artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MENGAPA RASISME, SEKSISME DAN HOMOPHOBIA ADA??



Sejak rasisme, seskisme, dan homophobia (rasa benci / takut terhadap kaum homoseksual) diinstitusionalisasikan kedalam masyarakat, penindasan seksual, penindasan rasial, dan tekanan terhadap gay menjadi hal yang biasa. Penyebab utama sikap jahat tersebut adalah kebutuhan akan ideologi yang membenarkan dominasi dan eksploitasi, yang inhern dalam hierarki-- dengan kata lain, “teori” yang “membenarkan” dan “menjelaskan” penindasan dan ketidakadilan. Seperti yang dikatakan Tacitus, “Kita membenci mereka yang kita sakiti.” Mereka yang menindas orang lain selalu menemukan alasan untuk menganggap korban-korbannya sebagai “inferior” dan kerena itu pantas menerima nasibnya. Kaum elit memerlukan beberapa cara untuk membenarkan posisi sosial dan ekonomi mereka yang superior. Karena sistem sosial jelas tidak adil dan bersifat elitis, perhatian harus dialihkan pada “fakta-fakta” lainnya, yang lebih tidak menyenangkan, seperti perasaan superioritas yang didasarkan pada aspek biologi atau “alamiah”. Karena itu doktrin-doktrin superiorits seksual, rasial, dan etnis merupkan hal yang tak dapat dihindari dalam masyarakat hierarkis yang memiliki stratifikasi kelas.

Kita akan membicarakan bentuk-bentuk kefanatikan ini secara bergiliran.

Dari sudut ekonomi, rasisme dihubungkan dengan eksploitasi buruh murah di tempat tinggalnya dan imperialisme di seberang sana. Tentu saja, perkembangan awal kapitalis baik di Amerika maupun Eropa diperkuat oleh perbudakan manusia khususnya penduduk asli Afrika. Di Amerika, Australia dan bagian lain dunia, pembunuhan massal penduduk asli dan pengambilalihan tanah mereka juga merupakan aspek kunci dalam pertumbuhan kapitalisme. Karena subordinasi bangsa asing dilakukan dengan kekerasan, tampak bagi bangsa yang dominan bahwa keberhasilan penguasaan tersebut karena kualitas alamiahnya yang spesial, dengan kata lain karena karakteristik “rasial”. Sehingga kaum imperialis terus menerus menyerukan doktri kaum Darwinian “Survival of The Fittest” untuk memberikan basis pada rasisme mereka dengan “alamiah”

Di Eropa, salah satu teori pertama mengenai superioritas rasial dikemukakan oleh Gobineau pada tahun 1850 untuk memberi hak alamiah bagi aristokrat untuk menguasai Prancis. Ia berpendapat bahwa aristokrasi Perancis berasal dari ras Jerman, sementar “orang kebanyakan”” adalah Galia atau Celtic, dan karena ras Jerman “superior”, kaum aristokrat memiliki hak untuk menguasai. Meski “oranng kebanyakan” Prancis tidak menemukan teori tertetu yang persuasif, hal tersebut kemudian diterima oleh pendukugn ekspansi Jerman dan menjadi asal ideologi rasial Jerman, digunakan untuk membenarkan penindasan Nazi terhadap orang-orang Yahudi dan ras-ras “non-arya” lainnya. Pendapat mengenai “beban orang kulit putih’ dan “Nasib yang nyata” berkembang pada waaktu yang sama di Inggris dan ke sebagian kecil Amerika, serta digunakan untuk merasionalkan penakhlukan Anglo-Saxon dan dominasi dunia pada basis “kemanusiaan”.

