukan Khusus AS pada tahun 2003. Pemuda itu siapa lagi kalau bukan tokoh kita dalam paparan ini, yaitu : Edward Snowden. Tapi harapannya tidak kesampaian, setelah patah kedua kakinya dalam sebuah kecelakaan saat pendidikan ; Edward dimasukan sebagai personil cadangan pada bulan Mei 2004. Pada bulan September tahun yang sama dipecat karena tidak memenuhi kualifikasi selama pendidikan. Sempat nganggur, Edward yang drop out dari sekolah menengah ini mengambil pendidikan kesetaraan di bidang komputer yang konon tidak tuntas diselesaikan ; yang jelas ia diterima bekerja di sebuah perusahaan kontraktor keamanan AS, Booz Allen Hamilton yang berkolaborasi dengan Dell. Di tempat inilah ia perlahan tapi pasti dan berkibar hingga direkrut NSA dan menjadi anggota CIA sebagai asisten teknik dengan gaji sebesar USD 200.000 per tahun dengan pelbagai fasilitasnya.

Seperti yang disampaikannya pada The Guardian (07/06) ia terlibat sebuah operasi intelijen yang dilakukan CIA terhadap seorang bankir Swiss untuk mengetahui info rahasia perbankan. Edward yang kebagian melakukan monitoring seluruh jalannya operasi dengan perangkat komputer canggih. Sang bankir entah bagaimana dibuat mabuk dan ditangkap polisi dengan tuduhan mengendarai mobil dalam keadaan mabuk ; lalu petugas CIA yang menyamar berhasil menyelesaikan masalah diam-diam dengan pihak kepolisian. Demi balas jasa dan nama baik akhirnya sang bankir memberikan apa yang diminta dan direkrut CIA. Cara seperti ini dan pelbagai cara zalim lainnya yang disaksikan dan dilakoni Edward Snowden, yang membuat ia merasa gerah.

Dan menjadi kian gerah ketika NSA memperkenalkan sebuah program bernama PRISM. Program ini demikian mutakhir dan canggih sehingga dapat memonitor semua bentuk informasi di dunia maya. Dengan keberadaan FISA, maka semua provider AS pun tunduk dari Microsoft hingga Apple, dari Facebook sampai AOL. Ketika mengetahui hal ini, terlebih NSA sudah menyiapkan fasilitas pusat pendataan di Bluffdale, Utah senilai USD 1,9 miliar yang akan beroperasi penuh pada bulan Oktober tahun ini ; maka Edward pun hengkang dan bernyanyi dari tempat persembunyiannya di Hongkong.

Ia tidak dapat lagi menahan hati nuraninya bahwa Pemerintah AS melalui NSA ternyata dapat memata-matai siapa pun juga baik di AS maupun di dunia ini. Jadi bukan sekedar dongeng atau sejauh isu, tetapi fakta.

Keberadaan Edward jelas membuat gerah pemerintah Hongkong yang memiliki perjanjian ekstradisi dengan AS sejak tahun 1997. Secara hukum pemerintah Hongkong dapat menahan Edward selama 60 hari sampai Pemerintah AS menuntaskan seluruh persyaratan hukum ekstradisi. Tapi tampaknya Hongkong tidak berharap ia lebih lama lagi berada di sana, buktinya mereka menghimbau agar Edward segera angkat kaki. Jadi jika mau bernyanyi sebaiknya cari tempat lain. Tempat lain itu tampaknya sudah tersedia, kemarin (12/06) Presiden Vladimir Putin menyatakan kesediaannya untuk menerima kedatangan Edward Snowden di Rusia.

Kini apakah Edward akan tetap berada sejauh ribuan kilometer dari negerinya untuk memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan hakiki ; seperti yang diakui pada media bahwa ia tidak mungkin tinggal di sebuah negara dimana kehidupan pribadinya diintip pemerintah. Atau akhirnya diberangus dan dikerangkeng karena tuduhan membocorkan rahasia negara. Pendapat Edward pribadi mesti tetap dihormati. Di lain sisi sebuah pemerintah juga memiliki hak penuh untuk melindungi eksistensinya. Jadi kini terpulang kepada sampai seberapa jauh, katakan keberadaan Utah Data Center, memang konsisten pada tujuan sesungguhnya. Bukan menyadap status anda dan saya (Sumber)


Judul Aseli: Amerika Memata-matai Setiap Sudut Dunia melalui NSA

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan