artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

MAYDAY BUKAN HARI BURUH!!


By on 30.4.13

Mayday bukan sekedar hari buruh yang berhak diklaim oleh mereka yang merasa dirinya seorang buruh. Mayday adalah hari bagi setiap orang, setiap personal yang merasa kebebasannya terebut oleh sebuah sistem ekonomi dan budaya yang hanya menyisakan ruang untuk sebuah aktifitas rutin yang penuh perhitungan untung-rugi--hari bagi mereka yang berhasrat menjadi manusia, bukan hanya sekedar penjual dan atau pembeli. Mereka yang menolak memimpikan hidup dengan keragaman nilai, bukan hanya tanpa kemandirian, kreatifitas, kekuatan dan penemuan nilai-nilai baru yang tidak terdesak oleh satu nilai: nilai ekonomi. Mereka yang menolak mendasarkan hidup mereka hanya pada satu kepentingan dan tujuan: kepentingan dan orientasi pasar. Mereka yang menginginkan hidup dengan petualangan, di mana kontrol penuh atas diri sendiri berada penuh dalam genggaman tangan mereka.

Mayday adalah hari bagi setiap personal yang menolak dunia yang hanya menghargai orang dari seberapa banyak properti yang ia miliki, seberapa besar kesuksesan yang ia peroleh dan seberapa besar kekuasaan yang ia raih. Mayday adalah hari bagi setiap orang yang menolak untuk distandarisasi, dimassifikasi, dan direduksi eksistensinya sebagai komoditas belaka.

Mayday bukan sekedar hari yang selama ini digembargemborkan oleh Par(tai) Politik dan semua underbownya -- adalah hari setiap orang yang menolak diperbudak hanya karena mereka tak memiliki modal sehingga harus melacurkan diri mereka di dalam pabrik-pabrik untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup harian. 

Mayday adalah ...
  • Hari bagi seorang eksekutif muda yang menolak menjadi tua dan meninggalkan profesi mereka. 
  • Hari bagi seorang agen asuransi yang menjelaskan pada setiap klien mereka bahwa tak pernah ada jaminan polis yang paling cocok bagi hidup mereka. 
  • Hari bagi seorang penyair yang menghidupi puisinya, pun hari bagi seorang rapper yang mengasah skillnya hingga ke tahap yang tak bisa dinalar dan menolak menjualnya ke tangan korporasi rekaman. 
  • Hari bagi seorang punker yang berhenti dimohawk dan keluar dari stereotipikal punker dan berbagi pengetahuan tentang independensi komunitas dengan seorang pemuda masjid. 
  • Hari bagi seorang gitaris grindcore yang muak untuk menulis lagu tentang kematian, karena kematian adalah sesuatu yang lazim bagi makhluk yang hidup. 
  • Hari bagi seorang seniman yang memberi jari tengah bagi rezim kurator. 
  • Hari bagi seorang relijius yang membenci institusi agama dan menolak seruan perang agama. 
  • Hari bagi para desainer pada sebuah korporat periklanan dan mem-vandal sendiri billboard hasil ide mereka.
  • Hari bagi seorang ibu rumah tangga yang menolak mencuci piringdan atau memberikan tubuhnya pada sang suami jika hanya lantaran kewajiban moral seorang istri. 
  • Hari bagi setiap orang yang tak ingin mencari identitas di dalam pencitraan sabun mandi, cologne, pasta gigi, atau sepatu Nike, dan hari bagi seorang tamtama yang tak lagi yakin bahwa dunia dapat dibangun dengan komando dan sadar bahwa ia memiliki potensi kebebasan yang tak bisa dicampuri oleh patriotisme dan bacot omong kosong komandan mereka. 
  • Hari bagi sepasang kekasih yang menjalani cinta bukan atas restu dan komentar orang lain dan tak lagi menghakimi cinta atas alasan kelamin . 
Mayday adalah hari bagi setiap mahasiswa dan mahasiswi yang sadar bahwa kelas-kelas kuliah tak memberi gairah pada hidup, pun janji-janji omong kosong seperti, mahasiswa merupakan agent of change--hari bagi mereka yang berikrar akan memberi sambutan molotov bagi pertemuan-pertemuan birokrat WTO, Bank Dunia, ataupun IMF. 

Dan yang pasti, Mayday adalah hari bagi kami yang telah muak pada segala omong kosong persatuan dan ketotolan intelektual. Di sebuah era di mana massa mayoritas melecehkan kebebasan individu dan ketika kekuatan individu hanya digunakan untuk meraih massa yang hanya akan menguntungkan dirinya dan segelintir orang, kami tak lagi tertarik untuk berpartisipasi dalam kompetisi merekayasa simpati dan empati. Bagi kami, kekuatan massa hanya akan lahir jika setiap orang menyadari akan kekuatannya sendiri untuk dapat bebas dan melakukan apa yang menjadi hasratnya. Bukan hasrat yang diinjeksikan oleh iklan, TV, birokrat, pemilik modal atau kepentingan pasar maupun tradisi. 

Bagi kami, Mayday bukan sekedar peringatan yang hanya akan mengglorifikasi kemiskinan dan kerja. Kami tak ingin bebas hanya dalam satu hari saja; kami tak ingin sebuah hidup yang seperti layar tancep, jika ada gerimis langsung bubar. Kami ingin festival harian yang memfasilitasi lantai dansa bagi setiap yang hidup. Mayday adalah hari bagi kita semua saat kita menghajar kebosanan sebuah dunia.

REBUT DAN CURI KEMBALI HIDUP! JADILAH REALISTIS, TUNTUTLAH YANG
TIDAK MUNGKIN! 

diambil dari: Injak Balik edisi 1.0/01

=========================================================

Ya betul, Mayday bukan hanya sekedar hari buruh yang berhak diakui oleh mereka yang merasa dirinya buruh. Mayday adalah hari bagi setiap orang, setiap individu yang merasa kebebasan mereka terebut oleh sebuah sistem ekonomi dan budaya yang hanya menyisakan ruang untuk sebuah aktifitas rutin yang penuh perhitungan untung-rugi.
.
Hari bagi mereka yang berhasrat menjadi manusia, bukan hanya sekedar penjual dan atau pembeli. Mereka yang menolak diri mereka memimpikan hidup dengan keragaman nilai bukan hanya hidup tanpa kemandirian, kreatifitas, kekuatan dan penemuan-penemuan nilai-nilai baru yang tidak terdesak dan tergusur oleh satu nilai: ‘nilai ekonomi’. Mereka yang menolak mendasarkan hidup mereka hanya pada satu kepentingan dan tujuan: ‘kepentingan dan orientasi pasar’. Mereka yang menginginkan hidup dengan petualangan dan dengan kontrol penuh atas diri mereka sendiri dalam genggaman tangan mereka. Hari bagi setiap individu yang menolak dunia yang hanya menghargai orang dari seberapa banyak property yang ia miliki, seberapa besar kesuksesan yang ia peroleh dan seberapa besar kekuasaan yang ia raih. Hari bagi setiap orang yang menolak untuk di-standarisasi, di massifikasi, diasingkan dan direduksi eksistensinya sebagai komoditas belaka.