Gagasan superioritas rasial juga diketahui memiliki kegunaan domestik yang besar. Seperti yang dikatakan Paul Sweezy,”(i)ntensifikasi konflik dalam negara kapitalis yang telaah maju...telah diatur sejauh mungkin menuju saluran-saluran yang tak berbahaya--singkatnya tak berbahaya dari sudut pandang kelas kapitalis yang berkuasa. Hasutan antagonisme sepanjang garis rasial merupakan metode yang sesuai untuk mengalihkaan perhatian dari perjuanagn kelas,” yagn tentu saja berbahaya bagi kepentingan kelas yang berkuasa (Theory of Capitalist Development, hal. 311) Tentu saja, para individu yang mempekerjakan seringkali sengaja mengembangkan divid\si di antra pekerja berdasar garis rasial sebagai bagian strategi “pecah belah dan kuasai”.

Dengan kata lain, rasisme (seperti bentuk kefanatikan yang lain) dapat digunakan untuk memecah bealh kelas pekerja dengan membuat orang mennyalahkan orang lain dari kelas yang sama atas keadaan yang dideritanya. Jadi pekerja kulit putih tanpa menyolok didorong untuk, contohnya, menyalahkan penganggur kulit hitam daripada kapitalisme, kejahatan yang dilakukan kaum hispanik daripada kemiskinan. Sebagai tambahan, diskriminasi melawan ras minoritas dan wanita merupakan konsekuensi dari ekonomi kapitalis, “karena dalam cara ini pekerjaan dan kesempatan investasi dapat ditiadakan bagi kelompok yang dirugikan, upah dan keuntungan mereka dapat diturunkan di bawah tingkat yang wajar, sehingga sekelompok penduduk yang disukai dapat memperoleh imbalan material yang substansial.” (Ibid.)

Jadi kapitalisme terus mendapat manfaat dari warisan rasisnya. Rasisme telah memberi sekelompok buruh murah untuk dipergunakan kaum kapitalis (kaum kulit hitam biasanya mendapat upah yang lebih rendah dari kulit putih untuk pekerjaan yang sama) dan membuat sekelompok penduduk patuh pada perlakuan yang lebih buruk, sehingga menmbah keuntungan dengan mengurang kondisi kerja dan ongkos-ongkos yang tak perlu dibayar.

Semua ini memiliki arti bahwa kaum kulit hitam “mematuhi penindasan dan eksploitasi pada dua dasar, ras dan kelas, sehingga harus berkelahi dalam pertempuran ekstra melawan rasisme daan diskriminasi.” (Lorenzo Kom’boa Ervin, Anarcho Syndicalist of the World Unite)

Seksisme hanya membutuhkan “pembenaran” setelah wanita mulai beraksi untuk diri mereka sendiri dan menuntut persamaan hak. Sebelum mencapai titik tersebut, penindasan seksual tak perlu “dibenarkan”--hal tersebut adalah hal yang wajar”(Tentu saja dengan mengatakan bahwa kesetaraan antara jenis kelamin jauh lebih kuat pada masa sebelum kebangkitan kristen sebagai agama negara dan kapitalisme sehinggaa “tempat” wanita dalam masyarakat telah jatuh selama beberapa ratus tahun terakhir sebalum muncul kembali, terima kasih pada gerakan wanita).

Penindasan seksual dapat dilihat dari perkawainan. Emma Goldman menunjukkan bahwa perkawinan “membangun kekuasaan pria terhadap peempuan,” dengan “kepatuhan mutlak”nya kepada “tingkah laku dan perintah sang suami. (Red Emma Speaks, hal. 139) Seperti yang ditunjukkan Carole Paterman, hinga “akhir abad ke-19 posisi dan status hukum istri menyerupai seorang budak...Seorang budak tidak memiliki eksistensi yang sah terpisah dari majikannya, dan suami beserta istri menjadi “satu diri”, diri sang suami.” (The Sexual Contract, hal. 119) Memang, hukum “didasarkan pada asumsi bahwa istri merupakan (seperti) barang milik” dan hanya kontrak perkawinan “yang memasukkan komitmen eksplisit untuk dipatuhi.” (Ibid., hal. 122, hal. 181)

Namun demikian, ketika perempuan mulai mempertanyakan asumsidominasi pria, sejumlah teori dikembangkan untuk menerangkan mengapa penindasan wanita dan dominasi pria adalah hal yang “biasa”. Karena pria memaksakan kekuasaannya kepada perempuan dengan kekuatan, “superioritas” pria diargumentasikaan sebagai hasil “alam” gender mereka, yang dihubungkan dengan kekuatan fisik yagn lebih besar (pada premis “yang mungkin benar”. Pada abad ke-17, ada pendapat bahwa perempuan lebih mirip hewan daripada pria, sehingga hak perempuan untuk setara dengan pria sama dengan domba. Lebih baru lagi, kaum elite telah memasukkan sosiobiologis dalam menanggapi pertumbuhan gerakan perempuan. Dengan “menerangkan” penindasan perempuan pada dasar biologis, sistem sosial diijalankan oleh pria dan bagi pria hal tersebut dapat diabaikan.

Peran kepatuhan wanita juga memiliki nilai ekonomis bagi kapitalisme [kita harus mencatat bahwa Goldman menganggap kapitalisme sebagai “susunan paternal” yang lain seperti halnya perkawinan, yang sama-sama merampas orang dari “hak melahirkan”, “menghalangi” pertumbuhan mereka, “meracuni” tubuh mereka dan membuat orang terus berada dalam “kebodohan, kemiskinan, dan ketergantungan” (op.cit., hal 164)]. Seringkali wanita menyediakan tenaga mereka (dan tak dibayar) untuk membuat (biasanya) pekerja pria tetap berada dalam kondisi yang baik; dan terutama wanita lah yang memelihara generas selanjutnya dari budak upahan (sekali lagi tanpa dibayar) untuk dieksploitasi para pemilik modal. Terlebih lagi sub ordinasi perempuan memberikan pria kelas pekerja seseorang untuk dipandang rendah dan kadang-kadang, sebagai sasaran yang tepat untuk melampiaskan frustasi mereka (untuk melepaskan diri dari masalah pekerjaan). Seperti yang ditunjukkan Lucy Parsons, perempuan kelas pekerja merupakan “budaknya budak”.

Penindasan kaum lesbian, gay, dan biseksual tak dapat lepas dari lingkaran seksisme. Masyarakat kapitalis yang patriarkal tak dapat melihat praktek homo seksual sebagai variasi manusia yang normal karena mereka mengaburkan peran gender yang kaku dan stereotip seksis. Sebagian besar kaum gay muda menyimpan seksualitas mereka diam-diam karena takut diusir dari rumah dan semua kaum gay memiliki ketakutan bahwa beberapa orang yang “benar” akan mengusir mereka jika menunjukkan seksualitas mereka dengan bebas.

Kaum gay ditindas bukan karena tingkah laku, melainkan karena kebutuhan tertentu kapitalisme akan keluarga inti. Keluarga inti, sebagai pencetak utama -- dan murah-- orang-orang yang patuh (tumbuh dalam keluarga otoriter membuat anak-anak terbiasa, dan “menghargai”, hierarki dan sub ordinasi) seperti halnya penyedia dan pembawa tenaga kerja dapat memenuhi kebutuhan kapitalisme yang penting. Seksualitas alternatif menunjukkan adanya ancaman pada model keluarga karena mereka memberikan model peran berbeda bagi orang-orang. Ini berarti bahwa kaum gay akan berada di garis depan yang mudah diserang ketika kapitalisme ingin memperkuan “nilai-nilai keluarga” (yaitu kepatuhan pada kekuasaan, “tradisi”, “moralitas” dan lain-lain). Introduksi Klausa 28 di Inggris adalah contoh yang bagus mengenai hal ini. Pemerintah Inggris tidak mensahkannya pada badan-badan publik karena membahas seksualitas gay (yaitu untuk menunjukkan bahwa tindakan tersebut merupakan hal yang tidak wajar). Karena itu, penindasan terhadap orang-orang berdasarkan seksualitas mereka tak akan berakhir hingga seksisme dihapuskan.

Sebelum membicarakan bagimana kaum anarkis berpikir untuk melepaskan bentuk-bentuk penindasan ini, adalah berguna menyoroti mengapa bentuk-bentuk penindasan tersebut merugikan orang-orang yang mempraktekkannya (dan dalam beberapa hal mendapatkan keuntungan) seperti halnya kaum tertindas.

Seksisme, rasisme, dan homophobia membagi kelas pekerja, yang artinya bahwa kulit putih, pria, dan heteroseksual dirinya dirugikan dengan dipertahankannya kelompok pekerja berupah rendah yang bersaing, sehingga memastikan upah yang rendah untuk istri, anak perempuan, ibu, saudara, dan teman-teman mereka. Pembagian seperti itu menciptakan keadaan dan upah yang inferior bagi semua pekerja karena kaum kapitalis memperoleh keuntungan kompetitif dengan menggunakan kelompok buruh murah ini, serta memaksa semua kapitalis untuk memotong upah dan kesejahteraan buruh agar tetap survive dalam pasar (sebagai tambahan, hierarki sosial semacam ini, karena merusak solidaritas terhadap majikan dalam pekerjaan dan negara, bisa jadi menciptakan kelompok yang akan mengantisipasi masuknya buruh yang mungkin berkhianat selama pemogokan). Juga, kelompok dari kelas pekerja yang memiliki hak “istimewa” kalah karena kesejahteraan dan upah mereka lebih rendah dari yang bisa didapatkan jika mereka bersatu.Hanya para maajikan yang benar-benar menang.

Hal ini dapat dilihat dari penelitian terhadap yhal ini. Seorang peneliti bernama Al Szymanski berusaha menguji secara sistematis dan ilmiah proposisi bahwa pekerja kulit putih mendapat keuntungan dari rasisme (“Rasial Discrimination and White Gain”, dalam American Sociologycal Review, vol.41, no.3, juni 1976, hal 403-414). Ia membandingkan situasi pekerja “kulit putih” dan “non kulit putih” (yaitu hitam, suku asli Amerika, Asia, dan Hispanik) di AS dan menemukan beberapa hal kunci:
  1. Terjadi gap yang semakin dalam antara upah kulit putih dan kulit hitam di negara bagian Amerika, upah kulit putih yang lebih tinggi bersifat relatif dengan upah kulit putih di tempat lainnya. Hal ini memiliki arti bahwa “secara ekonomi warga kulit putih tidak mendapat keuntungan dari diskriminasi ekonomi. Pekerja kulit putih terutama tampak mendapat keuntungan secara ekonomi dari ketiadaan diskriminasi ekonomi...baik di tingkat absolut pendapatan mereka maupun dalam kesetaraan yang relatif di antara kulit putih.” (hal. 413) Denghan kata lain, semakin kecil diskrimainasi upah terhadap pekerja kulit hitam, semakin baik upah yang diterima pekerja kulit putih.
  2. Semakin banyak orang -orang “non kulit putih” dalam populasi negara bagian, di antara orang kulit putih, semakin terjadi ketidaksetaraan. Dengan kata lain, kehadiran kelompok pekerja yang tertindas dan miskin mengurangi upah pekerja kulit putih, meski tidak mempengaruhi penghasilan kaum kulit putih yang bukan pekerja [“semakin besar diskriminasi terhadap orang-orang (bukan kulit putih), semakin besar ketidaksetaraan yang terjadi di antara kulit putih” (hal 410)]. Sehingga, pekerja kulit putih secara ekonomi jelas kalah karena diskriminasi ini.
  3. Ia juga menemukan bahwa “semakin sering terjadi diskriminasi rasial, semakin rendah penghasilan kulit putih karena ... (efeknya pada) solidaritas kelas pekerja.” (hal 412) Dengan kata lain, secara ekonomi rasisme merugikan ekerja kulit putih karena mengurangi solidaritas antara pekerja kulit hitam dan putih serta memperlemah organisasi serikat dagang.
Jadi, secara keseluruhan pekerja kulit putih mendapat beberapa hak istimewa yang nyata dari adanya rasisme, namun pada kenyataannya mereka dirugikan. Jadi, rasisme dan bentuk hierarki lainnya secara aktual bekerja melawan kepentingan orang-orang kelas pekerja yang mempraktekkannya-- dan, dengan melemahkan persatuan sosial dan tempat kerja, rasisme menguntungkan kelas penguasa.

Sebagai tambahan, kekayaan akan sudut pandang alternatif, pengetahuan, pengalaman, budaya, pemikiran, dan lain-lain, ditiadakan oleh kehadiran rasis, seksis atau homophobi. Pikiran mereka terperangkap dalam sebuah sangkar, stagnan di dalam suatu monokultur-- dan stagnasi berarti kematian bagi kepribadian. Bentuk-bentuk penindasan seperti itu mendehumanisasikan mereka yang mempraktekkannya, karena penindas hidup sebagai sebuah peran, bukan sebagai sebuah pribadi, sehingga terhambat dan tak dapat mengekspresikan individualitas mereka dengan bebas (dan demikian juga yang terjadi dalam cara-cara yang sangat terbatas). Hal ini membelokkan kepribadian penindas dan memiskinkan hidup serta kepribadian mereka sendiri. Homophobia dan seksisme juga membatasi fleksibilitas semua orang, baik gay atau yang heteroseksual, untuk memilih hubungan dan ekspresi seksual yang tepat baginya. Penindasan seksual kaum seksis dan homopobhia tidak baik bagi kesehatan mental mereka, hubungan atau perkembangan umumnya.

Dari sudut pandang kaum anarkis, penindasan yang di dasarkan pada ras, jenis kelamin atau seksualitas akan tetap ada selamanya di bawah kapitalisme atau, sistem ekonomi apapun yang didasarkan pada dominasi dan eksploitasi. Meski individu anggota kelompok “minoritas” makmur, rasisme sebagai suatu pembenaran bagi ketidaksetaraan merupakan alat yang terlalu berguna bagi kaum elit untuk dibuang. Dengan menggunakan akibat rasisme (kemiskinan) sebagai pembenaran bagi ideologi-ideologi rasis, kekritisan terhadap status quo sekali lagi dapat digantikan dengan omong kosong mengenai “sifat” dan “biologis”. Hal yang sama juga terjadi dengan seksisme atau diskriminasi terhadap gay.

Tak pelak lagi, solusi jangka panjang adalah: pembongkaran kapitalisme dan hierarki, juga masyarakat yang terjalin di dalamnya. Dengan melepaskan diri dari penindasan dan eksploitasi kapitalis serta konsekuensinya yang berupa imperialisme dan kemiskinan, kita sekaligus akan menghapus kebutuhan akan ideolgi superioritas, rasial, dan seksual yang digunakan untuk membenarkan penindasan dari satu kelompok terhadap yang lainnya atau untuk memecah belah dan melemahkan kelas pekerja.

Sebagai bagian dari proses tersebut, kaum anarkis mendorong dan mendukung semua bagian populasi untuk meraih rasa kemanusiaan dan individualitas mereka dengan melawan rasis, seksis dan anti gay serta mengubah pandangan-pandangan seperti itu dalam kehidupan sehari-hari, di mana saja [seperti kata Carole Pateman, “dominasi sosial menyusun tempat kerja seperti halnya sebuah rumah tangga” (op.cit., hal.142)]. Artinya tedapat perjuangan semua warga kelas pekerja melawan tirani eksternal dan internal -- kita harus berjuang melawan prasangka yang kita miliki semabari mendukung mereka yang sedang berjuang melawan musuh kita bersama, tanpa memperdulikan jenis kelamin, warna kulit dan seksualitas. Pernyataan Lorenzo Kom’boa Ervin dalam perjuangan melawan rasisme dapat diterapkan terhadap semua bentuk penindasan:

“Rasisme harus dilawan dengan penuh semangat di manapun juga, bahkan jika ia ada dalam kelompokku, ataupun dalam diri seseorang. Karena itu kita harus mengakhjiri sistem hak istimewa kaum kulit putih yang digunakan para majikan untuk memcah belah kelas. dan menundukkan pekerja yang tertindas secara rasial kepada super-eksploitasi. Pekerja kulit putih, khususnya mereka yang berada dalam dunia barat, harus melawan usaha pemanfaatan satu bagian dalam kelas pekerja dengan alasan menolong mereka untuk maju, sementara menahan segmen lain yang didasarkan pada ras atau bangsa. Jenis oportunisme atau kapitulasionisme kelas bagi pihak pekerja kulit putih harus dilawan dan dikalahkan secara langsung. Tak akan ada persatuan para pekerja hingga diakhirinya sistem super-eksploitasi dan supremasi dunia kulit putih.” (Op. Cit.)

Kemajuan menuju kesetaraan dapat dan telah dibuat. Meski memang benar bahwa (dalam kata-kata Emma Goldman) “(d)i mana-mana perempuan diperlakukan bukan karena hasil kerjanya, melainkan lebih karena jenis kelaminnya” (op. Cit., hal. 145) dan bahwa pendidikan masih bersifat patriakal, dengan perempuan muda yang seringkali dijauhkan dari hal-hal yang secara tradisional berbau laki-laki seperti belajar dan bekerja (di mana guru mengajari anak-anak bahwa perempuan dan pria memiliki peran yang berbeda sebagai tugasnya dan menyiapkan mereka untuk menerima batasan tersebut ketika mereka dewasa), juga benar bahwa posisi perempuan, seperti halnya kaum kulit hitam dan gay, telahmeningkat. Hal ini terkait dengan munculnya bermacam-macam gerakan yang dikelola secara mandiri dan bertujuan membebaskan diri sendiri yang terus menerus berkembang sepanjang sejarah dan hal ini merupakan kunci melawan penindasan dalam jangka pendek (dan menciptakan potensi bagi solusi yang bersifat jangka panjang yaitu pembongkaran kapitalisme dan negara).

Emma Goldman berpendapat bahwa emansipasi bermula “dalam jiwa (seorang) perempuan.” Dalam proses emansipasi internal, tertindas dapat mengetahui nilai mereka, menghargai diri dan budaya yang mereka miliki. Hanya dengan proses ini, mereka dapat berada dalam posisi yang efektif untuk melawan (dan mengatasi) penindasan dan tingkah laku eksternal. Hanya ketika kamu menghargai dirimu sendiri, kamu akan dapat meminta orang lain untuk menghargaimu juga. Para pria kulit putih dan heteroseksual, yang melawan kefanatikan, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan harus mendukung orang-orang tertindas dan menolak untuk memaklumi sikap dan tindakan yang berbau rasis, seksis, atau homophobia baik yang dilakukan orang lain maupun dirinya sendiri. Bagi kaum anarkis, “tak seorangpun anggota gerakan pekerja yang dapat diamaafkan karena mendiskriminasikan, kaum tertindas atau yang diabaikan ... Organisasi buruh (dan lainnya) harus didirikan diatas prinsip kebebasan yang setara pada semua anggotanya. Kesetaraan ini memiliki arti hanya jika masing-masing pekerja berperan sebagai unit yang independen dan bebas, yang bekerja sama dengan orang lain untuk kepentingan bersama, sehingga organisasi buruh secara keseluruhan dapat bekerja dengan baik dan menjadi kuat.” (Lorenzo Kom’boa Ervin, op.cit.)

Kita harus memperlakukan semua orang dengan setara, sekaligus menghargai perbedaan mereka. Keanekaragaman merupakan kekuatan dan sumber kebahagiaan, dan kaum anarkis menolak gagasan bahwa kesetaraan memiiki arti keseragaman. Dengan metode-metode ini, yaitu mengenai pembebasan diri secara internal dan solidaritas melawan penindasan eksternal, maka kita dapat berjuang melawan kefanatikan. Rasisme, seksisme, dan homophobia dapat dikurangi dan mungkin dihapuskan, sebelum terjadinya revolusi sosial yang dilaksanakan oleh mereka yang pada mulanya patuh dengan hal tersebut, yang kemudian mengorganisir diri, berjuang secara otonom dan menolak kepatuhan terhadap penyalahgunaan rasial, jenis kelamin, atau anti gay dan kemudian juga mengajak orang lain untuk menghindari rasis, seksis, dan anti gay. (hal yang disebut terakhir memiliki peran yang penting dalam menyadarkan orang lain akan sikap dan tingkah laku mereka, sikap dan tingkah laku yang mungkin mereka sadari!). Bagian esensial dari proses ini adalah dukungan yang aktif dari kelompok-kelompok otonomi semacam itu terhadap mereka yang sedang berjuang (termasuk anggota dari ras / jenis kelamin / seksualitas / yang dominan). Ketika dikombinasikan dengan radikalisasi efek perjuangan pada mereka yang terlibat, solidaritas dan komunikasi semacam itu dapat membantu menghancurkan prasangka dan kefanatikan, di bawah hierarki sosial yang menindas kita semua. Contohnya, kelompok gay dan lesbian mendukung pemogokan yang dilakukan oleh penambang Inggris pada tahun 1984/5. Dukungan semacam itu menyebabkan keompok-kelompo semacam itu memiliki posisi penting di banyak gerakan penambang.

Bagi pria kulit putih heteroseksual, satu-satunya pendekatan yang bersifat anarkis adalah mendukung mereka yang sedang berjuang, menolak toleransi terhadap kefanatikan yang dimiliki orang lain dan mencabut akar ketakutan dan prasangka yang mereka miliki (serta menolak ketidakkritisan dalam perjuangan membebaskan diri -- solidaritas tidak menunjukkan tejadinya kematian otak Anda!). Hal ini jelas melibatkan pemakaian isu-isu penindasan sosial ke dalam organisasi dan aktivitas kelas pekerja, dengan memastikan bahwa tak kaum tertindas yang dimarginalkan di dalamnya.

Hanya dalam cara ini penyakit-penyakit sosial yang ada ini dapat dilemahkan dan sistem tanpa hierarki yang lebih baik dapat diciptakan. Luka pada yang satu berartii luka pada semua.

Contoh Mujures Libres (Perempuan bebas) di Spanyol selama tahun 1930-an menunjukkan sesuatu yang mungkin. Keterlibatan kaum perempuan anarkis dalam C.N.T dan F.A.I yang mengorganisir dirinya secara otonom memunculkan isu seksisme dalam gerakan liberal, untuk meningkatkan keterlibatan kaum perempuan dalam organisasi liberal dan membantu proses pembebasan diri para perempuan melawan penindasan kaum pria. Seiring dengan itu, mereka juga harus melawan (yang juga umum terjadi) sikap seksis dari rekan-rekan pria mereka sesama anarkis yang “revolusioner”. Buku Free Women of Spain karya Martha Ackelsberg merupakan catatan yang bagus mengenai gerakan ini dan isu-isu yang dikeluarkannya untuk semua orang mengenai kebebasan.

Tak perlu dikatakan, kaum anarkis benar-benar menolak jenis “kesetaraan” yang menerima macam-macam hierarki, yang menerima prioritas dominan kapitalisme dan negara serta ikut menyepakati menurunnya hubungan dan individulaitas atas nama kekuasaan dan kesejahteraan. Ada jenis “kesetaraan” yang artinya memiliki “kesempatan yang setara”, yang artinya memiliki majikan atau politisi kulit hitam, gay atau perempuan, hanya saja kesetaraan semacam ini melupakan sesuatu. Mengucapkan “Aku juga” tidak mencerminkan kebebasan yang sesungguhnya dibandingkan dengan mengucapkan “Beragam sekali!”. Hal tersebut hanyalah pembentukan majikan-majikan dan penindasan-penindasan yang baru. Kita perlu memperhatikan bagaimana masyarakat di organisir, bukan pada jenis kelamin, warna kulit, bangsa atau seksualitas orang yang memberi perintah! (satubumi)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan