artikel, demo sound, band profile send to: noiseblast.media@gmail.com

IDEOLOGI POLITIK KONTEMPORER



"I follow politics, but I don't like to discuss it" Tom Araya (Slayer)
(Saya mengikuti perkembangan politik, tapi saya tidak suka mediskusikannya)

Dari Redaksi:
Sebelum anda memulai membaca artikel ini, kami anjurkan, jangan DITELAN MENTAH MENTAH!! Ada baiknya ditelaah dulu, cari sumber sumber lain, atau bicarakan ringan dengan teman teman anda. Dan bukan maksud kami agar anda menjadi SOK POLITIS diantara temen teman anda, ini hanyalah wacana tawaran yang mungkin anda butuhkan. Ya setidaknya anda CUKUP TAHU TENTANG POLITIK dan TIDAK BUTA BUTA AMAT TENTANG POLITIK.

Sekali lagi, ini hanyalah referensi, bacaan, bukan dogma atau pedoman, karena ini hanyalah sebagian kecil saja, selebihnya silahkan anda belajar sendiri. Selamat membaca.


IDEOLOGI POLITIK KONTEMPORER

Ideologi merupakan suatu nilai atau sistem kepercayaan yang diterima sebagai suatu fakta atau kebenaran oleh sekelompok orang. Ideologi terdiri dari seperangkat sikap-sikap yang terdapat dalam institusi-institusi atau proses-proses di dalam masyarakat. 

Ideologi politik meupakan kumpulan gagasan atau ide-ide yang secara logis berkaitan (ideologic) dan yang mengidentifikasi prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang memberi keabsahan bagi institusi politik dan prilaku dari perorangan/kelompok/institusi politik. Ideologi dapat digunakan untuk membenarkan status quo atau upaya untuk merubahnya baik secara radikal maupun persuasif.

Fungsi Ideologi:
  • Menjelaskan hakekat suatu kejadian sosial politik
  • Menyediakan kerangka kerja atas ide-ide dan nilai bagi penganutnya
  • Sebagai dasar untuk melakukan (motivasi) suatu tindakan politik

Secara implisit maupun eksplisit, suatu ideologi memuat hal-hal yang berkenaan dengan apa sebenarnya hakekat manusia, negara, hubungan antara warga negara dengan negara, siapa yang seharusnya mengatur negara, apa fungsi pemerintahan, apa hubungan suatu ”kebenaran” terhadap politik.

Ideologi terbagi atas:
  1. Ideologi kiri : Anarkisme, Sosialisme, Komunisme
  2. Ideologi Tengah dan Kanan : Liberalisme, Konservatisme, dan Fasisme

ANARKISME

Anarkisme berasal dari kata yunani ”anarchi” = tidak memiliki pemerintahan. Bahwa satu-satunya wewenang yang mempunyai kekuatan moral dan keabsahan adalah wewenang yang oleh setiap individu diberikan kepada dirinya. Ini berarti individu tidak bisa dipaksa untuk melakukan sesuatu kecuali atas kemauannya sendiri.

Anarkisme adalah filsafat politik yang memandang masyarakat bisa dan sudah seharusnya eksis tanpa aturan-aturan dan dalam pandangan ekstrim tentang kebebasan individu dan tentang orang2 sosial yang tanpa peringkat atau wewenang, dengan asumsi bahwa negara adalah gudang/sumber korupsi dan ketidakaturan dalam tubuh politik. Pemerintah pada hakikatnya opersif, oleh karena itu manusia seharusnya membersihkan diri dari semua bentuk kekuasaan pemerintahan sebelum membangun masyarakat baru yang berdasarkan keadilan, cinta, dan semangat kerjasama.

Tokoh; Pierre Joseph Proudhon, Mikail Bakunin, Peter Kropotkin, William Godwin. Mereka beranggapan bahwa pendirian manusia pada dasarnya disebabkan oleh ketidakadilan, kekuasaan Negara yang berdaya paksa menaghalangi manusia untuk memperoleh kebahagiaan. Segala yang mengarah kepada eksploitasi harus dihilangkan. Masyarakat masa depan harus terdiri atas unit-unit kecil dimana tidak seorang pun boleh memaksakan kehendaknya pada orang-orang lain. Kongkritnya dengan pembentukan kelompok-kelompok kecil yang disebutnya ”mutualis anarkisme” yang dibuat cenderung membentuk organisasi sosial.

Inti dari Ideologi Anarkisme:
  • Para Anarko di Perancis melihat konsep Rousseau tentang kedaulatan rakyat, ditafsirkan mereka bahwa hak individu untuk mengatur diri sendiri tidak boleh dikesampingkan dan tidak boleh diwakilkan.
  • Pembuatan peraturan dan kebijakan adalah hak istimewa setiap individu karena individu yang memiliki kepentingan dan kebutuhan.
  • Warga negara adalah pengatur dirinya sendiri
  • Kebebasan individu adalah hal yang utama dan pengekangan kelembagaan (lembaga agama, kapital, negara) harus dihapus karena membahayakan kebebasan individu.
  • Cara menorganisir masyarakat pada ideologi anarkisme adalah kerja sama/gotong royong atas dasar saling ketergantungan sesuai dengan kesadaran dan keinginan sendiri.


KOMUNISME

Komunisme lahir 1830 di Prancis. Komunisme adalah nama perkumpulan revolusioner rahasia di Perancis. Dibawahi tokoh Etienne Cabot yang berfungsi memperjuangkan satu masyarakat sosialis yang menempatkan segenap aktivitas penting dari kehidupan di tangan negara. Hak milik tidak diakui sama sekali, persamaan dijaga, syarat-syarat bekerja untuk semua orang. Komuni ini terbentuk dilatar belakangi Revolusi yang menghendaki Pemerintah Parlementer dengan menghapuskan raja, tetapi hasilnya adalah penghapusan Republik dan naiknya Louis Philippe sebagai raja.

Komunisme :
1. Komune (Commune), Satuan dasar bagi wilayah Negara yang berupa Pemerintah sendiri dengan. Negara itu sendiri sebagai federasi dari kumuni-komuni itu
2. menunjukkan milik/kepunyaan bersama

Gracchus Babeuf, salah satu dari tokoh perkumpulan ”society of the equal”, aktif bergerak menegakkan kemerdekaan, persaman, persaudaraan, yang bertujuan menegakkan kebahagiaan dan kemakmuran. Ia mewariskan kepada Marx dan engels, gerakan bawah tanah, revolusi, ketekunan, kesungguhan dan kekerasan.

Liga Komunis dibentuk melalui manifestasi komunis (1847)

Melalui karya Max dan Engels. Mereka menggunakannya untuk memberikan pengertian perjuangan yang revolusioner sambil memperlihatkan kemauan untuk ”bersama” dalam hal milik dan menikmati sesuatu. Menurut Engels, Istilah tersebut kurang mengandung pengertian utopia, erat hubungannya dengan perjuangan kelas pekerja serta konsepsi materialis dari sejarah menuju masyarakat komunis.

(materalisme historis: Konsepsi materialis dari sejarah)
(Materialisme adalah pandangan mengenai sifat atau hakkat kenyatan kebendaan)
(Materialisme historis menjelaskan hubungan-hubungan manusia berdasarkan kenyatan sejarah)


SOSIALISME

Sosialisme lahir didasari oleh kemerdekaan individu. Kepercayan diri pada manusia melahirkan kepercayaan pula bahwa segala penderitaan dan kemelaratan dapat dihadapi dan dapat diusahakan melenyapkannya.

Pelopor-pelopor Sosialisme

Sosialisme Utopis (1760)
  1. Saint Simon, Beranggapan bahwa pengaturan duni seharusnya diserahkan kepada tangan orang-orang yang berilmu pengetahuan/Pemerintahan oleh orang-orang kaya.
  2. Charles Fourier, Beranggapan bahwa dalam masyarkat kecil perlu diadakan sistem pemilih dan sistem pendidikan yang sama bagi anak-anak tanpa membedakan si miskin dan si kaya. Ia masih mengakui adanya hierarki sebagai pengaturan masyarakat yang diadakan sedemikian rupa sehingga masyarakat merasa puas dengan bidang pekerjaanya.
  3. Robert Owen, Menghendaki mayarakat yang benar-benar menjalankan persamaan, tidak ada hierarki, serta pendidikan yang sama.
Macam-macam sosialisme:
  1. Sosialisme Utopia yang mengkhayalkan sebuah komunitas dengan tatanan kehidupan bersama yang ideal dimana private property dihapus semua orang bekerja; pendapatan disamaratakan; pengorganisasian produksi dilakukan oleh negar untuk menghapus kemiskinan.
  2. Sosialisme Otoriter dimana cita-cita sosialisme seperti perekonomian yang dibangun untuk kepentingan rakyat banyak dilakukan dalam kerangka pemerintahan yang otoiter dengan asumsi bahwa elit penguasa tahu yang pemerintahan yang otoriter dengan asumsi bahwa penguasa tahu yang yang terbaik untuk rakyatnya dibanding rakyatnya sendiri.
  3. Sosialisme Demokrat yang muncul dalam masyarakat yang sudah mengalami industrialisasi dan keterbukaan arena politik bagi kelas pekerja, bahwa Pemerintah ikut campur dalam proses-peroses demokrasi untuk menyelesaikan masalah-masalaj ekonomi sosial, misalnya dengan munculnya program dan pensiun, tunjangan pengangguran, jaminan kesehatan untuk kaum miskin. Bahwa Negara merupakan sarana penting untuk melangsungkan persamaan kesempatan bagia semua orang.

LIBERALISME

Sekilas Tentang Liberalisme
Liberalisme menitik beratkan perhatiannya pada kebebasan individu yang harus diimplementasikan dalam tingkat domestik, dan hubungan antar negara.

Peran state adalah sebagai penjaga terwujudnya kebebasan tersebut, sebagai pelayan kemauan/kebijakan kolektiv individu. Di sinilah peran krusial demokrasi sebagai sebuah sistem untuk mewujudkan angan-angan liberalisme sebagai teori utopia pemerintahan yang menginginkan kerukunan antara keamanan dan persamaan dalam suatu komunitas. Sebagaimana grand theory yang lain, liberalisme memiliki variasi yang berbeda secara mendasar. Perbedaan tersebut terletak pada sebab-sebab peperangan dan lebih jauh lagi, pada apakah perdamaian merupakan tujuan dari world politics atau world order, serta metode penerapannya. Terakhir, mereka berbeda pendapat dalam menanggapi isu bagaimana menghadapi negara lain yang tidak liberal.

Pemikiran liberal sebenarnya sudah ada sejak abad ke 16, dimana para filsuf dan agamawan merlihat konflik bukanlah kondisi alamiah. Pada tahun 1517, Erasmus mengangkat tema liberal dengan menyatakan bahwa perang itu merugikan, untuk itu raja dan ratu Eropa harus memilih perdamaian, dan membina hubungan ‘baik’ dalam hubungannya dengan negara lain, dengan harapan agar negara tersebut berlaku sama. William Penn pada tahun 1693 mencetuskan ide bahwa kondisi international outlaws (anarki) harus diatur oleh institusi internasional, untuk itu ia menganjurkan adanya Dewan Legislatif Eropa (European Diet). Pemikiran ini menghadapi permasalahan ketika ia dihadapkan pada konsep liberal yang lain, bahwa tiap-tiap negara memiliki kedaulatan untuk membuat kebijakan sosial ekonomi sendiri. Oleh karena itu, di sini liberalisme dipilah berdasarkan pendekatan kontekstual yang telah disebutkan sebelumnya, antara lain internasionalisme liberal, idealisme, dan institusionalisme liberal.


NEO-LIBERALISME

Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal mengacu pada filosofi ekonomi-politik yang mengurangi atau menolak campur tangan pemerintah dalam ekonomi domestik. Paham ini memfokuskan pada metode pasar bebas, pembatasan yang sedikit terhadap perilaku bisnis dan hak-hak milik pribadi. Neoliberalisme secara umum berkaitan dengan tekanan politik multilateral, melalui berbagai kartel pengelolaan perdagangan seperti WTO dan Bank Dunia. Ini mengakibatkan berkurangnya wewenang pemerintahan sampai titik minimum. 

Neoliberalisme melalui ekonomi pasar bebas berhasil menekan intervensi pemerintah (seperti paham Keynesianisme), dan melangkah sukses dalam pertumbuhan ekonomi keseluruhan. Untuk meningkatkan efisiensi korporasi, neoliberalisme berusaha keras untuk menolak atau mengurangi kebijakan hak-hak buruh seperti upah minimum, dan hak-hak daya tawar kolektif lainnya. Neoliberalisme bertolakbelakang dengan sosialisme, proteksionisme, dan environmentalisme. Secara domestik, ini tidak langsung berlawanan secara prinsip dengan poteksionisme, tetapi terkadang menggunakan ini sebagai alat tawar untuk membujuk negara lain untuk membuka pasarnya. Neoliberalisme sering menjadi rintangan bagi perdagangan adil dan gerakan lainnya yang mendukung hak-hak buruh dan keadilan sosial yang seharusnya menjadi prioritas terbesar dalam hubungan internasional dan ekonomi.

Sejak pertamakali dikaitkan dengan pemerintahan Reagan dan Thatcher sekitar dua dekade lalu, neoliberalisme telah menjadi kecenderungan dominan ekonomi politik global yang diadopsi oleh partai-partai politik utama, baik dari sayap kiri maupun sayap kanan. Partai-partai ini dan kebijakan yang mereka keluarkan, mengawal kepentingan sekelompok investor yang sangat kaya dan kurang dari seribu perusahaan.


FASISME

Fascisme lahir dianggap sebagai reaksi terhadap liberalisme dan positivisme yang terlihat dari kecendrungannya yang anti intelektualisme dan dogmatisme. Fasiscme merupakan manifestasi kekecewaan terhadap kebebasan individual (individual freedom) dan kebebasan berfikir (freedom of though), Liberalisme dan positivisme. Dengan menjadi Fascis –menganut fascisme- individu merasa bebas setelah melarikan diri dari kebebasan, dimana ia menikmati kebebasan justru dalam belenggu anti kebebasan. Munculnya fascis juga merupakan ekses industrialisasi, modernisasi serta demokratisasi. Akar-akar pemikiran fascis bisa dilihat dalam pemikiaran Hegel, Rosenberg, Darwin, Nietzsche, dlll. Dalam bentuknya yang modern dan kontemporer, dan dalam format yang par exellence terjadi ketika Benito Mussolini menguasai Italia (1922), Hitler dengan NAZI nya di Jerman (1933), Franco di Spanyol (1936), Tenno Heika di Jepang (1930), dan Juan Peron di Argentina (1950).

Diantara doktrin2 Fascisme yaitu:
1. Gagasan Rasialis.
2. Anti semitisme
3. Totalitarian
4. Kepemimpinan Elitis
5. Nasionalisme

(MelStovia)

HUJAN DAN SKEMA PERGESERAN SIFAT HUMANIS




Halo sob ... ketemu lagi kita hehe ...
Kita bahas hujan disni hehe, dan mungkin kali ini nalar kami agak sedikit subyektif, kenapa kami subyektif? karena hal ini TIDAK terjadi kepada semua individu. Tapi kenapa hujan? Ya hujan memang hal biasa dan udah jadi bagian dari siklus alam yang mendukung kehidupan manusia, tapi kadang banyak dari kita menyalahkan hujan karena telah mengganggu hal hal rutin yang HARUS KUDU MUSTI dilakukan. Dan dengan segala waktu luang dan gak ada kerjaan, kami memikirkan hal ini yang akhirnya gak bisa terbendung lagi untuk diungkapkan kedalam sebuah tulisan walau pendek berikut ini. 

HUJAN DAN SKEMA PERGESERAN SIFAT HUMANIS

Ada dua pertanyaan, pertanyaan pertama adalah KENAPA KITA TIDAK MENUNGGU HUJAN REDA UNTUK BERANGKAT KERJA/SEKOLAH?? Ya, Kita tidak bisa menghindari hujan demi mengejar waktu yang sudah ditentukan oleh sang atasan, walaupun hujan itu berpetir dan badai. 

Pertanyaan kedua adalah KENAPA JUSTRU KITA BISA LEBIH BERLAMA LAMA MENUNGGU HUJAN REDA UNTUK PULANG?? Dan ya kita bisa menghindari hujan berjam jam dengan berteduh disatu tempat sampai hujannya reda walaupun kita sadar kalau ada yang menunggu dirumah. 

Diluar alasan takut terlambat, takut dipecat, atau takut kena skorsing, ini jelas bukanlah fenomena, ini adalah pergeseran halus sifat humanis kita yg secara hakekatnya terlahir bebas, menuju sifat yg cenderung robotik dan senang atau rela dengam satu kekangan. Ya, kita menjadi lebih memilih mengikat diri kita pada ketidaknyamanan dalam sebuah diorama perintah dan lebih melalaikan segala daya yang datangnya dari kasih, kerelaan dan rasa ingin terus bersama-sama dalam kehangatan dan kemesraan.

Love is life, life is free ...

ditulis oleh: Adung Prengkihh (make H-nya dua), tukang ojek payung Stasiun Depok Lama.


NBR 029/2016 THE FILTHY GRIND PROJECT, split Gonorrhea Zombie / Tumor Ganas




THE FILTHY GRIND PROJECT

Tracklist:
01 Gonorrhea Zombie - Brain Mucopurulent
02 Gonorrhea Zombie - Penile Inflammatory Discharge
03 Gonorrhea Zombie - Uterus Eater
04 Gonorrhea Zombie - Vagina Luftwaffle (Rompeprop cover)
05 Tumor Ganas - Yang Muda Yang Ceria Mati! (Save Your Youth!)
06 Tumor Ganas - Walah Wawah Weweh Wawah
07 Tumor Ganas - Setan Aku Aku
08 Tumor Ganas - Egaliter Sebatas Wacana

Gonorrhea Zombie:

https://www.facebook.com/gonorrheaZ
https://soundcloud.com/gonorrhea_z

Tumor Ganas:
https://www.facebook.com/tumorganas.grindcore
https://soundcloud.com/tumorganas-grindcore

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Released and publish by:

Digital Audio Surgery Team (xDxAxSxTx)
https://soundcloud.com/noiseblastudio

Support released and publish by:

Arakatee Acehnese Records:
https://www.facebook.com/ARAKATEE.ACEHNESE.RECORDS
Denses Records:
https://www.facebook.com/densekedelai

Grinding Like A Maniacs Records
https://www.facebook.com/xgxlxaxmxrecs

Grindcore Worldwide
https://www.facebook.com/grindcore.worldwide

KandangXapi Records:
https://www.facebook.com/Kandang-Xapi-Records-Distribution-778354165590188

Noisebombsound Download Library:
https://www.facebook.com/noisebombsounds

Noiseblast Media:
https://www.facebook.com/NoiseblastMedia

Pressure Blast Records:
https://www.facebook.com/pressureblastrecs

Sibukota Records:
https://www.facebook.com/SBKTrecord

Thank You For Download, Listen and Share!!
Enjoy!!



Check Sound!



BATTLE IN SEATTLE, The Review


Dari Redaksi:

 Ada kalimat yang paling berkesan ketika Django meredakan emosi Jay waktu mereka bertemu di sel tahanan begini kira-kira "Ayolah bro ... kita tidak sedang berlomba ... kamu ingat seminggu yang lalu orang-orang tidak tahu apa itu WTO ... tapi sekarang mereka tetap tidak tahu sih ... tapi mereka tahu kalau WTO itu buruk ..."

Intinya gini, sebuah perlawanan bukan hanya mencari kemenangan, tapi ini juga merupakan edukasi atau pembelajaran, atau pembenturan yang (mungkin) dapat menyadarkan banyak orang ... Perlawanan adalah teguran keras, ancaman, dan "jam weker" buat ngebangunin mereka yang masih terlelap dan terlena oleh impian-impian gemerlapnya dunia modern ...

Dan berikut gambaran seru dari blog https://pandaiapi.wordpress.com tentang filem ini, cekidot brooo ...

***

“..Jaringan suara yang bukan hanya bicara namun juga berjuang demi kemanusiaan untuk melawan neo-liberalisme. Jaringan lima benua yang turut menangkal kematian yang disuguhkan kekuasaan kepada kita. Jaringan tanpa pusat atau pengambil keputusan, yang tak memiliki komando sentral atau hakiki. Kitalah jaringan itu, kita semua yang melawan…” (Zapatista, Chiapas 1996)

Anarkisme sebagai sebuah keyakinan politik kadung mengalami peyorasi, degradasi makna. Istilah ini kerap diasosiasikan dengan sikap urakan, anti kemapanan, dan terutama doyan kekerasan. Anarkis berarti demonstrasi dengan melempar batu, membakar ban, mengeroyok polisi atau yang sejenisnya. Padahal sebagai sebuah keyakinan politik, anarkisme punya makna yang jauh dari sekedar tindak kekerasan. Bangkitnya kelompok-kelompok otonom sebagai respon atas menguatnya aktor non-negara (baca: korporasi) dalam konstelasi politik dan kekuasaan kontemporer membuka peluang munculnya paradigma baru anarkisme di era globalisasi neo-liberalisme saat ini. Namun lagi-lagi, penyempitan makna yang kadung memandang minor anarkisme membuat ide alternatif ini semakin kehilangan pamor di mata publik.

Padahal “anarkisme baru” yang muncul sejak menguatnya peran korporasi dan logika perdagangan dalam mendikte demokrasi dan kehidupan manusia adalah salah satu keyakinan politik dan metode penggorganisasian massa yang paling potensial meruntuhkan hegemoni kapitalisme yang dimanifestasikan lewat kongsi dagang WTO, World Trade Organization. Persitiwa yang terjadi di Seattle di akhir November 1999 saat ribuan masyarakat sipil melakukan protes selama berlangsungya sidang WTO adalah gambaran bagaimana sebuah “gerakan anarkis” sukses menantang hegemoni kapitalisme (yang dimitoskan tak terkalahkan oleh Fukuyama dalam The End of History-nya). Karenannya Battle In Seattle adalah film yang tepat bagi Anda yang hendak berkenalan dengan perjuangan dan gerakan “anarkisme baru”, perjuangan yang oleh Zapatista (gerilyawan masyarakat adat Chiapas) disebutnya sebagai Resistencia y Rebeldia For La Humanidad, Perlawanan dan Pemberontakan untuk Kemanusiaan.

***


Battel In Seattle adalah film anyar keluaran tahun 2008 yang disutradarai oleh Stuart Townsend. Film ini mengambil setting saat berlangusngnya protes anti kapitalisme/neo-liberalisme pada pertemuan tingkat menteri anggota WTO di Seattle U.S bulan November 1999. Bisa dibilang film ini hibrida antara dokumenter dan fiksi. Setting film merupakan kisah nyata yang benar-benar terjadi, namun semua tokoh dalam film ini cuma rekaan, meski mereka memerankan kelompok-kelompok yang mengambil peran pada peristiwa Seattle yang kesohor itu. Kritikus flm menyebut film ini “not quite a documentary and not quite a drama, but interesting all the same” (Wikipedia). Sebagai film “semi dokumenter” dengan corak politis yang kuat dan tendensi keberpihakan yang kental, rasanya kurang afdol menonton film ini tanpa memahami gerakan anti kapitalisme kontemporer (saya lebih suka menyebutnya gerakan anti ketidakadilan global) yang menjadi “tokoh utama” film protes ini.

Film ini mengisahkan orang-orang yang dengan perannya masing-masing saling terikat satu sama lain dalam reli protes selama lima hari di Seattle. Mereka terdiri dari : tiga orang aktivis penggerak protes dengan latar belakang yang kompleks dan beragam (environmentalist, feminis, anti-debt activist); Dua orang wartawan liputan langsung yang memilih berpihak pada kebenaran dengan resiko pemecatan ; Seorang dokter MSF (Medicine Sans Frontier/Doctor Without Borders) yang menolak komersialisasi layanan kesehatan dan paten obat-obatan melalui jalur legal dalam forum WTO, meski suaranya dianggap angin lalu ; Seorang polisi kota Seattle yang menjaga perhelatan sidang WTO dan istrinya ; Serta Major kota Seattle yang kebingungan menangani protes yang berkembang menjadi “bencana nasional”. Protes selama lima hari itu menghubungkan mereka dalam sebuah “ikatan” dan masing-masing dihadapkan pada pilihan-pilihan yang akan mempengaruhi masa depan dan posisi mereka dalam protes yang telah menjelma menjadi gerakan mundial (global) ini.

Bagi penggiat “parlemen jalanan”, film ini akan sangat familiar bahkan mungkin bisa menjadi refrensi anda saat melakukan protes/demonstrasi . Sejak awal hingga akhir film ini , Anda akan disuguhi beragam kreativitas aksi dan demonstrasi damai a la “neo-anarkisme”. Anda akan melihat bagaimana kelompok-kelompok afinitas yang beragam dalam reli protes ini (buruh, mahasiswa, petani, feminis, aktivis lingkungan dll) mampu mengoganisaskan diri secara rapih dalam sebuah struktur yang nyaris tanpa hierarki birokratis dan komando tersentral. Pengelolaan protes secara anarkis membuat kelompok-kelompok yang berbeda itu mampu bergerak secara kompak ketika melakukan aksi turun ke jalan untuk memblokade jalan menuju area pembukaan sidang WTO tanggal 29 November 1999. Sejak pagi mereka menyebar di beberapa titik dan memblokade jalanan yang akan dilalui delegasi pertemuan dengan rantai manusia. Uniknya,pemblokiran arus lalu lintas tidak menggunakan cara-cara “klasik” misalnya dengan membakar ban atau memancing bentrokan di jalanan. Alih-alih mengunakan idiom klasik revolusi (pistol, molotov, tentara pembebasan dll), mereka menggunakan perangkat-perangkat unik ukuran raksasa yang bermakna satir dan mngundang senyum (misalnya boneka karikatur pemimpin dunia). Spanduk-spanduk dan perangkat agitasi juga dibuat sekreatif mungkin, bahkan kostum peserta aksi sengaja dibuat untuk menyindir polisi yang mengawasi demonstrasi damai dengan pakaian tempur lengkap yang lebih mirip kostum Death Vader dalam film Star Wars. Di film ini misalnya, diperlihatkan bagaimana demonstran menggunakan kostum yang jauh dari kesan “sangar” dan berbahaya, misalnya dengan kostum badut kura-kura atau kostum peri, lengkap dengan “senjata” berupa kemoceng untuk mengelitik polisi yang sudah bersiap siaga dengan peluru karet dan pelontar gas air mata di tangan. Blokade jalan dengan demosntrasi damai ternyata berhasil menunda pembukaan sidang WTO hingga senja. Yang membuat media dan aparat tecengang adalah fakta bahwa dibalik aksi yang sanngat rapi dan massif ini tak kelompok atau pemimpin tunggal satu pun yang berperan sebagai “aktor utama”.

Reli protes selama lima hari di Seattle yang menjadi inti cerita film ini memang peristiwa bersejarah. Demonstrasi 29 November 1999 adalah awal dari demonstrasi serupa yang digelar di berbagai belahan bumi pada tahun-tahun berikutnya: Cancun, Genoa, Hongkong dll. Masyarakat sipil di seluruh penjuru dunia meyadari bahaya buasnya kapitalisme serta menguatnya peran korporasi sebagai aktor non-negara dapat mendikte demokrasi dan kebebasan, karenannya setiap ada perhelatan lembaga-lembaga penyokong globalisasi kapitalisme: World Bank, International Monetary Fund dan Word Trade Organization, dapat dipastikan akan berlangsung demonstrasi-demonstrasi besar. Tiga lembaga yang diberi julukan sebagai Unholy Trinity (Trinitas tak suci) itu memang gencar mempromosikan perdagangan bebas abosolut dengan menafikan dampak sosial dan ekologis yang mungkin timbul. Atas nama perdagangan dan akumulasi kapital mereka gencar mempromosikan penghapusan pembatasan tarif antar negara dalam perdagangan bebas dan melarang negara anggota melakukan proteksi dan subsidi, padahal dua kebijakan ini dibutuhkan oleh negara berkambang untuk melindungi industri dalam negeri yang sedang berkembang. Logika dagang juga digunakan dalam melihat kebutuhan dasar yang berujung pada komersialisasi layanan dasar. WTO lewat lebijakan GATS (General Agreement on Trade in Services) telah membuka peluang dikomersilkannya layanan pendidikan dan kesehatan. Lewat kebijakan Hak Kekayaan Intelektual (TRIP’s), WTO juga telah menghilangkan akses penduduk miskin di negara berkembang untuk mendapatkan obat-obatan murah berkualitas karena hak paten obat yang terlampau mahal untuk dibeli oleh negara berkembang.


Rupanya tak cuma gerakan protes yang terus menjjalar pasca peristiwa Seattle. Gerakan masyarakat sipil yang menentang ketidakadilan global ini rupanya mulai mengorganisir diri (tentunya dengan prinsip anarkis) sehingga koordinasi antara elemen afinitas semkain rapi. Mereka bahkan membentuk WSF (World Social Forum), selain sebagai satir bagi WEF (Word Economic Forum) yang beranggotakan negara-negara paling maju ekonominya di kolong jagat, WSF juga didirikan sebagai wadah untuk penguatan jaringan perlawanan dan protes antar benua serta pembentukan wacana alternatif/tandingan atas mitos globalisasi-kapitalisme. Karennya tak dapat dipungkiri, peristiwa lima hari di Seattle pada tahun 1999 adalah momen kebangkitan kembali bangkitnya people power yang akarnya dapat ditelusuri kembali pada gerakan-gerakan anti perang 30 tahun silam. Peristiwa Seattle mengejutkan aparat, politisi, pemilik korporasi hingga media massa. Dari mana datangnya ribuan demonstran yang tumpah ruah memblokade jalan? Ke partai atau kelompok manakah mereka tergabung? Penggorganisasi massa secara anarkis yang menghasilkan sruktur non-hierarkis rupanya berhasil membuat orang-orang dibelakang meja itu terhenyak bahwa masyarakat masih punya kekuatan.

Peristiwa Seattle juga layak dikenang, sebab selain capaian keberhasilan gerakan yang diorganisir secara anarkis, pada peristiwa ini pula terjadi distorsi makna anarkisme dan gerakan anti ketidakadilan global secara keseluruhan. Sebagaimana digambarkan dalam Battle of Seattle, protes lima hari ini rupanya diikuti juga oleh faksi yang lebih memilih melakukan kekerasan dalam setiap aksinya. Meski jumlah mereka relatif kecil, namun media massa gencar mencitrakan protes lima hari itu sebagai sebuah protes yang penuh dengan pengrusakan, penjarahan, dan chaos. Apalagi ketika Black Bloc, sebuah faksi anarkis yang terkenal dengan pakaian khas berupa jaket hitam dan masker, melakukan perusakan terhadap icon kapiltasime semisal Starbucks dan McDonald’s. Protes lima hari di Seattle sejatinya merupakan protes damai tanpa kekerasan. Kalaupun ada kelompok yang melakukan kekerasan, jumlah mereka relatif kecil dibandingkan dengan ribuan demonstran damai lainnya. Kekerasan yang kemudian terjadi-pun lebih banyak yang dipicu oleh kekerasan polisi dalam penanganan demonstrasi. Gencarnya pemberitaan media terkait tindak kekerasan ini tak pelak membuat protes lima hari ini mendapat sorotan tajam. Berkat pencitraan negatif ini pula gerakan anarkis dan anarkisme mengalami distorsi dan degaradis makna. Istilan anti-globalisasi pun mulai disematkan pada demostran anti-WTO, sebuah istilah yang sangat tidak depat dan cenderung mencitrakan demonstran sebagai kelompok masyarakat yang anti kemajuan (karenanya saya lebih senang menggunakan istilah gerakan anti ketidakadilan global tinimbang anti gobalsiasi).

Semua dinamika protes lima hari ini dapat Anda saksikan dalam film Battle in Seattle karya Stuart Townsend ini. Meski tidak mengulas latar belakang lahirnya gerakan-gerakan anti kapitalisme secara mendalam, namun cukup menarik bagi Anda yang ingin berkenalan dengan gerakan “anti globalisasi” yang meng-global ini. Jika Anda tertaik, saya bersedia meminjamkannya. Gratis, tak perlu biaya rental. Asalkan setelah nonton kita buat diskusi soal film ini… hehe…tertarik???Segera contact saya ya…

Salam, Tabik, dan Viva Altermundialista….

Oya, simak juga anthem anti-WTO yang dinyanyikan pada protes lima hari ini

Sold Down the River
A song by Jack Chernos

The President signed the GATT treaty into law
Fast-tracked through Congress with only hours of debate
We’ve ceded our authority in the blink of an eye
To a group of corporations that have purchased the right

They call it ’free’ trade, I’ll tell you what that means
You can have your unions here, but the factory is overseas
Putting poisons in the water and paying pennies

We’re being sold down the river to the WTO
Sold down the river, sold down the river
Sold down the river to the WTO!

They’re meeting in Seattle to plan the next century
And we need to be there in the streets
When the size of corporations exceeds the finances of nations
The democratic process can not compete

They call it ’free’ trade, and I’ll tell you what that means
Your health and safety laws, democratically made
Can be challenged from abroad as barriers to foreign trade

We’re being sold down the river to the WTO
Sold down the river, sold down the river
Sold down the river to the WTO!

Battle In Seattle
Director: Stuart Townsend
Writer: Stuart Townsend
Stars: André Benjamin, Jennifer Carpenter, Isaach De Bankolé
Filem Rilis: 2008

GREEN ROOM, The Review



“Green Room” adalah bingkisan berisi semangat musik punk dari sutradara Jeremy Saulnier. Dan juga, ini adalah film yang menggambarkan brutalitas kaum skinhead (semua anggotanya berkepala plontos) yang selalu didentikkan dengan kebangkitan Nazi. Banyak orang menyebutnya sebagai “Neo-Nazi.”

Skinhead adalah sub-kultur yang pertama kali lahir di Inggris di era tahun 60-an. Terdiri dari kaum kelas menengah hingga atas, mereka adalah komunitas yang memiliki gaya hidup dan pemikiran tersendiri. Banyak beranggotakan para pekerja kasar, seringnya mereka dipandang berperangai keras. Tidak heran mereka kemudian sering diasosiakan dengan Nazi (padahal gak semua skinhead itu Nazi atau Nasionalis - red).

Jeremy Saulnier memakai pandangan masyarakat tersebut dalam “Green Room.” Ia juga menampilkan bagaimana perpaduan antara skinhead dengan Neo-Nazi menghasilkan kekerasan amat liar. Tentu di sini kita akan melihatnya dalam wujud sebuah hiburan.

Sub-kultur skinhead memang dekat dengan aliran musik punk. Namun tidak menutup kemungkinan para penganutnya memilih aliran musik yang lebih bervariasi. Untuk film ini, Saulnier menggunakan sebuah bandpunk sebagai media penuturannya. Terdengar cukup menarik sepertinya.

Band punk ini terdiri dari empat anggota, Pat (Anton Yelchin), Sam (Alia Shawkat), Reece (Joe Cole), dan sang vokalis Tiger (Callum Turner). Mereka mengadakan promo melalui sebuah radio lokal, yang kemudian menuntunnya ke sebuah klub. Bukan sebuah klub biasa, rupanya. Berlokasi di tengah hutan terpencil di kawasan Oregon.


Selepas menampilkan performa, Pat kembali ke green room untuk mengambil ponsel milik Sam. Gila! Pat melihat seorang gadis tewas dengan tikaman pisau di kepalanya. Berusaha lari untuk menelepon polisi, Pat berhasil dihentikan si tukang pukul. Masalah besar tengah menimpa para pemuda ini.

Mereka kemudian ditawan di dalam green room itu. Bersama dengan mayat si gadis dan teman wanitanya, Amber (Imogen Poots). Mereka tak bisa keluar begitu saja. Tukang pukul yang lebih besar dan garang, menghadang di depan pintu. Dia menjaga Pat dan lainnya untuk tidak membeberkan pada polisi. 

Sang pemilik klub, Darcy (Patrick Stewart), datang. Ia muncul dengan wajah penuh kemarahan dan kekhawatiran. Dia tak ingin polisi ikut campur urusan ini. Tentu ini mengindikasikan ada sesuatu yang besar di baliknya. Sesuatu yang jauh lebih besar dari sekedar pembunuhan seorang gadis.

Perlu diketahui sebelumnya jika Darcy adalah pemimpin dari Neo-Nazi. Diperankan dengan sangat mengagumkan oleh Patrick Stewart, ia jauh dari kesan akan peran-perannya selama ini. Kejam, berdarah dingin, dan mengintimidasi. Lagipula Patrick Stewart adalah aktor Inggris, pilihan tepat sebagai karakterskinhead.

“Green Room” cukup menjanjikan dalam menghadirkan adegan gore. Darah berceceran hingga daging terkoyak; semua yang Anda butuhkan sebagai penggilanya ada di sini. Tapi sayangnya, “Green Room” lewat naskah yang juga ditulis Saulnier kurang mampu dalam mempertahankan intensitas keseruan. Ada momen dimana terasa menegangkan, di lain justru berakhir mengendor.


Salah satu penyebabnya menurut saya adalah pada kurang totalitasnya adegan gore. Untuk yang jarang menontonnya, “Green Room” mungkin sudah lebih dari cukup membuat ngilu. Sebaliknya, Anda yang mengaku penggila pasti masih merasa kekurangan. Tidak seperti apa yang saya dengar, “Green Room” kurang sadis walau sudah berusaha keras tampil brutal.

Di luar konteksnya, saya ingin mengatakan bahwa “Green Room” menjadi salah satu film terakhir yang dibintangi oleh Anton Yelchin. Paling tidak sejauh ini yang telah dirilis; sebelum “Star Trek Beyond” yang juga rilis di tahun ini. 

Kematian Anton Yelchin memang cukup mengagetkan saya, mengingat “Green Room” banyak didengungkan akhir-akhir ini. Dia banyak bermain dalam film-film independent, sedikit yang pernah saya tonton adalah “Odd Thomas” (2013) dan “Burying The Ex” (2014). Rest in Peace! (Iza Anwar)


GREEN ROOM
Sutradara: Jeremy Saulneir
Penulis: Jeremy Saulneir
Aktor: Patrick Stewart, Imogen Poots, Alia Shawkat
Tanggal Rilis: 15 April 2016



20 COVER ARTWORK PALING "SAKIT"


Gue gak mau banyak jelasin tentang artikel ini. Yang jelas ini juga bagian dari sebuah karya atau kalo mau disebut lebih mulia lagi iya deh, ini semua adalah bagian dari karya seni. Walaupun gue sendiri gak ngerti karya seni yang baik tuh kaya gimana hehe. Gue cuma kagum sama apresiasi mereka dan konsep mereka menciptakan ini semua, menciptakan sesuatu yang gak banyak dipikirin orang hehe. (nulis apa sih nih gue?? hhe) ...

Diluar 20 gambar ini, mungkin ada lagi yang lebih sadis atau lebih sakit, tapi ya itu urusan kalian deh ah ... siapa tau setelah ini kalian mau koleksi gambar-gambar yang lebih "sakit" hehe ... Nyok ah nih 20 cover artwork paling sakit yang pernah gue liat


20. BIG MASO MOM
Band: Meat Knife
(appears on 4 Way Grind Split with New York Against The Belzebu, Depression, Intestinal Infection)
Released: 2003
Label: Noise Variation (Celle, Niedersachsen, Germany)
Format: CD


19. V/A RUSSIAN MANIAXXX
Band: Abnormal, Cryptic Vomit, Haemor Drench, Morrah
Released: September 03, 2004
Label: Pyrolagnia (Saint-Petersburg, Saint-Petersburg, Russian Federation)
Format: CD


18. MOLESTING THE DECAPITATED
Band: Devourment
Genre: Slamming / Brutal Death
Origin: Dallas, TX, United States
Released: July, 1999
Label: United Guttural (Atlanta, GA, United States)
Format: CD


17. ANALBLASTING RUBBERPLUG
Band: Scumfuck
Genre: Goregrind
Origin: Germany
Released: 2007
Label: Half-Life (East Los Angeles, CA, United States)
Format: CD


16. ALMOST HUMAN
Band: Cripple Bastards
Genre: Grindcore / Noisegrind
Origin: Asti, Piemonte, Italy
Released: 2001
Label: Obscene Production (Lázně Bohdaneč, Czech Republic )
Format: CD


15. AROMATICA GERMENEXCITACION EN ORGIAS DE VISCOSA Y AMARGA PUTREFACION

Band: Paracoccidioidomicosisproctitissarcomucosis
Genre: Goregrind / Noisegrind
Origin: San Juan del Rio, Queretaro, Mexico
Released: 2007
Label: American Line Prod. (Distrito Federal, Mexico)
Format: CD


14. HYMNS OF INDIGESTIBLE SUPPURATION
Band: Last Days Of Humanity
Genre: Goregrind
Origin: Noord-Brabant, Netherlands
Released: 2000
Label: Bones Brigade (Hesdin, Nord-Pas-de-Calais, France)
Format: CD


13. SCAT AFICIONADOS
Band: Stoma
Genre: Goregrind
Origin: Herenveen, Netherlands
Released: 2005
Label: Bizarre Leprous (Lanškroun, Pardubický kraj, Czech Republic)
Format: CD


12. LYMPHAENECTOMY FOR CARCINOMA OF THE ESOPHAGUS AND GASTROESOPHAGEAL JUNCTION
Band: Hipermenorrea
Genre: Goregrind
Origin: Michoacán, Mexico
Released: October, 2007
Label: Alarma (Ciudad de México, Distrito Federal, Mexico)
Format: CD


11. BEASTIAL NECROPHILIA
Band: Cresspool Of Vermin
Genre: Brutal Deathgrind
Origin: Gastonia, NC, United States
Released: November 20, 2008
Label: Sevared (Rochester, NY, United States)
Format: CD


10. EROTIC DIARRHEA FANTASY
Band: Torsofuck
Genre: Slamming/Brutal Death
Origin: Harjavalta, Satakunta, Finland
Released: April 30, 2004
Label: Goregiastic (Elmhurst, NY, United States)
Format: CD


9. PUTRESCENT CLITORAL FERMENTATION
Band: Vulvectomy
Genre: Brutal Death
Origin: Bari, Puglia, Italy
Released: December 27, 2007
Label: Amputated Vein (Osaka, Japan)
Format: CD


8. BLOODY FACE
Band: Hybrid Viscery
Genre: Grindcore
Origin: Gozée, Hainaut, Belgium
Released: 2001, 2003 (repress)
Label: Coyote Recs. (Moscow, Russia)
Format: CD


7. S.P.L.A.T.T.E.R.

Band: Flesh Grinder
Genre: Deathgrind
Origin: Gozée, Hainaut, Belgium
Released: March 1999
Label: Lofty Storm. (Florianopolis, Brazil)
Format: CD


6. TE LO PARTY GORE
Band: Cirugia Macabra
Genre: Brutal Death / Goregrind
Origin: Chile
Released: 2007
Label: Hellrecords (Chile)
Format: CD


5. REAL SHITISFACTION
Band: Letrina
Genre: Goregrind
Origin: El Savador
Released: September 5, 2009
Label: -
Format: Digital File


4. COPROMO
Band: Moñigo
Genre: Goregrind
Origin: Madrid, Comunidad de Madrid, Spain
Released: January 01, 2006
Label: -
Format: Digital File


3. FILTH
Band: Waco Jesus
Genre: Brutal Death
Origin: Chicago, IL, United States
Released: 2003
Label: Morbid Records (Cottbus, Brandenburg, Germany)
Format: CD


2. DIARREIA BRUTAL

Band: Furúnculo Anal / God Pussy
Genre: Goregrind
Origin: Brazil
Released: 2009
Label: -
Format: Digital File

1. FILTH
Band: Waco Jesus
Genre: Brutal Death
Origin: Chicago, IL, United States
Released: 1999
Label: United Guttural (Atlanta, GA, United States)
Format: CD

Ditulis oleh: Agum, tukang cupang aduan depan MI Assuada, Kampung Bero, Depok

 
Bagikan