artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

AADOEF. ADA APA DENGAN OBSCENE EXTREME ASIA?


By on 3.4.13

Sebelumnya, saya ingin bilang bahwa saya sungguh mencoba untuk menuliskan kegelisahan ini dengan penjelasan yang se-ringan dan se-singkat mungkin. Meskipun pada akhirnya panjang-panjang juga. Sebelum membaca curhatan emo saya ini yang dari judulnya saja sudah kelihatan betapa besar kualitas galaunya, mohon dipahami betul bahwa saya menulis curhatan ini adalah dengan mode : 

FRIENDLY DENGAN WAJAH TERSENYUM

Bukan suatu maksud untuk menyudutkan pihak penyelenggara OEF ASIA atau membela pihak-pihak tertentu. Saya hanya sangat gelisah melihat perkembangan yg terjadi di scene busuk yang sama-sama kita cintai ini. Saya tentu paham betul, bukan soal mudah mengorganisir suatu acara bertaraf internasional dengan segala tetek bengek kekisruhan birokrasi perizinan yang rumit dan korup di negri kita ini. Ditambah lagi kebutuhan fresh money untuk mengakomodir semua kebutuhan infrastruktur event berskala besar ini. Namun kondisi yang sudah sedemikian menjadi “api dalam sekam” ini mungkin harus segera di akhiri. Kondisi yang seolah membuat sebuah polarisasi di antara teman-teman di dalam scene.

PRO OEF atau CONTRA OEF?

Konfrontasi mengenai 2 hal tersebut meramaikan beranda sosial media saya 1 bulan belakangan ini. 

Bagi para Lovers

Salah satu dari mereka bilang : ahh, itu sih yang benci cuma orang-orang yang kecewa aja. Kecewa karena band nya ga diajak main, kecewa karena bandnya diajak main tapi dibayar berbeda dengan guest star yang lain, atau kecewa-kecewa lain yang sifatnya personal. 

Bagi para Haters (harus dibaca : Pengkritik bukan diafiliasi kepada kegiatan membeci) 

Salah satu dari mereka bilang : ngga selalu bro menjadi kritis terkait prinsip dan idealisme selalu dapat di idientikan hanya sebagai kecemburuan atau ketidakmampuan untuk bisa main di obscene. Karena kadang melawan, tunduk dan bahkan menjadi apatis itu adalah sebuah pilihan yg tidak diambil berdasarkan perasaan-perasaan lembek sesepele cemburu, iri, atau semata keinginan-keinginan untuk terkenal. 

Belakangan bahkan ada isu beredar mengenai akan diadakan semacam acara tandingan untuk Obscene Extreme ASIA. Ini semakin membingungkan buat awam seperti saya. Apakah saya melewatkan sesuatu disini? pertanyaan saya adalah, KENAPA HARUS DITANDINGI? Dan lalu APA YG PERLU DI TANDINGI? Apa yang salah sehingga sebegitu perlukah OEF ini ditandingi. Mungkin sudah saatnya membawa perdebatan ini kepermukaan. Sudah saatnya bagi pihak-pihak yang terkait untuk dapat memberikan informasi/klarifikasi terkait apa yang mereka lakukan. Publik awam seperti saya juga perlu mengerti dan belajar dari kontradiksi semacam ini. Karena diam dan marah hanya akan memperkuat polarisasi yang terbentuk di scene pada saat ini.

Oke. Jadi jelas sudah posisi saya disini adalah netral dan saya hanya bingung harus curhat ke siapa lagi soal kegelisahan ini. Dan siapa saya? tidaklah penting siapa saya. Jika kalian merasa siapa saya atau seberapa penting saya berafiliasi dengan kualitas tulisan atau isi pesan yang saya sampaikan. Mungkin kalian harus segera berhenti membaca sekarang.

Dimulai dari : Jika kalian tanya pendapat saya, buat saya mungkin yang paling menonjol dalam kasak-kusuk pro-kontra OEF adalah keterlibatan 711 sebagai partnership dalam penjualan tiket di OEF Asia. Yang lain mungkin prosedur/tata cara pemilihan band yang kurang transparan. Akses untuk submission dan kriteria-kriteria pemilihan band tidak dibuka secara jelas ke public scene. Lalu ada juga mungkin yang sebagian mengeluhkan soal mahalnya harga tiket OEF Asia. Namun untuk saat ini saya hanya akan membahas mengenai poin no 1. Poin yang menurut saya paling penting. (jika ada poin lain yang mungkin terlewat oleh saya terkait OEF, feel free untuk mengatakan nya)

Sebetulnya berkata jujur saya sungguh sangat bersemangat menyoal kedatangan kult open air festival untuk extreme musik selevel OEF di tanah air saya. Buat saya ini ibarat pergi haji di tanah kelahiran saya sendiri. Jika saya seorang Judais mungkin ini selevel mendatangkan tembok ratapan ke jakarta. Ini Luar Biasa. Namun euforia saya nampaknya tidak berlangsung lama saat tiba-tiba saja pihak OEF Asia merilis akan menjual presale tiketnya melalui sebuah gerai convenience store. Lalu mengapa saya merasa begitu terpukul mendengar hal ini. Mengapa saya begitu sedih mendengar berita ini. Lagi pula toh ini hanya convenience store, di negara bule sana toko-toko ini banyak berjasa lho sebagai transit area atau tempat  beristirahat para supir truck dalam perjalanan (yang notabenenya adalah pekerja kasar). Tapi yg menjadi pertanyaan saya? lalu apa relevansi nya, apa keuntungan nya sebuah toko kelontong waralaba mensupport event se kult OEF? Hei ini bukan konser David Guetta kan?

Mengapa 711?

Benak saya merancu kesoal relevansi antara 711 dengan Obscene Extreme, soal apa sih keuntungannya bagi sebuah toko kelontong waralaba mensupport acara extreme musik se kult OEF? Segera saya kasak-kusuk bertanya dan mencari informasi yg saya harap dapat menuntaskan kegalauan saya. Karena please, saya jujur tidak mau jadi emo begini. Saya tidak mau terlihat galau karena galau sudah terlalu mainstream bung. Saya mau dewasa menyikapi ini, bukan cuma sekedar marah dan atau emo oleh karena kekecewaan yang sifatnya personal dengan pihak penyelenggara. Duh, saya percaya sekali kita semua tidak di level itu lagi. Sudah tidak di level selembek dan sekerdil itu attitude dan pemikiran kita.

Kenyataannya tidak bisa dipungkiri di Jakarta, 711 adalah salah satu icon pemrakarsa penghamburan dan fertilizer penyubur budaya konsumtif di kalangan remaja dan masyarakat kelas menengah ke bawah. Along the line dengan CK, Lawson dkk.

Mereka pintar betul membaca gelagat dan kondisi masyarakat kita saat ini dan merubah nya menjadi peluang-peluang bisnis yang mendatangkan untung besar. Mereka tau betul cara nya menyelinap masuk ke relung-relung paling private dari setiap kita. Mereka merampas ruang-ruang publik yang sesungguhnya menjadi hak kita, merubah nya menjadi “ruang publik” dengan sistem berbayar. Mereka mengkomodifikasi kebutuhan essensial kita sebagai mahluk sosial. Menaruh tag dalam hubungan-hubungan antar individu. Memberikan harga untuk sekedar obrolan santai dengan teman. 

Dan tentu untuk bisa mengakses ruang publik yang nyaman tersebut yang perlu kita lakukan sangat mudah. kita HANYA PERLU MEMBAYAR. Lalu berapa rentang nominal yang perlu dibayarkan bergantung pada kesanggupan buyers membeli snack atau minuman paling murah di 711. Bisa dimulai dari aqua botol, beer kaleng hingga ke produk unggulan mereka seperti slurpee. Dimana terkadang produk-produk ini sesungguhnya tidak benar-benar dibutuhkan oleh para buyers. Mereka terpaksa merogoh kocek dalam-dalam untuk sekedar bisa menikmati ruang public berbayar ini. (saya bicara bagi masyarakat dengan kemampuan ekonomi kelas menegah bawah, jadi jangan bandingkan dengan harga sekali nongkrong di Beerpub di seputaran kemang atau SCBD, tentu tetap lebih murah). Lalu toko kelontong apa nya?? toko kelontong MY ASS. Dari harga produk saja sudah jelas jauh sekali lebih mahal dibanding dengan toko kelontong milik Pak Udin tetangga sebelah rumah saya, plus infrastruktur yang jauh berbeda dari toko kelontong pada umum nya, coba datang ke 711 cabang Matraman atau Menteng, disini lebih kental suasana Fast Food Restaurant dibandingkan sebuah Convenience Store. Terdapat 2 lantai, lantai 1 untuk ruang toko dengan 40% diantaranya untuk Food & Beverage mulai dari Big Bite, Slurpee, sampai dengan kopi, teh dan susu. Lantai 2 full digunakan seluruhnya untuk Dine In Area. Lalu apa nya yang toko kelontong, mereka jualan fast food juga.

Ooo, rupanya ini perbedaannya. Transformasi 711 dari wujud asalnya tentu tak lepas dari serangkaian strategi pemasaran taktis yang disiapkan oleh PT Modern Group sebagai pemegang lisensi retail 711 di Indonesia. Mereka lihat peluang ini, mereka melihat kecenderungan dan kebiasaan kebanyakan remaja di sini untuk berkumpul dan hang-out (baca : demen ngumpul dan kongkow-kongkow). Mereka melek betul soal bagaimana budaya nongkrong turut membentuk kepribadian kaum muda Jakarta. 

Dan tentu mereka sadar betul perlu ada sedikit modifikasi dari produk mereka untuk mampu menjawab tantangan “permintaan” dan memuaskan dahaga selera pasar kaum muda Jakarta. Dan jangan heran kalau mereka melengkapi dan memfasilitasi kegiatan nongkrong mu dengan kemudahan-kemudahan semacam free wi - fi, minuman beralkohol, dan junk food serupa big bite dan slurpee.

Ini yg kemudian membedakan positioning dan target market mereka dari yang semula berdiri sebagai convenience store sejenis indomaret atau alphamart menjadi seperti 711 yg kita kenal sekarang ini di jakarta. Tidak heran jika principle mereka (Seven & I holdings) di jepang sana geleng-geleng kepala melihat bagaimana jurus baru ini memenuhi ekspektasi pasar dan permintaan di indonesia. Mereka merilis bahwa kurang lebih ada 80 ribu orang/hari yang singgah di satu gerai unit 711 besar, hampir 80 persen nya adalah kaum muda (dengan mayoritas rentang usia 14 tahun – 25 tahun). Kalian bisa bayangkan berapa jumlah transaksi yang lalu lalang selama 1 hari di gerai tersebut.

Hmm... terjawab sudah pertanyaan saya diawal tadi perihal relevansi mengapa mereka sangat antusias merangkul pangsa pasar muda yang idientik dengan kegiatan-kegiatan serupa konser musik. Ya karena ada DUIT nya bro. Ada PRICE TAG dijidat setiap kalian. Bukan karena mereka benar-benar tulus ingin mensupport scene ini. Jadi tolong ya bro..please banget jangan ada lagi komentar yang bilang kalau : 

“Mereka (711) yang kita benci justru malah menjadi teman yang membantu kelangsungan terselenggara nya OEF Asia” 

WTFF mendengar statement ini saya rasanya ingin langsung mencret. APLLEEAAZZZZEE DEH.

Dan kenapa mereka melibas juga kesempatan untuk kerjasama dengan OEF Asia, meskipun mereka tau massa OEF adalah remaja dengan kharakteristik khusus. Ya karena jujur saja, SEMANGAT PEMBERONTAKAN DAN MILITANSI KITA INI LAKU DI JUAL BRO. Remaja dengan kharakteristik khusus seperti kita ini, mereka anggap berpotensi besar menjadi influencer dalam kelompoknya. FYI, case serupa adalah fenomena muncul nya SCION A/V. Sub unit toyota yang fokus membidik remaja dengan kharakteristik khusus. Dari dalam negeri tentu siapa tidak tau RADIOSHOW, unit infiltrasi yang dibelakangnya tersembunyi TV 0ne dan Bakrie Family. 

Jujur saja saya tidak perduli saat mereka menjadikan Pee Wee Gaskin sebagai salah satu ambassador slurpee. Sumpah mampus saya tidak perduli. Tapi tolong tidak dengan Obscene Extreme. Kalian bisa buang sampah dimana saja tapi tidak di halaman ruang kepercayaan saya. Ini daleeem mas bro....Obscene bermakna sekali buat saya...ini personal banget.. Jadi wajar kalau saya dan mungkin banyak yang lain pun memiliki ekspektasi yang sama terhadap obscene. Saya merasa seperti teralienasi dari scene yang sangat saya cintai ini. 

Maksud saya, jika kalian mampu menolak mentah-mentah sponsor ROKOK mengapa harus juga akhirnya melibatkan 711 sebagai salah satu ticket box. Hal ini tentu akan memberikan mereka kesempatan untuk masuk kedalam scene. kita memberikan ruang dan alasan bagi mereka untuk berafiliasi dengan kita. Membawa-bawa militansi dan perlawanan kita sebagai amunisi mereka untuk jualan. Jangan kaget kalau tiba-tiba mereka nanti mengeluarkan tag line “JANGAN NGAKU ANAK GRINDCORE KALO BIBIR LO BLOM BIRU” # Model iklan, full tattoo pake patches jaket penuh spike, baju mayhem sambil sedot slurpee”

Damn!! benar aja kan bro yg saya khawatirkan beberapa minggu lalu terjadi, di salah satu akun resmi mereka di media sosial. 711 mengeluarkan sebuah status bertitle TOP # 7 Metal. Disini mereka secara ngaco memberikan definisi mengenai salah satu genre yg erat dengan skena kita. Ngaco sengaco-ngaco nya bro. Sayang saya belum sempat screen capture status itu. Karena tidak berapa lama tentu saja segera dihapus oleh si empunya akun setelah dihujat para metalheads. 

Bisa dibayangkan jika kemarin kita diam saja saat informasi-informasi sengaco ini terus direproduksi oleh mereka (711). Dan oleh teman-teman newbie di scene diterima dan diturunkan lagi kepada teman-temannya yang lain sebagai suatu kebenaran. Dan saat ada salah satu dari mereka yg bertanya, kenapa gua harus percaya apa yg di katakan oleh 711.

Jawaban nya tentu semudah “Ah lu ngga gaul banget bro, 711 itu sah kok ngomong gitu, mereka sering jadi tiket box dan support event-event musik keras di jakarta. Tiket obscene aja di jual di 711“ *kalian tentu tau kan bagaimana kekuatan peer group pressure secara dominan membentuk mayoritas perangkat nilai dan persepsi para remaja. 

Kita tentu bertanggung jawab. Karena kita mengizinkan 711 masuk dan berafiliasi dengan Obscene Extreme Asia. Kita membuat mereka punya legitimasi untuk bicara mengatasnamakan dan menghubungkan produk-produk jualan mereka dengan scene ini.

Saya sadar total apa yang saya sampaikan disini mungkin belum secara utuh membedah lingkup permasalah di dalam OEF. Tugas saya hanyalah menggulirkan kemungkinan yang saya miliki, untuk bergulir lagi menjadi sebuah kemungkinan lain di kemudian waktu. Mungkin misalnya : sebuah diskusi terbuka yang dewasa dan transparan perihal permasalahan ini dan tentunya next OEF ASIA yang lebih baik.

Musuh saya bukanlah teman-teman di scene. Melainkan korporasi yang menyelinap masuk dan melakukan infiltrasi kedalam scene. Mereka hadir seolah sebagai sekutu atas peperangan besar ini. Mereka menyebarkan cara pandang mereka, membiarkan sebagian dari kita di scene mencicipi legitnya popularitas dan kemudahan yang mereka tawarkan. Membuat banyak pelaku scene terbuai dan tanpa sadar telah bertransformasi sebagai borjuis-borjuis kecil yang mengangkat kepala mereka tinggi-tinggi kepada teman-teman di scene, tetapi membungkuk seperti pesakit dihadapan korporasi dan media-media kapitalis. Mereka (banyak dari pelaku scene) borjuis kecil pembungkuk penjilat pantat korporasi. Tanpa kita sadari turut melakukan penghisapan dan eksploitasi atas nama scene.

Dan jujur sejujur jujurnya

Saya bersedia dikoreksi apabila yang saya sampaikan salah atau tidak sesuai dengan kenyataan dilapangan. Saya senang sekali berdiskusi dan diberi pemahaman terkait hal ini. Please, jangan hanya diam dan marah. Diam dan marah sangat merugikan bagi kesehatan kita. Survei bilang kalau 80 % orang yang kerap memendam amarahnya berpotensi lebih besar mengidap penyakit jantung ketimbang yang meluapkan amarahnya secara wajar. Cheers. (Ayudhia Virga, Lightworkers Jakarta)

KOLEKTIF KURANG KERJAAN

Demo lagu, press release (rilisan terbaru), Scene/Gigs Report, Artikel/Tulisan sendiri, Flyer/poster (Gigs/Events, Rilisan), Review (CD, kaset, filem, buku, dll), kirim ke: noiseblast.media@gmail.com.

 
Bagikan