Mayday bukan hanya hari para buruh yang menolak diperbudak hanya karena mereka tak punya modal dan melacurkan diri mereka didalam pabrik-pabrik untuk sekedar kebutuhan hidup sehari-hari namun juga hari bagi seorang pekerja kerah putih yang bekerja di sebuah korporasi dan menolak jadi kelas menengah. Hari bagi seorang profesional muda yang menolak menjadi tua dan meninggalkan profesi mereka. Hari bagi seorang agen asuransi yang menjelaskan pada setiap klien mereka bahwa tak pernah ada jaminan polis yang cocok bagi hidup mereka, hari bagi seorang penyair yang menghidupi puisinya dan hari seorang rapper yang mengasah skill-nya hingga ke level gila-gilaan dan menolak menjualnya ketangan sebuah korporasi rekaman. Hari bagi seorang punk rock yang berhenti di-mohawk dan keluar dari stereotipikal ‘punk rock’ dan berbagi pengetahuan tentang independensi komunitas dengan seorang Darul Arqam. Hari bagi seorang gitaris grindcore yang tak lagi menulis lagu tentang kematian karena sadar bahwa kematian adalah hal yang normal didalam masyarakat yang hanya sekedar bertahan hidup. Hari bagi seorang seniman yang memberi jari tengah pada kurator.
.
Hari bagi seorang religius yang membenci institusi agama dan menolak seruan perang agama. Hari bagi seorang desainer pada sebuah perusahaan periklanan yang mem-vandal sendiri billboard hasil ide mereka dan hari bagi seorang anak keturunan sunda yang melecehkan omongan negatif ayahnya tentang ras medan dan cina dan kemudian menyebut ayahnya sebagai seorang rasis. Hari bagi seorang pegawai bank yang pura-pura lupa catatan keuangan satu semester terakhir dan menyimpannya untuk dijual ke tukang beling. Hari bagi seorang ibu rumah tangga yang menolak mencuci piring dan pakaian suami jika hanya lantaran ‘kewajiban moral seorang istri’. Hari bagi seorang anggota geng bermotor yang tak lagi yakin bahwa hidup dapat dijalani diatas sepeda motor dan tak percaya omongan ‘senior’ feodal mereka bahwa membunuh anggota geng musuh dapat mewakili eksistensi mereka.
.
Hari bagi seorang anak SMA yang tak ingin mencari identitas didalam sebuah pencitraan sabun mandi, odol, deodorant atau sepatu Nike dan hari bagi seorang tamtama yang tak yakin lagi dunia ini dapat dibangun dengan komando dan sadar ia punya potensi kebebasan yang tak bisa dicampuri oleh patriotisme dan bacot komandan mereka. Hari bagi seorang intel yang muak mengintai hidup orang lain untuk kemudian mulai sibuk ‘memata-matai’ hidupnya sendiri. Hari bagi pengamen jalanan yang menolak mengemis belas kasihan penumpang angkot dan tetap bernyanyi sepanjang hari dan memakan makanan dari tong sampah sebuah Plaza. Hari bagi sepasang kekasih yang menjalani cinta atas dasar restu dan komentar orang lain dan tidak lagi menghakimi cinta atas alasan kelamin. Hari bagi seorang homoseks yang tak lagi percaya pada klub-klub gay dan mencari kebebesan dengan membakar tabloid “Gaya Nusantara”.
.
Hari bagi seorang karyawan McDonalds yang memperlambat layanan bagi konsumen dan mencuri stok makanan yang terbuang dari gudang dan hari bagi seorang ABG yang membawa rekan-rekannya nangkring di fast food berjam-jam dengan bermodal air putih dan timbel dari rumah dan tak membeli makanan disana. Hari bagi seorang gemar film yang bertanya 1000 kali pada petugas tiket “film apa hari ini?” dan hari bagi seorang seniman performance yang berkostum satpam pada sebuah bank dan breakdance sepanjang hari. Hari bagi mereka yang berikrar akan memblokade setiap jalan yang akan dilalui birokrat IMF, World bank dan WTO di seluruh Indonesia, Hari bagi seorang aktivis lascar jihad yang mempropagandakan perang melawan Israel tanpa terperangkap retorika rasis dan perang agama, Hari bagi seorang aktivis mahasiswa yang tak percaya lagi retorika gerakan moral dan membuat nilai-nilainya moralnya sendiri yang bukan demi nilai-nilai dari slogan-slogan ilusi seperti “Demi Tuhan, Bangsa dan Almamater”. Hari bagi seorang nasionalis yang tak lagi menyembah patung burung garuda dan mulai membangun komunitas bukan atas alasan cinta tanah air dan hari bagi seorang fasis yang bunuh diri.
.
Dan yang paling pasti, Mayday adalah hari bagi kami yang tak peduli kalian mengerti selebaran ini atau tidak, tak peduli selebaran ini berguna bagi kalian atau tidak. Di sebuah era dimana massa mayoritas melecehkan kebebasan individu dan kekuatan individu dipakai untuk meraih massa guna kepentingan dirinya dan segelintir orang kami tak tertarik untuk ikut dalam kompetisi meraih simpati dan dukungan ‘massa’. Bagi kami kekuatan ‘massa’ hanya akan lahir jika setiap orang menyadari kekuatannya sendiri untuk dapat bebas dan melakukan apa yang dikatakan hasratnya bukan hasrat yang diciptakan oleh elit, birokrat, pemilik modal, kebutuhan pasar, dan tradisi. Bagi kami, Mayday bukan ‘hari buruh’ karena momen peringatan model begini bagi kami hanyalah omong kosong. Kami tak ingin bebas hanya dalam satu hari saja. Kami tak ingin sebuah hidup hanya diatas sebuah panggung festival sehari seperti layar tancep yang jika ada gerimis langsung bubar. Kami ingin festival ‘setiap hari’ yang memfasilitasi lantai dansa bagi ‘setiap yang hidup’. Mayday adalah hari kita semua ketika menghajar kebosanan sebuah dunia.
.
Rebut dan curi kembali hidup kalian, tuntutlah yang tak mungkin !!!
LET’S GET THE ‘PARTY’ STARTED !!!

Tulisan kedua ini sudah dimuat dan disebarkan oleh beberapa situs.

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan